Minggu, 30 Agustus 2015

Merindukanmu

Kamu tau sesuatu mas? Merindukanmu adalah sesuatu yang rumit untukku.
Merindukanmu bukan hal mudah untukku.

Sekelumit rindu yang muncul bisa membawa air mataku turun. Memaksaku untuk bersujud, melepaskan semuanya pada Sang Pencipta.

Adakalanya aku letih dengan rasa ini. Cuma dengan berdoa aku melepas rasa rindu ini. Berharap Tuhan akan menyampaikan rasa ini padamu. Maaf ya aku lancang sekali.....
Tapi sungguh, aku rindu.

Kadang aku pura-pura tertawa riang dengan lelucon orang, kau tau kenyataannya aku merindukan lelucon yang keluar dari mulutmu. Merindukan ekspresi konyolmu saat merapikan poni rambut. Merindukan tatapan halusmu yang selalu rumit dan sulit kumengerti. Merindukan wajahmu yang memerah. kamu tau mas, kamu selalu terlihat tampan meski belum mandi, Hehe

Aaah entahlah. Ikuti saja kemana takdir akan membawa. Toh bertemu denganmu itu takdir. Meski menjadi temanmu adalah pilihanku, namun jatuh hati padamu benar-benar diluar kendaliku.
*gue berubah jadi romantis mendadak kayane -,-

Jumat, 28 Agustus 2015

Scared

If your dreams don't scare you, it means they're not big enough.
Sekejap kata-kata itu membuat bulu kunduk merinding. Kalo boleh saya bilang, almost everyone's scared about future. Because none of us know about it. Masa depan itu hak prerogatif Allah.

Kalo dipikir, sebenarnya kita ga perlu takut menghadapi masa depan. Buat apa takut? Sedikit mengutip kata penulis kondang Tereliye, toh daun yang jatuh tertimpa angin pun sudah digariskan takdirnya. Sudah ditentukan nasibnya oleh Sang Pengatur Alam Semesta. Buat apa takut?

Kita ga perlu takut bermimpi sebesar dan setinggi apapun asal masih dalam koridor yang dibenarkan agama. Kita boleh bermimpi, berjuang mewujudkannya, kemudian berserah diri dan berharap Tuhan akan mengabulkannya. Selama kita hanya berharap  pada Allah, yakinlah bahwa Dia tak akan mengecewakan kita. Kalaupun ternyata selama ini harapan-harapan baik kita belum di ijabah, mungkin itu soal waktu saja. Atau mungkin Allah ingin mengganti harapan kita dengan sesuatu yang lebih indah asalkan kita tetap berdoa dan bersabar.

Jujur saja, tulisan ini saya buat untuk menyemangati diri saya sendiri. Hahahaha. This note reflect my emotion for sure.  Doakan saja saya konsisten untuk terus memperbaiki diri, berjuang untuk mas depan yang cerah. Berjuang buat menggapai apa yang saya inginkan.

Kalopun akhirnya nanti saya ga bisa menggapai cita-cita saya, itu berarti garis ketentuanNya. Sedih sih, tapi harus ikhlas kan? Semoga kelak diganti dengan surga firdausNya. Manusia kan endingnya juga mati. Cara kita memlilih ending itu lah yang terpenting. Jadi orang jahat atau baik itu kan pilihan kita. Mau mati khusnul khotimah atau tidak itu kan juga pilihan.

Udah ah. Semangat (n_n)9

Kamis, 27 Agustus 2015

Selamat Memperbaiki Diri

Mengapa saya berubah?
Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sekuat tenaga coba saya jawab. Bayangkan, saya yang tadinya males ke dapur mendadak jadi rajin. Tadinya ga tau cara masak oseng-oseng akhirnya bisa, malah saya juga tau cara bikin lele bakar balado. Tadinya males ngerawat diri sendiri, akhir-akhir ini malah jadi rajin perawatan badan. Tadinya males-malesan belajar, tiba-tiba sekarang semangat baca buku kieso yang tebelnya bisa buat nggebuk maling.

Well, jujur saja awalnya saya ngelakuin itu karena saya jatuh hati sama seorang laki-laki. Dia laki-laki yang sangat baik, pintar, dan ramah. Belum lagi secara fisik laki-laki ini hampir sempurna. Entah saya bilang gitu karena saya suka dia atau karena ganteng beneran saya juga gatau ding. hehe.

Saya pernah baca bahwa jodoh itu sederajat atau istilahnya se'kufu'. Dalam Al Qur'an sendiri telah dijelaskan dengan gamblang bahwa laki-laki yang baik adalah untuk perempuan yang baik pula. Maka saya pun bertekad untuk berusaha keras mengimbanginya. 

Itu dulu.
Sekarang saya sadar, bahwa perbaikan yang sedang saya lakukan akan sia-sia jika hanya saya niatkan untuk mengimbanginya. Saya sadar bahwa hal-hal bermanfaat tersebut akan lebih baik lagi saya niatkan untuk Allah. Selain saya bisa jadi lebih baik, saya juga dapet pahala.

Terakhir saya pengen bilang, selamat memperbaiki diri. Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin, bukan? :)

Minggu, 16 Agustus 2015

Aku Memintamu untuk Berhenti......

Tulisan ini di dedikasikan untuk seseorang yang istimewa. Mungkin dia tak tau soal tulisan ini. Tapi biarlah, suatu saat dia pasti akan membacanya.

Aku meminta mu untuk berhenti memikirkan hal-hal yang menyedihkan. Karena hidup ini ga semenyedihkan yang kamu lihat.
Aku ga akan membandingkan hidupku dengan hidupmu. Karena hidup yang pernah kita alami tentu saja berbeda. Aku tak tau sekeras apa dan semenyedihkan apa hidupmu dulu. Tapi apapun itu, kita harus punya harapan dan cita-cita. Kita masih punya harapan untuk melunakkan masa depan.

Aku memintamu untuk berhenti memikirkan hal-hal yang menyedihkan. Meski lebih mudah untuk dikatakan daripada dijalankan, aku setuju sama kata-kata bang tere liye. Bahwa kita harus ikhlas, membiakan semuanya mengalir, membiarkan semuanya berjalan sesuai takdir. Seperti daun yang jatuh tertiup angin. Penerimaan yang tulus terkadang sangat menyakitkan.

Aku memintamu untuk berhenti memikirkan hal-hal yang menyedihkan. Meskipun Tuhan telah menetapkan Qada dan QadarNya, manusia masih diberi untuk menentukan nasibnya sendiri. Entah lewat usaha yang keras, atau lewat doa yang dipanjatkan sepanjang malam dengan air mata.

Aku memintamu untuk berhenti memikirkan hal hal yang menyedihkan. Mengapa tidak memasukkan saja semua pikiran bahagia ke dalam memorimu sehingga tercerabut semua pikiran burukmu.

Sekali lagi, aku hanya memintamu untuk berhenti memikirkan hal-hal yang menyedihkan. Karena hidupmu sebenarnya lebih bahagia daripada yang kau pikirkan. Jangan membuat orang-orang di sekitarmu sedih dengan pikiranmu tentang kesedihan, perpisahan, dan sejenisnya.
Kau tau? Aku selalu sedih saat kau mengatakan hal-hal mengerikan dan menyedihkan yang ada di pikiranmu. Because you shouldn't be like that.

I ask you to stop thinking the sadness thing you've ever had. I see no use in it.

Aku tak pernah memintamu untuk melakukan hal-hal romantis. Aku tak pernah memintamu untuk menjadi apa yang kuinginkan dan siapa yang kuinginkan. Because you're all that i want.
Tapi aku sungguh meminta satu hal darimu. Berhentilah memikirkan hal-hal yang menyedihkan.

Aku memintamu untuk berhenti memikirkan hal-hal yang menyedihkan. Itu akan membunuhku perlahan. Karena aku hidup dari optimisme dan pikiran bahagia yang kubangun dengan susah payah.
Tolong. Kalau kamu tak ingin melakukannya untuk kebaikanmu sendiri, maka lakukan itu untukku.
Aku akan sangat bahagia jika kamu bisa mengerti. Terima kasih.

Jumat, 14 Agustus 2015

Tekanan

Sore ini saya pengen bahas soal bagaimana sebenarnya sebuah tekanan bisa memicu kita meraih prestasi. Tekanan memang bukan dorongan yang baik. 
Bisa dibilang saya sejak kecil terbentuk oleh tekanan.
Ketika saya masih SD dulu, saya lumayan tertekan oleh aturan orang tua yang mewajibkan saya memakai jilbab ketika keluar rumah. Saat itu, teman-teman saya sibuk memakai bando dan ikat rambut boneka yang lucu-lucu. Sebagai satu-satunya siswi yang berjilbab di kelas, bohong rasanya kalo saya ga ngiri dengan kondisi itu. Saya punya bando atau ikat rambut boneka. Saya punya. Malah koleksi saya lebih bagus dari teman-teman saya. Tapi saya hanya bisa memakainya di dalam rumah, tidak bisa memamerkannya ke orang lain.
Tekanan juga datang dari teman-teman yang jahil bertanya, "yak, rambutmu panjangnya seberapa?"
atau pertanyaan "yak, kenapa sih kamu pake jilbab terus kalo keluar rumah?"

Itu tekanan pertama. Tekanan kedua adalah saya selalu ngerasa iri dan berbeda saat temen-temen saya cerita soal macam-macam sinetron dan lagu yang hits di TV saat itu. Orang tua saya 'mengharamkan' TV. Jadilah saya hanya bisa bengong saat topik pembicaraan yang ada di kelas adalah TV. Tanpa TV, saya tidak berarti kuper dan kudet. Saya justru tumbuh lebih dewasa dan mengerti kondisi sosial, ekonomi, bahkan kesehatan lebih baik dari anak seusia saya waktu itu. 
Sejak SD bahkan saya sudah membaca majalah-majalah 'dewasa' seperti Ummi, Ayah-Bunda, Risalah Mujahidin, Sabili, Swara Qur'an, dan sejenisnya.

Saya ingat betul, ketika kelas 4 SD, saya bertengkar dengan teman laki-laki namanya Hadi. Ketika guru datang, saya langsung mengadukan Hadi dengan berteriak-teriak bahwa Hadi melanggar emansipasi wanita, Hadi tidak menghargai wanita, dan sejenisnya. Padahal pertengkaran itu hanya dipicu karena Hadi tidak mau mengalah saat rebutan bangku tempat duduk. 

Kelas 4 SD, saya sering protes saat guru saya menjelaskan bab yang sama berulang kali. Saya sering protes, "Ini kan sudah kemarin pak." Guru saya dengan luar biasanya tetap tersenyum dan bilang, "Kalo semua murid langsung paham seperti Mutia yaa penak."

Beranjak kelas 5 SD, saya sudah berani berdebat pada guru saya yang kebetulan beda agama. Saya mulai tau tentang gerakan politik mahasiswa bernama KAMMI. Saya juga mulai membaca tentang perjuangan para muslimah berjilbab di tahun 2000an, Bukan hanya itu, bab kekerasan di institusi pendidikan IPDN juga saya baca. Eits, secara tak sengaja, pada masa ini saya juga tahu tanda-tanda orang hamil, termasuk saya juga membaca soal virus toxo yang menyerang ibu hamil, kemudian saya juga membaca soal hamil di luar kandungan, dsb. Meski saat itu saya ga terlalu paham pada istilah-istilah tertentu.

Saat kelas 6 SD, ranah bacaan saya meluas. Saya asik saja meminjam majalah berbahasa jawa Djoko Lodhang langganan guru saya. Beberapa kali saya ditertawakan karena menanyakan istilah-istilah jawa yang saya ga tau. Meski begitu, saya gagal mengenali bentuk wayang selain gatotkaca dan punakawan, aksara jawa saya hancur, dan nilai bahasa jawa yang tak beranjak dari angka tujuh.

Seperti saya bilang tadi, meski saya tertekan karena ga punya TV, pake jilbab sendirian, tapi tekanan itu mampu mengubah saya menjadi anak SD yang lebih dewasa. Saya selalu menang debat dengan teman-teman SD saya. Saya menjadi anak yang percaya diri. Saya berhasil menyumbangkan dua piala di atas lemari kepala sekolah. Saya terkenal. 
Mungkin cerita di atas lebay ya? Tapi boleh kok kalo kalian mau ngecek ke guru-guru dan teman-teman saya dulu. 
Hingga saya kuliah pun, guru-guru SD masih mengenali saya. "Aduh mutia, udah gede. Kuliah dimana kamu sekarang?", "Waa mutia tambah cantik ya?", "Mutia udah  perawan nih, udah gadis"
dan semacamnya. 

Oke, ini tulisan tanpa tema. Maaf ya kalo ga nyambung. Ini memang curhatan dan rada bernuansa nostalgia. haha. 

Jumat, 07 Agustus 2015

Cemburu

Jealous?
Have you felt jealous?
If you give that question to me, i'll say yes. I've known how hard  face that kind of  feeling is.

Cemburu itu rasa yang wajar dialami oleh setiap orang. Ga cuma orang dewasa. Balita pun bahkan bisa cemburu dengan caranya sendiri. Kalo kamu adalah anak pertama yang punya adek kecil. Ku kira kamu tau rasanya kan? Gimana kamu sangat cemburu pas adekmu di gendong ayah. Sedangkan ayah ga sudi menggendongmu dengan alasan, "Kakak udah gede, malu dong kalo masih minta digendong."

Cemburu itu saat temenmu lebih pinter, rangking satu terus di kelas, jadi primadona para guru. Sedangkan kita? Harus bikin masalah dulu biar diperhatiin guru.

Cemburu itu pas kamu deket sama cowok, terus cowok itu nolongin cewek lain. Belum lagi kalo misal cewek itu malah keGRan dan berusaha ikut mendekati cowok itu. Rasanya pengen banget nyakar cewek kayak gitu.

Guys, pernah mikir ga kalo Allah mungkin saja cemburu dengan kita. Saat Adzan berkumandang, bukannya kita sholat tapi malah nge Game atau malah sibuk mainan gadget. Pernah mikirin tentang hal itu? Betapa kita kadang terlalu jahat sama Allah yang Maha Baik. Allah udah ngasih limpahan karuniaNya pada kita tapi sering banget ga kita syukuri, Maafkan kami ya Rabb.

Sabtu, 01 Agustus 2015

Kebahagiaan

Actually i don't have any idea why i open my blog this morning. Tapi karena udah terlanjur buka, sayang kan kalo g nulis apapun.
Well kali ini saya bakal nulis tentang kebahagiaan. Tema ini saya comot sekenanya sesuai apa yang ada di otak saya sekarang.
Menurut saya, kebahagiaan yang dialami umat manusia itu ada beberapa jenis:

 1. Pura-pura bahagia
 Pura-pura bahagia adalah level terendah dari bahagia. Hal ini tidak pernah diinginkan oleh siapapun. Tapi kadang pura-pura bahagia harus dijalani untuk menutupi luka hati. cie.
Kalo kamu lagi di level ini, i suggest you to eat more karbohidrat and protein. Karena pura-pura bahagia itu butuh energi banyak. Bahkan saat di level ini, untuk tersenyum pun susah. Karena tiap kamu nyoba tersenyum, kamu seperti menusukkan belati ke dalam hati. Oke ini alay.

2. Kebahagiaan semu
Kebahagiaan ini saya artikan sebagai kebahagiaan sementara, yang sebenarnya juga palsu, dan sesaat. Contoh, besok saya ada UAS, tapi hari itu saya dipinjemin novel yang udah lama diidam-idamkan. Sesaat kadang  ada trade-off yang rumit dalam kepala. Pilihannya dua, belajar dulu atau baca novel?
Seringkali saya berusaha bersikap rasional untuk memilih belajar dulu, tapi otak saya menghianati kerasionalannya sendiri. Sehingga saat belajar saya malah bolak-balik ngelirik novel. Ga konsen.
Ketika saya putuskan untuk baca novel, saya sangat bahagia. Tapi cuma sementara. Lha pas UAS saya mengalami penyesalan seumur jagung :D


3. Bahagia
Saya pernah baca di tulisan kakak sepupu saya, bahwa Happiness isn't a destination. It's a journey. Yaa saya setuju sih. Kebahagiaan itu kita ciptakan sendiri saat menjalani hidup. It's depend on how we take the point of view. Heleh ~
Kalo kita ga punya duit misal, kita tetep bisa bahagia kok asal positive thinking. Anggep aja ketika kita ga punya duit itu berarti kita lagi suruh ngirit sama Allah atau bisa juga ketika kita ga punya duit itu berarti timing yang tepat buat diet :D

4. Kebahagiaan sejati
Lalu apa kebahagiaan sejati itu? Apa ketika kita nemu jodoh itu termasuk kebahagiaan sejati? Noo, it's just a little part of it. Kebahagiaan sejati bagi seorang muslim adalah ketika berhasil menginjakkan kaki di surgaNya.

Anyway, apa kabar hari ini? Kamu mengalami jenis bahagia yang mana? :D

Featured post

Indonesia Tidak Ramah Lingkungan?

Well, aku nggak mau nambahin berita buruk. Aku cuma mau cerita soal kenyataan. Tentang negeri besar yang dulu berjuluk negeri agraris, neger...