Selasa, 15 Agustus 2017

Penipuan Menggunakan Kode OTP Mandiri E Cash

Kejadian ini saya alami kemarin hari Jum'at tanggal 11 Agustus 2017, well udh sekitar 4 hari lalu sih, tapi baru sempet nulis sekarang. Better late than never uh? :D


Jadi ceritanya gini, kemarin saya jual HP evercoss di OLX (http://olx.co.id/iklan/dijual-evercoss-a54-haier-max-IDojB2T.html#1c81e8cf31). Belum ada sehari iklan dipasang, ada orang yang nawar. Dia ngaku dari Tangerang a.n Fikri Wijaya. Dia ngga nawar sama sekali, tapi minta ongkirnya kita yang nanggung. Okedeh, boleh. saya kirim nomor rekeningnya. sambil nunggu transferan masuk, kita pack tuh HPnya. Abis itu dia ngirim bukti transfer.





Sebenernya pas ngeliat struknya saya ngerasa agak ganjil, di struk pengirimnya dari PT Bina Mandiri, padahal dia ngaku bernama Fikri Wijaya.  Tapi selanjutnya saya maklum. Oh okelah mungkin dia kerja disitu.

Next question is OTP. apaan tuh? sebagai orang yang hampir ga pernah jual beli online saya ga paham istilah OTP. karena gengsi mau nanya, saya searching dulu. Ternyata OTP adalah One Time Password. OTP ini sebagai pengaman transaksi online. OTP merupakan fasilitas dari Mandiri E Cash. Singkat cerita saya bilang kalo saya ga pernah transaksi pake OTP. 




Sampai sini saya ngerasa agak aneh. Kalo kode OTP itu pengaman, harusnya pas belum dimasukin kode OTP, transaksi belum ke record dan uangnya belum berkurang. Tapi karena saya belum pernah pakai transaksi model begini, saya mencoba husnudzon.




Iyadeh serah apa kata lo. Ntar gue coba -,-

 

Lah? kepo banget sama saldo saya, sampai minta difotoin segala. Disini keanehan mulai kerasa. Gimana caranya ada uang tiba-tiba masuk, kalo masukin kode OTP aja belum?Okedeh saya turutin. Toh duit saya di ATM tinggal 200 ribu :P




Harus bahasa inggris ya? Bukannya saya ga bisa bahasa inggris, tapi disitu ada kata "top up". sepemahaman saya, kok malah saya jd nge top up akunnya dia? Akhirnya saya minta panduan yang bahasa indonesia aja biar jelas.



Loh? Bank Mandiri itu kan BUMN punya Indonesia, ga mungkin dong dia bikin produk tanpa penjelasan versi Indonesianya? Akhirnya saya tanya deh. Itu panduannya searching dimana? Saya googling ga nemu panduan yang kayak gitu tuh. Saya juga udah buka webnya Bank Mandiri ga ada model panduan kayak gitu.





kok ngotot sih kak? -,-
Mana abis itu dia terus-terusan wasap. Akhirnya karena saya masih jenguk sodara di RS, tak wasap deh jelasin posisi saya.


Heleh, emang ngga lama. Tapi saya sengaja ngulur waktu juga. Jangan-jangan ini usaha dia bikin saya panik. Akhirnya abis magrib mau isya saya ke ATM. waktu saya ngikutin petunjuk dia, ada konfirmasi, intinya, " are you sure mau nge top up akun atas nama Jupri?"
Hah? Jupri? Bukannya td namanya Fikri Wijaya? Wait, Top Up? Kan Harusnya gue yang dapet duit? Loh? harga HPnya kan cm 200ribu kok dia nyuruh aku nulis 220652? Transaksi pun saya cancel dan saya keluar ATM sambil marah-marah sama adek. Bukan marahin adek saya sih, tapi curhat ke adek saya sambil marah-marah. Trus saya disamperin mbak-mbak pake baju biru dongker.

"Mbaknya mau transaksi OTP? Jangan mbak, itu pasti penipuan. Saya udah pernah ketipu sekali."

Alhamdulillah, ada orang baik yang akhirnya memperjelas dugaan-0dugaan dan kecurigaan saya. Uang 200 ribu pun selamat. Syukurlah. Lumayan buat beli Martabak :D

Yang saya pelajari adalah, pelaku memanfaatkan perasaan kita dengan sengaja bikin panik seolah-olah dia takut kehilangan uang 200 ribu karena udah terlanjur transfer ke kita. Bolak-balik nelfon. Berisik banget pokoknya. Bahkan dia juga nyebut nyebut nama Tuhan. Ealah, kok ngga sopan banget menyandingkan nama Tuhan dengan penipuan.

Finally, jadilah orang yang selalu skeptis. Skeptis itu percaya tapi ga sekedar percaya. Harus ada buktinya dulu. Jadi orang yang skpetis dan banyak nanya itu ngga rugi kok, selama yang ditanyakan itu penting. Asal jangan kebanyakan nanya cuma karena pengen show off seolah-olah kita kritis. Nanti kaya bani Israil susah lhoh.

Jumat, 04 Agustus 2017

Investasi Dana Haji

Mungkin saya agak telat buat beropini soal dana haji, tapi gapapalah, suka-suka saya, ini juga blog saya kok. bebas, asal ngga ngatain orang sembarangan.

Recently publik dikejutkan dengan berita soal penggunaan dana haji untuk investasi. Kabarnya dana haji yang  jumlahnya mencapai kurang lebih 90 sekian trilyun  dan segera akan meningkat menjadi 100 sekian trilyun tahun ini, sekitar 80%nya akan diinvestasikan ke sektor infrastruktur. Kontan banyak pro kontra yang muncul.

Buat saya, investasi dana haji bukan kata yang asing. Sejak dulu SMK saya udah mikir, misalnya satu orang calon haji wajib melunasi 25 juta untuk pendaftaran, kemudian dikalikan dengan 200 ribu pendaftar haji pertahun, dan dikalikan 10 tahun waktu menunggu antrian berangkat haji, maka jumlah dana yang 'mandek' akan sangat banyak. 25.000.000 x 200.000x10= 50.000.000.000 (50 T) Kalo misal disimpan di Bank dengan bunga 1% bunganya setahun sudah Rp 500 juta. Disimpan sepuluh tahun? Itung aja sendiri.

Kalo uang segitu banyaknya cuma mandeg, ga dipakai apa-apa buat saya eman-eman banget. Jadi saya setuju-setuju aja dana haji digunakan untuk investasi, hanya saja kalo 80% itu kebanyakan.

Buat saya, sebelum pemerintah memutuskan untuk berinvestasi dengan dana haji, harus ada beberapa hal yang dilakukan:
1. Analisis macam-macam sektor investasi, pilih sektor investasi yang sekiranya aman dengan return yang setimpal. (note: SETIMPAL yaa, bukan besar.  high risk high return and vice versa. ga ada investasi yang aman dan returnnya besar. kalo mau return besar yaa risikonya juga besar. jangan ngimpi -,-)
Kalo mau milih sektor infrastruktur pun perlu dikaji, berapa lama returnnya akan kembali? Jangan-jangan balik modalnya masih 20 tahun lagi. Ntar yang mau berangkt haji ga jadi haji gara-gara harus nunggu returnnya.

2. Jumlah dana haji yang diinvestasikan harus dihitung dulu untuk menjamin bahwa investasi dana haji tidak akan mengganggu pelaksanaan dana haji.

3. Perbaiki pengelolaan pelaksanaan haji. Jamin mereka dapat fasilitas yang sesuai dengan uang yang dibayarkannya.

4. Ketika pelaksanaan haji dirasa sudah tak ada masalah yang cukup berarti, maka berikan edukasi pada masyarakat yang akan haji mengenai investasi dana haji.

5. laporkan perkembangan investasi dan pengelolaan dana haji dengan transparan kepada setiap jama'ah haji. Kalo perlu dipajang di semua media cetak (koran) nasional, cantumkan link laporan di  web kemenag. Jangan lupa sertakan opini auditor dari BPK agar masyarakat merasa aman menitipkan dananya di pemerintah.

Mungkin prosesnya butuh waktu yang tidak sebentar. Apalagi harus menimbang-nimbang investasi mana yang sesuai syariat islam dan sesuai dengan UU atau peraturan yang ada. Tapi kalo hal tersebut berhasil, tentunya akan ada sinergi yang bagus antara pemerintah dan masyarakat dalam pembangunan Indonesia. Cuma sayangnya hal-hal seperti ini biasanya digoreng sama politisi. Dibumbu-bumbui hasutan ini itu. Padahal Malaysia udahsukses investasi pakai dana haji untuk membangun rumah sakit mereka di Makkah dan Madinah kemudian Pusat Kesehatan di Arafah dan Mina. Keuantungannya kan balik ke masyarakat sendiri.

atau sebenernya bisa di model gini, saat daftar haji masyarakat diminta untuk memilih akad yang ingin mereka gunakan. mau pilih wadiah yad amanah atau wadiah yad dhamanah?

Saya sejak awal menegaskan diri kalo saya bukan pendukung pak Jokowi. Bahkan saya juga kadang kontra dengan kebijakan beliau. Namun, kalo ada kebijakan beliau yang bisa diambil positifnya kenapa ngga saya dukung? Toh saya kalo ngatur negara juga belum tentu bisa.

Jumat, 30 Juni 2017

What's next?

Saya bisa bilang kalo malem ini semacam muhasabah buat saya. Anggaplah sekarang udah pertengahan tahun 2017. As always, di momen-momen muhasabah saya selalu tanya ke diri sendiri, "udah dapet apa kamu selama ini?"

Pertengahan tahun pertama di 2017 ini nano nano banget. diawali deg-degan tiap ada teman yang ujian skripsi. turut senang, cemas, dan kadang panik. Paniknya itu sebenernya simpel, dipicu sama pertanyaan sederhana, "gue kapan sidang skripsi?" :D

Alhamdulillah Allah maha baik. Tepat tanggal 23 februari 2017 jam 8 pagi saya menjalani sidang skripsi. Sempat terlintas di pikiran, "apa gue bisa menjalani sidang skripsi ini?" Bagi seorang motivator, mungkin kalimat tersebut dilarang, dianggap membawa dampak negatif, dan lain sebagainya. tapi buat saya, kalimat itu punya power yang menguatkan saat skripsi daya diadul-adul, dikritik, dan direvisi oleh ketiga dosen termasuk pembimbing saya. Saya udah siap secara mental untuk nerima revisi. Gak terlalu down lah yaa dibanding kalo kita ngerasa punya kita udah perfect ternyata malah direvisi matimatian haha..

Abis sidang tantangannya ternyata lebih luarbiasa. Struggling buat nungguin dosen, bolak balik revisi, dan teguh hati untuk nyari syarat daftar yudisium. Disitu saya banyak belajar soal istiqomah, how to never give up, sama efisiensi waktu.

Lucunya, setelah yudisium, dinyatakan udah bisa pake gelar akademik secara resmi malah bingung.
Bingung mau kerja dimana, jadi apa, intinya "what's next?" njuk galau.

Pas wisuda rasanya bangga sekaligus hampa. Bangga udah bisa bertanggungjawab sama amanah orang tua untuk kuliah, tapi hampa karena dirundung kegelisahan mikir apa yang akan dilakukan selanjutnya.

well, tulisan ini tanpa kesimpulan. lagi pusing aja mikir, "what's next?" haha
Idealisme pengen ini itu sih banyak. tetapi, Sometimes life isn't as simple as you think. struggling outta here is getting hard than just studying in college.

whtvr, i can't give up... mangatsss

Featured post

Khitan/ Sunat Anak di Subang

Halo semua, selamat tahun baru 2026 ya! Tahun 2025 adalah tahun yang lumayan dar der dor buat aku. Banyak pengalaman yang mendewasakanku ter...