Sabtu, 16 Oktober 2021

MPASI oh MPASI

MPASI ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Kupikir dulu kalo bayi mau makan ya tinggal kasih makan aja. Ada bubur instan bayi berbagai merek, ada banyak buah-buahan halus yang tinggal dikerok terus disuapkan, kalo mau kasih makan nasi sama sayur juga tinggal dimasukin ke blender. Intinya gampang lah. Aku nggak mau mikir sulit. Nggak tertarik belajar MPASI. Sejak hamil yang kupikir kan cuma gimana cara melahirkan yang mudah dan nggak sakit. 

Sebenarnya aku juga gak plonga plongo banget soal MPASI, aku pernah baca sekilas di akun akun kesehatan yang muncul di explore instagram. Kurang lebih aku tau lah menu empat bintang, istilah prona, prohe, LT, terus produk-produk kayak unsalted butter, EVOO, VCO, keju belcube dsb. Tapi ya sekedar tau. Mau baca secara mendalam males. Ribet. Agak meremehkan gitu. Seperti biasa, kebiasaan menyepelekan hal detil muncul. Duh Gusti. 

Anakku tepat berusia 6 bulan ketika momen mudik lebaran. Kebetulan baru jatah untuk berada di rumah mertua. Aku mau numpang masak ngolah MPASI segala macam nggak enak dong. Takut nanti diketawain karena pada dasarnya aku nggak bisa masak. Takut salah pake alat-alat masak. Takut berantakin dapur ntar runyam lagi. Intinya banyak ketakutan lah. I know maybe its only in my mind. Tapi ketakutan itu bergabung dengan kemalasan, jadilah takluk aku dibuatnya. Aku juga dipengaruhi sama salah satu video yang dibuat dokter anak di youtube. Dokter itu bilang, bahwa sebaiknya anak dikasih makanan bubur MPASI instan sebagai selingan bubur MPASI homemade untuk memastikan nutrisinya cukup. Karena menurut beliau, bubur MPASI instan telah memiliki gizi yang seimbang dan pas takarannya untuk bayi. Aku menyimpulkan sendiri, aaah berarti bayi dikasih bubur instan terus gapapa dong, malah gizinya akan sangat terpenuhi. Haha konyil. 

Akhirnya aku ke minimarket warna biru yang ada dimana-mana terus beli segala macam varian rasa dari bubur instan merek tertentu. Aku juga beli macam-macam biskuit bayi dari mulai model marie sampai biskuit rusk. 

Hari pertama MPASI aku bikin bubur dengan porsi dan takaran air sesuai petunjuk kemasan bubur. Anakku nggak mau. Dia malah sibuk penasaran dengan sendok dan mangkoknya. Well kalo aku evaluasi, ini sih terlalu encer. Porsinya juga terlalu banyak. 

Hari kedua aku membuat bubur dengan takaran suka-suka. Kekentalan bubur aku pas kan sesuai versiku. Ta daa anakku mulai mau makan meskipun belum banyak.  Hari berlalu dengan cepat. Mudik sudah selesai dan aku balik ke perantauan. Baru pas sampai di perantauan aku mikir. "Ini anak aku kasih makanan instan terus apakah sehat?" Aku juga terngiang ngiang diskusi dengan kakak sepupu di jogja. Tekstur MPASI itu penting. Anak yang tekstur MPASInya terlalu lembut dan tidak sesuai dengan usia akan mengakibatkan speech delay (keterlambatan bicara). Aku agak cemas sejujurnya kalo inget diskusi itu. Bubur bayi kan teksturnya gitu-gitu aja. 

Sebuah tekad muncul di benak. Aku harus berubah jadi lebih rajin dan perhatian terhadap MPASI. Aku akan masakin anakku MPASI homemade. Aku mulai dari baca resep- resep MPASI di sosmed. Besoknya aku praktekin tuh bikin salah satu resep. Aku pisahin beras dua sendok, bawang merah, bawang putih, wortel, telur, sama VCO buat LT. Aku ikutin langkah-langkah di resep dan voilaaa...... Anakku nggak doyan. Dimakan beberapa suap doang. Aku icipin dong, rasanya hambar gak enak dan gak karuan karena emang nggak pake garam dan gula sama sekali. 

Well aku belajar lagi. Ada salah satu dokter di sosmed bilang, "MPASI itu kan miniatur makanan orang dewasa buat bayi. Nggak usah ribet." Aku kayak dapet angin segar. Esoknya aku buat bubur nasi terus kasih sayur dan lauk yang ada di rumah terus disaring disesuaikan sama tahapan tekstur bayi seusia anakku. Weh anakku mau makan lahap. Kadang-kadang makanan yang kusiapkan bener-bener habis. Aku senang dan semakin mantep sama pendapat dokter itu. 

Masalah baru muncul saat aku kembali sibuk belajar MPASI. Soal kadar garam dan gula yang bisa dikonsumsi bayi. Aku nemu artikel yang bilang kalo konsumsi garam dan gula pada bayi dibawah usia satu tahun tidak diperbolehkan karena kebutuhan garam dan gula bayi dapat dipenuhi dari buah dan sayuran. Aku selama ini beranggapan bahwa konsumsi gula dan garam untuk bayi di izinkan asal tidak sebanyak orang dewasa. Nah loh bertabrakan. Ini bikin dilema banget. Kalo gak pake garem kan hambar, anakku gak doyan. 

Jadilah aku nyari opini lain. Termasuk ngeliatin ingredients dari bubur instan. Ternyata di bubur instan ada komposisi gula sama garam meskipun cuma dikit. Well aku memilih untuk tetap menggunakan gula dan garam akhirnya. Daripada anakku nggak makan.

Di bulan ke sembilan, berat badan anakku turun 100gr. Well cuma satu ons sih itupun anakku masih di garis hijau tapi nggak tau kenapa aku agak panik karena selama lahir sampai umur ke sembilan bulan berat badannya nggak pernah turun. Kepanikankku cukup beralasan karena di bulan ke sembilan anakku lumayan sering GTM. Belum lagi suami nakut-nakutin, "itu kalo dia pola makannya sama seperti bulan lalu, bulan depan BBnya bisa turun lagi."

Aku sibuk putar otak sampai buka aplikasi sosmed berlogo f terus bukain grup grup yang bahas MPASI. Akhirnya ketemulah sharing soal snack MPASI tinggi kalori. Aku mulai rajin memanfaatkan waktu senggang untuk membuat snack MPASI tinggi kalori yang disebut sebut sebagai BB booster. Alhamdulillah hasil tidak mengkhianati usaha. BB anakku naik 400gr dalam sebulan. 

Hal yang aku sesali sekarang adalah ketidakmauanku belajar MPASI sejak dini. Karena kefakiran ilmuku soal MPASI maka yang terjadi adalah:

1. Anakku picky eater. 
Anakku tidak mau makan makanan yang sudah disediakan begitu saja. Pilih-pilih. Banyak syarat agar anakku mau makan. Hari ini dia lahap makan sayur sop lauk telur ceplok, besoknya belum tentu mau. Hari ini mau makan soto ayam dengan nugget, esoknya gak mau. Salah komposisi lauk, sayur, dan nasi dalam satu sendok aja bisa dilepeh. Dia tidak suka komposisi nasi yang banyak di sendok, dia lebih suka kalo nasinya sedikit dan lauknya banyak. Protein nabati seperti tahu dan tempe dia tidak doyan. Kadang mau disuapi dengan sendok, kadang lebih suka disuapi pake tangan. Kadang mau pake kuah tapi seringnya ogah. Trus kalo makan sayur bayam berkuah gimana? Ya kuahnya dikuras, diambil bayamnya aja. 

2. Konsumsi gula dan garam sejak dini. Aku ngga tau pendapat mana yang benar, tapi seharusnya memang anak dibawah satu tahun tidak mengkonsumsi garam dan gula. Selain ada kemungkinan dampak kesehatan, mengkonsumsi makanan tanpa garam dan gula akan membuat anak merasakan rasa asli dari bahan makanan yang di olah. Dengan begitu di kemudian hari ia akan lebih mudah menerima berbagai macam rasa dan tidak pilih-pilih makanan. 

Ini sekedar sharing pengalaman ya teman-teman. MPASI itu luas ternyata. Butuh banyak ilmu. Nggak cuma asal kasih makan bayi. Sumber belajar MPASI banyak banget. Bisa dari web WHO, jurnal, sampai postingan di sosmed. Belajar MPASI itu penting banget. Perlu diingat, MPASI itu nggak ribet dan nggak harus mahal. Sumber lemak gak harus pake unsalted butter, bisa diganti dengan santan. Bumbu aromatik ngga cuma bawang putih dan bawang merah, bisa pake jahe, kunyit, sereh, daun jeruk, dsb. Intinya manfaatin apa yang ada di sekitar rumah. Locally available yaa bukan supermarket available. Sekian. 

Sabtu, 02 Oktober 2021

Drama Menyusui

Dulu kukira menyusui itu simpel. Sodorin aja ke bayi. Ntar dia minum kalo udah kenyang terus tidur. Simpel. Bayi tidur, ibu bisa bebas beraktivitas. Beres2 rumah, workout, makan, nonton drama korea, dsb. Ternyata pemikiranku salah besar.

Cerita soal drama menyusui dimulai sejak hamil tujuh bulan. ASIku keluar. Mungkin efek dari rutin konsumsi tujuh butir almond tiap hari. Aku selow aja karena udah baca beberapa artikel dan story akun instagram temenku yang ngalamin katanya ini hal normal. 

But then i don't know why, abis melahirkan malah ASI berhenti keluar. Apakah ini efek hormon oksitoksinku yang rendah karena proses melahirkan yang lama? Cuma dugaan belaka sih.

Malam pertama setelah lahiran aku selow, toh bayinya udah kencing dan BAB ngeluarin meconium. Kata dokter anak juga normal. Kata perawat juga bayi masih punya  cadangan makanan buat tiga hari. Yasudah tenanglah hatiku. 

Kecemasan dimulai di malam kedua. Anakku sama sekali tidak mau tidur di boks bayi. Dia gak mau lepas sama sekali dari aku. Dia juga mulai sering terbangun di malam hari dan nangis. 

Aku bingung dong. Mau gak mau aku tidur sempit sempitan di ranjang RS dengan bayi. Haduh. Deg deg an luar biasa mengingat aku biasa tidur pecicilan sejak dulu. Tapi gimana lagi, dia anakku. Udah gitu di RS ngga bisa minta kasur lebar kayak di rumah. 

Malam itu terasa panjang. Anakku terlihat seperti kelaparan. Aku berusaha tenang. Berusaha tetap menyusui seperti instruksi dokter meskipun ASI yang keluar sedikit atau malah enggak keluar sama sekali. Buat mancing produksi ASI kata dokter.  

Berusaha tenang ngga semudah itu. Lidah bayi yang masih kasar membuatku kesakitan. Lagi-lagi aku ngga bisa melakukan apapun selain pasrah menahan sakit dan kantuk.

Paginya aku pulang dari RS. Malam ini bayi akan tidur di rumah. How happy i am pas tau bayi ini tidurnya anteng dan cuek terhadap kebisingan. 

Sampai rumah, ibuku langsung memberiku sepiring besar edamame untuk memperlancar ASI. Aku menurut. Tanpa banyak bicara edamame habis gak bersisa. 

Meski begitu diam-diam aku putus asa dan menyuruh adekku membelikan susu formula dan pompa ASI. Susu formula ini bakal aku berikan kalo sampai besok ASI gak keluar. Sedangkan pompa ASI kubeli berdasarkan saran kakak sepupuku untuk menstimulus produksi ASI. Kakak sepupuku bahkan berbaik hati berjanji esok hari akan datang membawakanku pompa ASI elektrik miliknya.  

Malamnya, anakku mulai terbangun dan menangis kelaparan. Aku bingung dong. Sepertinya ASI yang keluar terlalu sedikit dan belum mencukupi kebutuhannya. Well aku tau ASInya udah keluar karena si bayi sudah pup dan warnanya nggak hitam lagi. Kata tanteku, itu pup bayi yang sudah minum ASI. Waktu itu aku ditanya "kamu ngerasa nggak kalo ASInya keluar?" Aku bingung. Emang rasanya gimana kalo ASInya keluar?

Karena aku masih pake kateter, maka jadilah tanteku dan ibuku yang begadang mengurus dan menggendong baby newborn ini. Akunya tidur. Kalopun bangun aku cuma minum dan mainan hp. Jangan salahin aku ya. Bukan karena aku ngga mau tanggung jawab, tapi karena kondisi. Bayangin aja rasanya nggendong bayi pake kateter. Ngga kuat aku. 

Tengah malam saat terbangun, aku menawarkan susu formula karena mulai kasihan sama bayi kecil yang menangis kelaparan. Reaksi Ibuku dan Tanteku gimana? Marah dong. Aku disuruh istirahat dan sabar. 

Hari selanjutnya masih sama, ibuku kembali memberiku edamame satu piring penuh yang langsung ku tandaskan. Aku juga makan almond segenggam penuh. Minum madu dan air hangat juga. 

Malamnya aku demam. Badanku rasanya meriang dan sakit kayak dipukuli orang satu RT. Aku bahkan marah saat bayi kecilku nangis. Fisikku nggak berdaya. Aku cuma tiduran di kasur. Nangis. Kata ibuku, itu hal wajar. Gapapa. Ibuku bilang aku ngerangkak i istilah jawa nya begitu. Tubuhku bereaksi karena mau produksi ASI. Malam itu berlalu seperti sebelumnya, ibuku dan adekku kali ini begadang lagi mengurus bayi. Aku tidur. Aku gak peduli kejadian apapun di sekitarku. Badanku remuk ya Allah. 

Esok harinya ASI keluar lebih lancar tetapi masih belum deras. Anakku terlihat lebih tenang meskipun beberapa kali dia merengek. Sepertinya belum puas. 

Suamiku bertindak. Dia membelikanku kurma ajwa dan susu almond brand almona di shopee. Harganya lumayan pricey tapi masih affordable. Satu kotak isi lima sachet dibandrol dengan harga Rp 40.000 berarti satu sachetnya delapan ribuan. FYI yang paling enak adalah susu almond varian original.


Setelah minum susu almond, ASIku mulai deras. Aku senang. But then the next problem came up. Putingku mulai lecet.

Karena dari waktu hamil aku sibuk belajar cara mudah melahirkan dan nggak banyak belajar soal menyusui, aku nggak ngerti kenapa bisa lecet begini. Aku pernah baca di instagram soal puting lecet. Tapi penanganannya gimana aku nggak tau. Aku meremehkan karena di awal aku kira punyaku nggak bakal lecet.

Akhirnya aku googling dan sibuk tanya ke ibuku, kakak sepupu, temen, siapa aja yang udah pengalaman tak tanyain pokoknya. Kata ibuku dulu pas jaman ibuku lecet begitu diolesi minyak goreng. Kata kakak sepupuku pake Virgin Coconut Oil (VCO) ini aman kalo ketelen bayi. Kalo temenku malah ngajarin lebih rinci lagi. "Sebelum menyusui diolesin dulu pake ASI yang keluar, terus abis menyusui dikasih madu. Nanti pas mau menyusui lagi dikompres dan dibersihkan dulu madunya pake air hangat agar bayi nggak nelen madu." 

Karena nggak punya VCO dan nggak mau pake minyak goreng, aku ambil inisiatif sendiri pake minyak zaitun. Sambil nunggu paketan VCO yang ku beli di marketplace dateng. Aku juga melakukan saran temanku untuk dioles madu dan dikompres air hangat. Lukanya mulai membaik dengan sangat lambat. 

Oiya bayi aku kadang nggak mau nyusu kalo putingnya masih ada minyak zaitun ataupun VCO, jadi harus di lap dulu pake waslap dan air anget. 

Selama hampir dua bulan aku menyusui dengan drama menangis atau teriak-teriak sendiri sebab menahan perih lecet. Kadang aku ambil kain bedong atau jilbab terus kugigit kuat-kuat biar nggak teriak dan nangis. 

Selain itu baju yang sering kerembesan ASI baunya amis darah masya Allah sampai aku harus ganti baju berkali-kali. Minimal ganti empat kali dalam sehari. 

Bodohnya aku adalah aku nggak persiapan beli breastpad sama sekali. Aku pikir karena aku ngga pergi kemana-mana aku nggak perlu lah beli breastpad. Ternyata itu adalah must have item buat ibu menyusui.

Kocaknya adalah seminggu pasca melahirkan aku harus kontrol ke dokter. Padahal aku belum punya breastpad tuh. Tapi aku nggak ilang akal. Aku ambil pembalut tanpa sayap yang biasa dipake pas menstruasi, kugunting jadi dua terus kutempelkan di bra. Kan fungsinya jadi sama kayak breastpad. Nggak ada yang tau kok. Nggak keliatan juga. Santai aja. Hahahaha

Buat menyusui aja seribet itu gaes, makanya jangan durhaka sama ibu. Jangan nyakitin cewek. Drama biologis cewek itu luar biasa berat. Kalo gak bisa membahagiakan setidaknya nggak usah nyakitin. Closing macam apa ini hahaha.

Kamis, 30 September 2021

Retensi Urin Pasca Melahirkan

Gimana rasanya retensi urin? Gak enak banget ya Allah. 

Momen ketika aku dipasang kateter setelah melahirkan membuatku sadar bahwa selama ini kurang bersyukur banget sama nikmat dan anugerah dari Allah. Bisa pipis mengeluarkan urin dengan normal itu ternyata salah satu nikmat yang sangat besar.

Pagi-pagi pasca melahirkan, urinku di cek perawat ternyata ada 900 ml residu urin yang tersimpan di kandung kemih which is terlalu banyak. Seharusnya residu urin kurang dari 200 ml. Ternyata aku di diagnosa retensi urin. Sehingga harus diterapi dengan kateter. Buat yang belum tau, kateter itu selang yang dipasang di tempat pipis. Dalam kasusku saat itu aku ngga ngerasa pengen pipis jadi pas mau pipis urinnya keluar gitu aja lewat selang dan nggak kerasa.

Ketika dokter visit jam 10 pagi, aku langsung sibuk tanya penyebab retensi urin. Dokter bilang otot kandung kemihku cidera karena terlalu lama mengejan saat melahirkan malamnya sehingga butuh diistirahatkan. Kondisi retensi urin umum dialami pasien setelah melahirkan dan bukan hal yang harus dicemaskan berlebihan. 

Meski dokter bilang tidak perlu cemas, tetep aja aku cemas. Seharian gelisah dan agak sedih. Bayangan bisa bebas berkeliaran setelah melahirkan normal lenyap berganti dengan sedih karena gak nyaman bebas bergerak. 

Sebenarnya dokter bilang, aku boleh aktivitas seperti biasa. Tapi sebebas apa kalo ada selang yang dipasang di bagian bawah dan ada urin yang ditampung di kantong. Menyedihkan. 

Setelah seharian kalut dan sedih, aku lelah. Aku memilih untuk mencoba menerima kondisi dan semangat. Okelah Bismillah. Insya Allah cepat sembuh. 

Dokter memberikan instruksi untuk hari ke empat penggunaan kateter, aku harus menjalani training. Jadi selang di kateter ditekuk dan diikat menggunakan karet. Kalau kita merasa ingin pipis, karetnya dilepas dan biarkan urinnya mengalir di kateter. Setelah aliran urin berhenti, kateter diikat lagi. 

Kelihatannya simpel ya. Pas praktek nggak semudah itu. Bahkan aku malah sempat bingung, ini kebelet pipis enggak ya? Ini aku masih kerasa pipis nggak ya? Ini urinnya udah berhenti belum ya? Berantakan dan nggak karuan. 

Hari ke lima, paginya aku kontrol ke RS. Aku udah ngarep banget dinyatakan sembuh dan kateternya dilepas. Sampai RS setelah formalitas cek suhu, berat badan dan ukur tekanan darah, aku diminta masuk ke ruangan dokter. Kateter dilepas, terus aku disuruh minum sebanyak mungkin. Tunggu sampai kebelet pipis, keluarin pipis di toilet, setelah itu lapor ke dokter kalo sudah pipis. Nanti ada instruksi selanjutnya. 

Aku keluar ruangan dokter dengan semangat, langsung minum air mineral kemasan 600ml sama sekalian ngembat air minum yang dibawa adekku di botol kecil 350ml. Semuanya ludes.

Di kursi ruang tunggu aku nyoba tenang nunggu hasrat ingin pipis meskipun sebenernya hati gelisah luar biasa. Tarik nafas panjang hembuskan. Rileks. Ayo dong rileks. Terus menyugesti, Bismillah, ayo kamu pasti bisa. 

Finally aku pengen pipis. Tapi rasanya agak ragu gimana gitu. Aku ke toilet dan nyoba kencing. Masya Allah kok yang keluar cuma dikit? Kok aku jadi mengejan kayak mau BAB gini? Padahal nggak pengen BAB. Tubuhku seolah maksa pengen bersihin urin sampai ngejan tapi ngga keluar.

Aku sedih. Aduh kalo nanti masih harus pasang kateter lagi gimana ya Allah. 

Aku masuk lagi ke ruang dokter. Dokter dan perawat masang kateter terus kandung kemihku dikosongkan. Terus di ukur residu urin yang barusan dikeluarkan.

"Masih 450 ml mbak. Pasang kateter lagi ya." 

Allahu akbar. Yaudahlah pasrah. 

Setelah konsultasi banyak hal aku pulang. Pola terapi nya masih sama kayak kemarin. Istirahat tiga hari terus latihan kencing lagi.

Di terapi berikutnya aku lebih legowo. Lebih tenang. Akhirnya aku boleh lepas kateter di hari ke 12. Dokter  bilang perkembanganku cukup cepat dan kasusku nggak separah kasus kasus lain yang pernah beliau tangani. 

Waktu aku dinyatakan sembuh dan kateter dilepas, sampai rumah malah aku takut kencing. Minumnya sedikit biar kencingnya dikit. Padahal harusnya aku banyak minum. Pas kecing, beberapa kali aku tampung di kantong plastik dan diukur berapa ml volume urinnya untuk meyakinkan diriku kalo aku sudah sembuh. 

Sampai ketika dua hari di rumah dan aku yakin banget udah sembuh, aku baru berani minum banyak. Nikmat sekali ya Rabb. 

Rabu, 29 September 2021

Cerita Pengalaman Melahirkan

Ada banyak hal yang membuat seorang perempuan merasa dirinya hebat. Karir, prestasi, harta. kecantikan, popularitas, and many more. Masing-masing perempuan punya standar yang berbeda. Kita tidak bisa menyeragamkannya. Salah satu hal yang membuatku merasahebat sebagai perempuan adalah hamil dan melahirkan. Memikirkan betapa manjanya aku, toleransi yang rendah terhadap rasa sakit, sifat kekanakan yang sering muncul, membuatku sering meragukan kapasitas jiwa perempuan-ku menjadi dewasa. 

Finally, tepat pada tanggal 7 November 2020 pukul 22.05 WIB aku merasakan pengalaman hebat. Kelahiran anak laki-laki lucu mewarnai hidupku setelah melalui proses panjang sejak hari Rabu 4 November 2020. Rasanya lega, tapi mungkin agak sedikit trauma mengingat prosesnya.

Aku ngga mau nakut-nakutin perempuan lain, tapi sungguh lah melahirkan itu sakit pake banget, apalagi proses melahirkanku dibantu dengan induksi obat. Kontraksi berterusan rasanya punggung ini hancur diketok palu berkali-kali. Pertanyaan yang banyak diajukan, kok bisa induksi? Bukannya kamu ini selalu hidup sehat, rajin jalan kaki, yoga, senam, bahkan di awal hamil masih sempet lari dan zumba? Bukannya kamu ini selama hamil ngga pernah makan mi instan? Bukannya suplemen boostermu banyak banget dari vitamin dokter, asam folat, kalsium, tablet tambah darah, makan kurma tiap bangun tidur, minum susu tiap hari, belum lagi minyak ikan, minyak zaitun, dan almond?

Yes, aku emang se-sehat itu pas hamil, cuma mual muntah di lima bulan pertama yang bikin aku sering nangis karena capek banget muntah bolak-balik toilet. Tapi selepas 20 minggu aku ngga punya keluhan kesehatan apapun, bahkan aku kuat jalan kaki sehari 7000 langkah, trus disambung senam atau yoga setengah jam. Terlepas dari selera makan yang aneh, nggak suka makanan yang menurutku bau kunyit dan langsung muntah kalo makan daging. Selama aku menghindari kunyit dan daging, aku benar-benar hidup sehat tanpa keluhan. Belum lagi aku sering baca-baca web pengetahuan soal hamil, melahirkan, menyusui, dari popmama, theasianparent, bidankita, dsb. Trus aku juga follow dan mengamalkan nasehat akun-akun medsos milik tenaga kesehatan dan dokter SPOG terkenal. Harusnya aku bisa melahirkan dengan gentle dan smooth kan? Eh iya, aku juga sering latihan nafas perut meski nggak terlalu mahir, tapi sungguh aku sudah confident dengan segala daya dan upayaku, sehingga mungkin Allah menegurku agar tidak terlalu percaya diri sampai melupakan bahwa takdir juga punya peran, bukan semata usaha manusia. 

 Tanggal 14 Oktober 2020 aku diminta melakukan rapid test mengingat HPL ku di tanggal 28 Oktober 2020, harapannya agar ketika aku melahirkan sebelum HPL aku bisa langsung masuk klinik dan mendapatkan tindakan dulu tanpa harus screening awal. Maklum dunia dilanda pandemi jadi agak ribet. Waktu USG sama dokter klinik dibilang, ini baik-bak aja semua kok, tinggal nunggu waktu sama disuruh sering induksi alami. Oleh bidan yang menemani dokter bertugas disuruh kontrol 10 hari lagi jika belum ada tanda-tanda melahirkan. 

Sepuluh hari berlalu, tanggal 24 Oktober 2020 seharusnya jadwal kontrolku tiba hari ini. Tapi karena males, aku milih nunda kontrol dengan harapan, ah besok juga lahir ngapain kontrol. 

Tanggal 28 Oktober 2020 lewat sehari dari HPL aku memutuskan untuk kontrol ke klinik dan 201 kata dokter semuanya masih baik-baik saja. Sarannya yaa sama aja kayak kontrol sebelumnya, coba induksi alami dan tiga hari lagi kontrol untuk memantau ketersediaan air ketuban dan kondisi plasenta. 

Tiga hari berlalu, sama sekali gak ada tanda melahirkan, kontraksi yang ada palsu doang. Ngga ada pola dan ngga berterusan. Well aku masih santai dong, cuma aku mulai agak terganggu kalo ada yang nanya "kok belum lahir?", "udah mules belum?". Paling cuma tak senyumin.

Hari Rabu 4 November 2020 pagi sampai siang jadi puncak kekesalan batin. Banyak yang chat whatsapp dan tanya secara langsung udah lahir belum, bla bla.. Mulailah habis kesabaranku, aku nangis. Malamnya aku USG lagi di klinik langganan. Dokter bilang,"Malam ini langsung minta induksi ke bidan." Aku baca tuisan dokter di buku KIA, 'Oligohydramions & Placenta gr 3'. Aku langsung ngeh. Yaa memang harus dilahirkan sih. Ketuban tinggal dikit dan pengapuran placenta grade 3. Belum lagi estimasi BB Janin sudah 3300 gr.

Yasudahlah, aku pasrah. Sebelumnya udah banya baca dan denger dari pelaku hidup langsung masalah induksi persalinan yang luar biasa sakit membuatku sedikit takut, tapi mau gimana lagi, gak ada jalan lain selain dihadapi aja. 

Aku ke bidan klinik itu dan minta induksi sesuai saran dokter. Bidannya malah bilang, " Induksi anak pertama sering gagal, jadi kalo mau induksi mending di RS yang ada OR nya sekalian, kalo gagal bisa langsung SC." 

"Kalo saya pulang dulu, trus ke RSnya besok pagi gimana bu? Ini udah malem, saya ngga ada gambaran ke RS mana"

"Wah saya gak bisa jamin ini bisa bertahan apa enggak, kalo mau malah langsung SC aja, malem ini juga saya telfonkan dokter untuk tindakan SC, nanti SCnya di RS X trus perawatan pasca SC di klinik ini, biayanya kelas 3 8.5 juta sudah all in termasuk SC"

Bentar, kok malah dagang SC sih?

"Saya diskusi dulu sama suami bu"

Jadilah aku telfon suami yang kerja di luar kota. Suami juga ngerasa ganjil, trus bilang, "udah minta surat rujukan aja, trus telpon ke RS XYZ"

Baru nutup telpon suami, udah ditanya lagi sama bidan, "gimana mbak? "

"Sebentar bu"

Gegas aku segera telpon RS XYZ. Mereka bilang, "Ke UGD aja bu, biar diperiksa bidan jaga, tapi kalau harus tindakan SC malem ini belum tentu ada dokter karena belum janjan sebelumnya. "

Klik, telpon kututup. Si Bidan nyamperin lagi. "Gimana mbak? Ini mbak kesini kalo mau lihat kamar saya. " Bidan membuka pintu kamar perawatan. " Nah, ini harganya tiga ratus ribu permalam, kalo yang sebelahnya lebih mahal lagi bu, tapi jauh lebih bagus, bla bla bla." Aku mulai sebel liat bidan yang terus promosi. Tak potong omongannya, "Sebentar bu, saya mikir dulu."

Ibuku yang nemenin aku periksa pun mulai agak panik dan terpengaruh promosi bidan. "Piye ya, SC aja gapapa ya, perawatan disini, nanti ibuk yang bilang ke suamimu."

"Bentar buk, aku mikir dulu. Batere HPku habis, aku pinjem charger perawat dulu" Aku menghampiri station perawat jaga. "Mbak pinjem charger HP"

Perawat mengangsurkan chargernya. Tak lama kemudian berbisik, "Mbak, coba ke RS Sakina Idaman aja, kemarin kakakku lahiran disana, administrasinya nggak ruwet"

Seakan diguyur air dingin, aku tersenyum mengiyakan sambil langsung cari nomor telp RS Sakina Idaman. Yaampun, sangking paniknya ditakut-takutin bidan sampai lupa ada RS yang recomended. Padahal aku udah follow sosmed RS itu, terus udah mikir-mikir mau lahiran disitu juga. 

Akhirnya aku berangkat ke RS Sakina Idaman, sampai sana langsung ke UGD, melakukan pendaftaran, diperiksa bidan jaga, mulai dari cek tensi, CTG, sampai VT terus disuruh menginap di ruang observasi VK. "Ini masih aman bu, detak jantung dedeknya masih bagus, belum masuk ke kategori darurat SC, kita akan konsulkan ke dokter kandungan dulu hasil pemeriksaan barusan. Sementara disini saja diobservasi dan diperiksa empat jam sekali. "

Jadilah malam itu aku menginap di RS. Bidan jaga RS benar-benar menepati janjinya untuk memeriksa setiap empat jam sekali. Bidan jaga juga menenangkan aku yang mungkin udah terlihat insecure parah. "Ibu yang tenang tidak usah panik agar bayinya nggak stress." Bidan jaga tanpa diminta malah ngajarin ibuku cara minta rujukan ke Puskesmas faskes 1 BPJS supaya nanti bisa melahirkan di RS dengan BPJS. 

Paginya kupikir aku nggak dapet makan, karena belum diuruskan berkas rawat inap. Ternyata abis makan nasi bungkus beli di deket RS eeh ada makanan RS datang. 

Kamis pagi tanggal 5 November 2020 Jam 11 aku resmi di rawat inap setelah administrasi selesai. Dokter langsung memutuskan untuk induksi. Induksi menggunakan obat misoprostol dimasukkan lewat vagina enam jam sekali. 

Sorenya di VT baru pembukaan 1. Induksi kembali diberikan. Aku belum kesakitan, bahkan malah kepedean. Dalam hati sombong, "Kok induksi ngga semengerikan yang diceritain orang ya?"

Malamnya induksi dihentikan karena diharapkan ada induksi alami dari hormon oksitoksin yang dihasilkan tubuh secara alami saat tidur di malam hari. 

Jum'at Pagi tanggal 6 November 2020 habis subuh, Bidan VT ulang, dan masih pembukaan satu. Induksi kembali diberikan. Punggung mulai sakit karena kontraksi yang lebih sering. Siangnya pas aku jalan-jalan untuk mempercepat pembukaan tiba-tiba ada air bening mengalir dikaki. Bidan jaga bilang itu ketuban rembes. Di VT masih pembukaan satu. Wajahku mulai hopeless. Dalam hati aku sudah sangat ingin menyerah. Kontraksi yang terasa semakin rapat tapi baru pembukaan satu. Rasanya lelah sekali. Aku udah mulai membatin, "Kalo gak bisa normal, yaudahlah SC gapapa, yang penting semua selamat."

Dokter SPOG visit hanya senyum dan berucap santai, "Dinikmati aja bu"

Induksi kembali diberikan lagi sesuai jadwal, kali ini obatnya diminum, karena ketuban sudah mulai rembes. Kalo lewat vagina lagi, dikhawatirkan obat akan mencair dan keluar bersama ketuban yang rembes.

Malamnya induksi obat dihentikan. 

Sabtu 7 November 2020 subuh, bidan kembali mengecek. "Masih pembukaan satu bu, tapi ini sudah tipis sekali. Semangat bu" Induksi diberikan lagi lewat infus. Kali ini kesombonganku mulai menguap. Rasa sakit datang berterusan. Rasanya punggung seperti remuk dihantam palu. Aku sudah nggak mau menghabiskan makanan. Minum hanya sekedarnya saja. Ilmu atur nafas mulai kacau. Kalo nggak kepikiran kasihan sama ibuku yang  menunggu, takut bayi akan stress, takut gak ada tenaga saat ngeden, aku pengen nangis dan teriak kuat-kuat. Seumur hidup, baru kali itu aku merasakan sakit yang teramat sangat. 

Setelah infus habis, bidan kembali mengecek sambil tersenyum menyemangati, "Sudah pembukaan empat bu, Alhamdulillah ayo kita ke ruang tindakan."

Aku didorong dengan kursi roda ke ruang tindakan. Aku mulai gak bisa mikir apapun. Pikiranku cuma gimana caranya bernafas dengan baik. Tanteku yang menunggu disamping bed tindakan kupeluk kuat-kuat. Jaket yang dikenakannya tak gigit. 

Aku sudah nggak tau waktu. 

Bidan masuk membawa infus baru kemudian bilang, "Keputusan dokter induksi dilanjutkan kembali dengan infus untuk mempercepat pembukaan. Semangat bu" 

Aku memaksakan diri tersenyum. 

Aku kembali memeluk tanteku kuat-kuat dan mengatur nafas. Aku berusaha menutup mulut agar tidakk berteriak dan tidak menangis. Sungguh rasanya berat sekali. 

Entah berapa jam aku menahan sakit, tiba-tiba bidan VT. "Sudah pembukaan enam bu, sebentar lagi" 

Aku mulai merasa ingin ngeden. Tanteku mewanti-wanti, "Jangan ngeden dulu, bla bla" 
Tanteku memanggil bidan jaga. Bidan memVT kembali, "Sudah bukaan tujuh bu"

Alat-alat gunting dsb sudah disiapkan. Aku gak peduli. Pokoknya pikiranku hanya berisi gimana caranya atur nafas dan menahan sebisa mungkin agar tidak mengejan. Sampai kemudian pembukaan lengkap, "Ibu, pembukaannya udah lengkap ya, sekarang ibu boleh ngeden. Kelahiran bayi tergantung kemampuan ibu mengejan."

Aku mengejan berkali-kali, sampai aku baru tahu kemudian bahwa aku mengejan hampir dua jam. Kemudian lahirlah bayi laki-laki langsung diletakkan di dadaku. Lucu sekali. 
Rasanya plong.

Dijahit 8 jahitan di dalam dan 8 jahitan luar, total 16 jahitan udah nggak kerasa. Rasanya udah kalah sakit sama diinduksi. 
Abis dijahit aku menggigil hebat. Serius gemetaran luar biasa. Sumpah itu pertama kalinya aku gemetaran separah itu.

Ternyata kata dokter itu efek dr obat bius yang disuntikkan waktu menjahit luka di perineum. Dokter langsung memintaku buat diselimuti dan diberi makan. 

Aku makan kayak orang kesetanan, padahal posisi masih bersandar bantal agak berbaring gitu. Laper banget. Maklum aku nggak makan siang. Makan pagi juga cuma dikit banget karena rasa mualnya luar biasa.

Abis makan, trus bayi udah dimandikan dan di adzani, aku disuruh nyoba duduk. Kupikir simpel, duduk tinggal duduk aja. Ternyata oleng sodara-sodara. Kepalaku seolah ringan ngga ada isinya dan serasa mau jatuh, tapi tak tahan. Alhamdulillah ngga jatuh dan aku berhasil duduk. Yes.

Begitu bisa duduk, aku diantar ke bangsal menggunakan kursi roda. Rasanya kayak orang tidak berdaya. Tapi memang iya ding, mau jalan sendiri dari VK ke bangsal juga gak sanggup.

Sampai bangsal aku langsung disuruh tidur. Badanku gerah. Rasanya lengket banget dan pengen mandi. Tapi kan udah tengah malem, well aku disuruh mandi besok pagi aja.

Paginya aku mandi, dimandikan tepatnya. Duduk diatas closet trus diguyur. You know what, karena lupa ngga bawa sampo, aku keramas pake sabun cair. Haha lucu banget. Rambutku langsung kerasa kering. Bodo amat, kalo ngga keramas aku gerah.

Setelah mandi, ada perawat dateng visit pagi untuk ngambil bayi mau dibersihkan. Trus ada perawat yang ngecek kondisiku. Aku merengek habis-habisan agar infusku dilepaskan tapi nihil. Perawat tidak mau melepas infus tanpa instruksi dan konsultasi dokter yang bertanggung jawab. 

Problem berikutnya adalah aku ditanya soal pipis. Hah? Aku baru menyadari, setelah melahirkan semalam aku minum banyak banget tapi gak ada hasrat untuk pipis.

Perawat nyuruh aku ke toilet nyoba pipis jongkok. Haha bayangin, semalem perineumku abis di jahit luar dalem, paginya suruh nyoba jongkok. Agak ngeri2 sedap, apalagi pas nyoba nekat jongkok malah yang keluar darah nifas. Huaaa.
Meski sudah berusaha sekeras jiwa, tetep aja pipisnya ngga keluar. 

Aku masih tenang. Aku ngga sadar apa pentingnya bisa pipis usai melahirkan. Kupikir, karena aku emang belum kebelet aja. 

Perawat yang nungguin aku bilang, "kalo ibu belum bisa pipis empat jam setelah melahirkan, dokter mengistruksikan untuk dipasang kateter."

Well, aku pernah lihat kakak sepupuku pake kateter pas melahirkan dengan operasi dan kupikir memang wajar abis lahiran pake kateter. Aku santai dan pasrah aja dipakein kateter karena aku belum sadar kalo ada sesuatu yang ngga beres sama diriku.

"Urinnya 900ml ya bu, banyak banget ini," perawat meperlihatkan teko berisi urin yang abis dikuras dari kandung kemihku pake kateter.

Perawat pergi setelah mengajarkan hal-hal tetek bengek soal penggunaan kateter. Menyisakan aku yang mulai gelisah. Ada yang salah nih. Aku kenapa ya Tuhan?

Featured post

Indonesia Tidak Ramah Lingkungan?

Well, aku nggak mau nambahin berita buruk. Aku cuma mau cerita soal kenyataan. Tentang negeri besar yang dulu berjuluk negeri agraris, neger...