Selasa, 15 Agustus 2017

Penipuan Menggunakan Kode OTP Mandiri E Cash

Kejadian ini saya alami kemarin hari Jum'at tanggal 11 Agustus 2017, well udh sekitar 4 hari lalu sih, tapi baru sempet nulis sekarang. Better late than never uh? :D


Jadi ceritanya gini, kemarin saya jual HP evercoss di OLX (http://olx.co.id/iklan/dijual-evercoss-a54-haier-max-IDojB2T.html#1c81e8cf31). Belum ada sehari iklan dipasang, ada orang yang nawar. Dia ngaku dari Tangerang a.n Fikri Wijaya. Dia ngga nawar sama sekali, tapi minta ongkirnya kita yang nanggung. Okedeh, boleh. saya kirim nomor rekeningnya. sambil nunggu transferan masuk, kita pack tuh HPnya. Abis itu dia ngirim bukti transfer.





Sebenernya pas ngeliat struknya saya ngerasa agak ganjil, di struk pengirimnya dari PT Bina Mandiri, padahal dia ngaku bernama Fikri Wijaya.  Tapi selanjutnya saya maklum. Oh okelah mungkin dia kerja disitu.

Next question is OTP. apaan tuh? sebagai orang yang hampir ga pernah jual beli online saya ga paham istilah OTP. karena gengsi mau nanya, saya searching dulu. Ternyata OTP adalah One Time Password. OTP ini sebagai pengaman transaksi online. OTP merupakan fasilitas dari Mandiri E Cash. Singkat cerita saya bilang kalo saya ga pernah transaksi pake OTP. 




Sampai sini saya ngerasa agak aneh. Kalo kode OTP itu pengaman, harusnya pas belum dimasukin kode OTP, transaksi belum ke record dan uangnya belum berkurang. Tapi karena saya belum pernah pakai transaksi model begini, saya mencoba husnudzon.




Iyadeh serah apa kata lo. Ntar gue coba -,-

 

Lah? kepo banget sama saldo saya, sampai minta difotoin segala. Disini keanehan mulai kerasa. Gimana caranya ada uang tiba-tiba masuk, kalo masukin kode OTP aja belum?Okedeh saya turutin. Toh duit saya di ATM tinggal 200 ribu :P




Harus bahasa inggris ya? Bukannya saya ga bisa bahasa inggris, tapi disitu ada kata "top up". sepemahaman saya, kok malah saya jd nge top up akunnya dia? Akhirnya saya minta panduan yang bahasa indonesia aja biar jelas.



Loh? Bank Mandiri itu kan BUMN punya Indonesia, ga mungkin dong dia bikin produk tanpa penjelasan versi Indonesianya? Akhirnya saya tanya deh. Itu panduannya searching dimana? Saya googling ga nemu panduan yang kayak gitu tuh. Saya juga udah buka webnya Bank Mandiri ga ada model panduan kayak gitu.





kok ngotot sih kak? -,-
Mana abis itu dia terus-terusan wasap. Akhirnya karena saya masih jenguk sodara di RS, tak wasap deh jelasin posisi saya.


Heleh, emang ngga lama. Tapi saya sengaja ngulur waktu juga. Jangan-jangan ini usaha dia bikin saya panik. Akhirnya abis magrib mau isya saya ke ATM. waktu saya ngikutin petunjuk dia, ada konfirmasi, intinya, " are you sure mau nge top up akun atas nama Jupri?"
Hah? Jupri? Bukannya td namanya Fikri Wijaya? Wait, Top Up? Kan Harusnya gue yang dapet duit? Loh? harga HPnya kan cm 200ribu kok dia nyuruh aku nulis 220652? Transaksi pun saya cancel dan saya keluar ATM sambil marah-marah sama adek. Bukan marahin adek saya sih, tapi curhat ke adek saya sambil marah-marah. Trus saya disamperin mbak-mbak pake baju biru dongker.

"Mbaknya mau transaksi OTP? Jangan mbak, itu pasti penipuan. Saya udah pernah ketipu sekali."

Alhamdulillah, ada orang baik yang akhirnya memperjelas dugaan-0dugaan dan kecurigaan saya. Uang 200 ribu pun selamat. Syukurlah. Lumayan buat beli Martabak :D

Yang saya pelajari adalah, pelaku memanfaatkan perasaan kita dengan sengaja bikin panik seolah-olah dia takut kehilangan uang 200 ribu karena udah terlanjur transfer ke kita. Bolak-balik nelfon. Berisik banget pokoknya. Bahkan dia juga nyebut nyebut nama Tuhan. Ealah, kok ngga sopan banget menyandingkan nama Tuhan dengan penipuan.

Finally, jadilah orang yang selalu skeptis. Skeptis itu percaya tapi ga sekedar percaya. Harus ada buktinya dulu. Jadi orang yang skpetis dan banyak nanya itu ngga rugi kok, selama yang ditanyakan itu penting. Asal jangan kebanyakan nanya cuma karena pengen show off seolah-olah kita kritis. Nanti kaya bani Israil susah lhoh.

Jumat, 04 Agustus 2017

Investasi Dana Haji

Mungkin saya agak telat buat beropini soal dana haji, tapi gapapalah, suka-suka saya, ini juga blog saya kok. bebas, asal ngga ngatain orang sembarangan.

Recently publik dikejutkan dengan berita soal penggunaan dana haji untuk investasi. Kabarnya dana haji yang  jumlahnya mencapai kurang lebih 90 sekian trilyun  dan segera akan meningkat menjadi 100 sekian trilyun tahun ini, sekitar 80%nya akan diinvestasikan ke sektor infrastruktur. Kontan banyak pro kontra yang muncul.

Buat saya, investasi dana haji bukan kata yang asing. Sejak dulu SMK saya udah mikir, misalnya satu orang calon haji wajib melunasi 25 juta untuk pendaftaran, kemudian dikalikan dengan 200 ribu pendaftar haji pertahun, dan dikalikan 10 tahun waktu menunggu antrian berangkat haji, maka jumlah dana yang 'mandek' akan sangat banyak. 25.000.000 x 200.000x10= 50.000.000.000 (50 T) Kalo misal disimpan di Bank dengan bunga 1% bunganya setahun sudah Rp 500 juta. Disimpan sepuluh tahun? Itung aja sendiri.

Kalo uang segitu banyaknya cuma mandeg, ga dipakai apa-apa buat saya eman-eman banget. Jadi saya setuju-setuju aja dana haji digunakan untuk investasi, hanya saja kalo 80% itu kebanyakan.

Buat saya, sebelum pemerintah memutuskan untuk berinvestasi dengan dana haji, harus ada beberapa hal yang dilakukan:
1. Analisis macam-macam sektor investasi, pilih sektor investasi yang sekiranya aman dengan return yang setimpal. (note: SETIMPAL yaa, bukan besar.  high risk high return and vice versa. ga ada investasi yang aman dan returnnya besar. kalo mau return besar yaa risikonya juga besar. jangan ngimpi -,-)
Kalo mau milih sektor infrastruktur pun perlu dikaji, berapa lama returnnya akan kembali? Jangan-jangan balik modalnya masih 20 tahun lagi. Ntar yang mau berangkt haji ga jadi haji gara-gara harus nunggu returnnya.

2. Jumlah dana haji yang diinvestasikan harus dihitung dulu untuk menjamin bahwa investasi dana haji tidak akan mengganggu pelaksanaan dana haji.

3. Perbaiki pengelolaan pelaksanaan haji. Jamin mereka dapat fasilitas yang sesuai dengan uang yang dibayarkannya.

4. Ketika pelaksanaan haji dirasa sudah tak ada masalah yang cukup berarti, maka berikan edukasi pada masyarakat yang akan haji mengenai investasi dana haji.

5. laporkan perkembangan investasi dan pengelolaan dana haji dengan transparan kepada setiap jama'ah haji. Kalo perlu dipajang di semua media cetak (koran) nasional, cantumkan link laporan di  web kemenag. Jangan lupa sertakan opini auditor dari BPK agar masyarakat merasa aman menitipkan dananya di pemerintah.

Mungkin prosesnya butuh waktu yang tidak sebentar. Apalagi harus menimbang-nimbang investasi mana yang sesuai syariat islam dan sesuai dengan UU atau peraturan yang ada. Tapi kalo hal tersebut berhasil, tentunya akan ada sinergi yang bagus antara pemerintah dan masyarakat dalam pembangunan Indonesia. Cuma sayangnya hal-hal seperti ini biasanya digoreng sama politisi. Dibumbu-bumbui hasutan ini itu. Padahal Malaysia udahsukses investasi pakai dana haji untuk membangun rumah sakit mereka di Makkah dan Madinah kemudian Pusat Kesehatan di Arafah dan Mina. Keuantungannya kan balik ke masyarakat sendiri.

atau sebenernya bisa di model gini, saat daftar haji masyarakat diminta untuk memilih akad yang ingin mereka gunakan. mau pilih wadiah yad amanah atau wadiah yad dhamanah?

Saya sejak awal menegaskan diri kalo saya bukan pendukung pak Jokowi. Bahkan saya juga kadang kontra dengan kebijakan beliau. Namun, kalo ada kebijakan beliau yang bisa diambil positifnya kenapa ngga saya dukung? Toh saya kalo ngatur negara juga belum tentu bisa.

Jumat, 30 Juni 2017

What's next?

Saya bisa bilang kalo malem ini semacam muhasabah buat saya. Anggaplah sekarang udah pertengahan tahun 2017. As always, di momen-momen muhasabah saya selalu tanya ke diri sendiri, "udah dapet apa kamu selama ini?"

Pertengahan tahun pertama di 2017 ini nano nano banget. diawali deg-degan tiap ada teman yang ujian skripsi. turut senang, cemas, dan kadang panik. Paniknya itu sebenernya simpel, dipicu sama pertanyaan sederhana, "gue kapan sidang skripsi?" :D

Alhamdulillah Allah maha baik. Tepat tanggal 23 februari 2017 jam 8 pagi saya menjalani sidang skripsi. Sempat terlintas di pikiran, "apa gue bisa menjalani sidang skripsi ini?" Bagi seorang motivator, mungkin kalimat tersebut dilarang, dianggap membawa dampak negatif, dan lain sebagainya. tapi buat saya, kalimat itu punya power yang menguatkan saat skripsi daya diadul-adul, dikritik, dan direvisi oleh ketiga dosen termasuk pembimbing saya. Saya udah siap secara mental untuk nerima revisi. Gak terlalu down lah yaa dibanding kalo kita ngerasa punya kita udah perfect ternyata malah direvisi matimatian haha..

Abis sidang tantangannya ternyata lebih luarbiasa. Struggling buat nungguin dosen, bolak balik revisi, dan teguh hati untuk nyari syarat daftar yudisium. Disitu saya banyak belajar soal istiqomah, how to never give up, sama efisiensi waktu.

Lucunya, setelah yudisium, dinyatakan udah bisa pake gelar akademik secara resmi malah bingung.
Bingung mau kerja dimana, jadi apa, intinya "what's next?" njuk galau.

Pas wisuda rasanya bangga sekaligus hampa. Bangga udah bisa bertanggungjawab sama amanah orang tua untuk kuliah, tapi hampa karena dirundung kegelisahan mikir apa yang akan dilakukan selanjutnya.

well, tulisan ini tanpa kesimpulan. lagi pusing aja mikir, "what's next?" haha
Idealisme pengen ini itu sih banyak. tetapi, Sometimes life isn't as simple as you think. struggling outta here is getting hard than just studying in college.

whtvr, i can't give up... mangatsss

Jumat, 14 April 2017

Mencoba Logis

Well, setelah sekian laa ga nulis, saya kangen banget. Gak ada alasan khusus kenapa saya nulis malem ini. tapi hal terpenting yang harus diketahui, saya sering nulis saat sedang kalut. Saat bingung entah harus bersikap bagaimana. Menulislah cara saya meluapkan emosi. baik terpubliskasi atau tidak. Saat saya sedang sangat marah di kampus kemudian saya harus pulang, terkadang sikap logis saya terkikis. Sering banget hal kayak gitu bikin saya memacu kecepatan motor sampai 90 km/jam. Peduli keselamatan diri sendiri pun tidak, orang lain? Entahlah.

Sebagai manusia yang memeluk agama islam, percaya bahwa tiada Tuhan selain Allah, maka banyak konsekuensi yang harus ditempuh. Kalau saya ngaku beriman, maka saya harus mengucapkan dengan lisan, meyakini dalam hati, dan mengamalkan dengan perbuatan. Perintah dari Rasullullah SAW jelas, "jangan marah, bagimu surga." (HR. Thabrani)

Kadang ketika marah, kemudian ingat hadits itu, kemudian memikirkan akibat marah untuk diri sendiri maupun orang lain, saya malah merasa sakit. Mentok-mentok nangis. Emosi yang udah memuncak, Kalo digambar di komik mungkin udah berasap, tangan yang mengepal, menggenggam erat nafsu untuk memukul, hati yang terluka, dan pita suara yang bisa membentak kapan saja, semua kondisi itu harus saya redam.

Seringkali saya malah menyalahkan diri sendiri. Mencoba memaklumi perbuatan salah orang lain. Mencoba mengelus dada dan menenangkan diri kalau itu sudah takdir. Kekalutan yang ada di hati dan kepala tak jarang membuat saya menangis. Sebagai hamba, saya ga bisa protes ke Allah tentang takdir yang sudah tertulis. Saya hanya memohon agar menjadi hamba yang beruntung. Punya takdir yang mengutungkan di dunia dan akhirat.

Perasaan marah juga bisa menjadi sangat sakit ketika kita mencoba bersyukur. Melihat ke bawah. Menengok kondisi orang yang jauh lebih buruk daripada kita.

Kalo kita mau nyalahin takdir, kenapa ini dan itu terjadi, sama aja kita nyalahin pencipta takdir. Toh setidaknya kita masih beruntung, Banyak manusia di timur tengah sana yang kelaparan, di sudan, somalia, ethiopia, dan lainnya. Kenapa kita harus marah banget dengan apa yang terjadi? Bisa jadi itu cuma godaan setan yang pengen menjerumuskan kita ke dalam hal-hal yang merugikan yang bakalan terjadi kalo kita marah. Bisa jadi juga itu ujian dari Allah untuk mengukur kesabaran kita.


Well, saya ngga nyoba memberi tips menghadapi marah. Tapi kalo marah, marahlah dengan elegan. Jangan menyakiti orang lain. Kalo saya bilang,- "Cukup kita dan Tuhan yang tau sakitnya."- kok kayane bukan aku banget. Haha.

Saya juga ga akan nyaranin kalian untuk minta dikuatkan. Cukup minta saja hidup yang mudah dan beruntung di dunia dan akhirat. Jadi kalo ada quote "Jangan minta hidup yang mudah, mintalah kekuatan untuk menghadapinya" itu salah. Buat apa minta kekuatan kalo kita bisa selalu menyadarkan hidup pada Tuhan yang Maha Perkasa? Buat apa minta kekuatan kalo kita bisa meminta kemudahan hidup di dunia mau7pun di akhirat kelak?
Ngga usah sok strong jadi manusia.

Finally, enjoy the weekend guys.

Minggu, 25 September 2016

Journey to Thailand #3

It's been a long time.. Hai?

Maaf baru sempet nulis blog lagi sekarang. Honestly saya dari kemarin pengen banget share lagi lanjutan journey to thailand. Tapi entahlah.. ada mood swing dan kesibukan yang datang sejara berurutan dan simultan. Actually, all of my business is okay under my control and i have no reason to lazy. But i don't know why.. i always find my self choose watching movie or listening to music than writing haha

Nah, buat kamu yang penasaran apa yang saya lakuin pas sampai di Don Muang International Airport, ini diaa:

1. abis turun dari pesawat dan masuk ke bandara, temen saya ada yang nyari toilet. Walhasil kami nunggu, sambil beberapa temen nyari info soal prosedur imigrasi. Sekedar iseng, saya nyobain telfon umum yang ada di bandara. Ternyata masih berfungsi dengan baik.

 

itu nyobain boongan sih sebenernya. Abis saya ga punya koin baht :3

2. Foto-foto buat say hi to Thailand.
yey, sengaja aja foto-foto di bandara biar keren :D anggep aja ini sebagai kenangan Bandara luar negeri yang pertama kali saja injak

 

kalo lagi foto-foto gini korbannya adalah  om Dwi. Cowok satu-satunya di kelas yang sebenernya narsis, cuma apes sering disuruh jadi tukang foto wkwk

3. Abis foto-foto dan peserta sit in sudah dinyatakan lengkap, kita cuss ambil arrival dan departure card.
Semacam formulir yang bentuknya mirip kartu SPP pas SMA yang ditekuk jadi tiga. Disitu kita isi identitas, tujuan kita ke thailand, alamat selama di thailand, dst..
Inti formulir itu sebenarnya cuma buat memastikan kalo kita ngga gelandangan di negeri orang. Ya kasian mereka kalo harus ngeluarin biaya buat penjara dan deportasi :D piss

4. Antri Imigrasi.
Antrian buat imigrasi ini ternyata naudzubillah lumayan panjang. Pas antri, disitu lalu lalang petugas yang pake rompi 'Immigration Help' imut-imut deh petugasnya. Beneran.

Ada kejadian yang menyakitkan pas antri imigrasi. Ceritanya pas itu antrian untul orang berkebutuhan khusus maupun pejabat negara lagi kosong. Nah temen saya si Indah Sulistian dipersilakan petugas ke antrian "Priority Line" yang lagi kosong. Trus si Indah ini melambai-lambaikan tangan ke saya. Maksud dia, saya disuruh ke sana aja mumpung antrian sepi. Oke deh saya lari kesana.

Pas sampai sana ternyata saya malah dimarahin petugas imigrasi. "Where are you from?" Petugasnya minta ngeliat paspor saya. "Indonesia mam" jawab saya sopan. "Indonesia antri di Asean Lane" dia nunjuk-nunjuk ke antrian panjang, nadanya marah-marah dan tinggi.

Saya mengerucutkan bibir. Yaelah buk.. saya juga tau. Akhirnya saya balik ke antrian sebelumnya. Sementara Indah melenggang bebas ke bawah dan tersenyum bahagia. Ngek -,-

Abis urusan imigrasi kelar, saya ke conveyor ambil bagasi dan kemudian nunggu temen-temen yang lagi-lagi pada ke toilet atau yang masih ada di antrian imigrasi.

5. Nunggu Bis Jemputan
pas kita keluar bandara, banyak banget pedagang simcard nyegat. Kita jadi tontonan disitu, apalagi ada 17 cewe berhijab. Pemandangan langka di negeri gajah putih. Trus ada seorang mbak-mbak bawa tulisan 'Yogyakarta State University' menghampiri dan nuntun kita keluar bandara.

Sambil nunggu bus datang, kita kepo-kepo ke mbak yang namanya lupa ini. Dia adalah staff Global Relation Center (GRC) Burapha.

Sambil nunggu bus juga itulah kita merasa bingung mau sholat dimana. Okay mungkin kita bisa solat di emperan bandara. Tapi wudhu dimana? Toilet bandara itu toilet kering. Ditambah lagi sedang ada antrean panjang. Jadi ngga mungkin juga kalo kita mau wudhu di wasatafel. hiks

Akhirnya dengan keterbatasan ilmu yg saya miliki, saya memutuskan untuk solat aja di bus. pendapat saya ini langsung di amini temen-temen saya.

 
 
udah jam segitu kita baru naik bus dan belum sholat dhuhur sama ashar. Perlu di ketahui kalo waktu di thailand sama di jakarta itu ngga beda. sama-sama GMT +7. Jadi ngga usah terlalu khawatir soal perbedaan waktu. Yang kerasa banget bedanya adalah, disini waktu siang lebih panjang daripada waktu malam.

nah, segitu dulu cerita soal perjalanan ke thailand.. semoga besok bisa update lagi yaa... daah

Senin, 15 Agustus 2016

Journey to Thailand #2

Assalamu'alaikum, Selamat siang

Setelah sebelumnya saya menyapa kalian pake bahasa inggris, kali ini saya memutuskan untuk pake bahasa indonesia aja. Sengaja sih, lagi pengen selang seling nulis inggris-indonesia campur-campur. Maklum, mood juga lagi campur-campur.

Di tulisan sebelumnya, saya cerita gimana perjalanan dari Jogja ke Jakarta. Kali ini saya bakal cerita soal perjalanan saya dari Jakarta ke Thailand naik Thai Lion Air. Pesawat ini pula lah yang saya naiki pas balik dari Thailand ke Singapura.



Ini pemandangan dari pesawat pas mau ke runway. Sebenernya kali ini saya juga dapet jatah seat di samping jendela, tapi diserobot sama temen saya -,- but it's okay, saya ikhlas kok ^^




Itu buku panduan tentang keselamatan, muulai dari apa yang harus dilakukan saat pesawat take off, landing, dan bagaimana cara kita menghadle situasi darurat yang terjadi. Di Thai Lion yang saya naiki ini, ga ada layar touchscreennya. Jadi sosialisasi tentang safety flight dilakukan secara manual, dalam artian pramugara dan pramugarinya memeragakan penggunaan alat-alat keselamatan di hadapan para penumpang,



Taraa... ini barang kedua yang tersedia di kantong kursi depan saya, majalah.  Pas pertama nemu majalah, saya seneng. Yaa lumayan, ada yang bisa dibaca buat ngisi waktu penerbangan 3,5 jam.



Haha ternyata tulisannya dalam aksara Thai semua, ada sih yang ditranslate ke inggris, tapi dikit banget, sepertinya materi yang ditranslate kurang proporsional. Tapi kaget juga lho, ternyata maskapai thailand ini ngeliput pulau Borneo buat majalahnya. Betapa saya jadi bangga sama Indonesia.



Dari majalah ini saya jadi tau, kalo ternyata rute penerbangan Thai Lion dari Jakarta ke Bangkok itu emang baru. Baruu dibuka bulan mei kemarin. Thai Lion Air membuka satu kali penerbangan dlam sehari dari Jakarta ke Bangkok.



Nah, ini rute penerbangan Thai Lion Air.



Ditengah-tengah kesibukan bolak-balik majalah, eh kita dikasih ini nih, air putih sama snack wafle cokelat. Trus kita juga ditawarin beli makanan.



Jangan kaget sama harganya ~ Oiya, kalo beli makanan disini, kita pake mata uang Baht yaa..



Ready to landing. Pengen banget teriak, Thailaaaand i'm coming! Yey! ^^

Dari pesawat, kita dijemput bus untuk ke pintu international arrival. Abis itu ngus imigrasi, ngisi kartu kedatangan gituu trus ngga lupa nyari wifi bandara buat bilang ke ibuk, "Buk.. aku wes tekan thailand!" Rasanyaa ga tau kenapa seneng banget. Merinding.. Seorang Tia, si gadis desa akhirnya menginjakkan kakinya di Thailand sebagai Mahasiswa bukan TKI. Sebagai tamu kedatangan yang terhormat. Duh susah dijelaskan dengan kata-kata.

Perjuangan ngirit uang saku selama dua semester, perjuangan orang tua, doa bapak-ibuk biar anaknya bisa ikut sit in di thailand Alhamdulillah di kabulkan. Allah luar biasa. Benar-benar Maha Baik.

Ini bukan akhir, it'a a begining. Ini awal, babak baru yang semoga akan menghadirkan babak-bababk kejutan indah di hidup saya.

Next time, saya ceritakan lagi deh soal perjalanan menapaki Thailand..
Daaah... see you :)

Sabtu, 13 Agustus 2016

Journey to Thailand #1

Hai! Sawasdee Khaa! I hope it is a good day for writing my first journey abroad to Thailand!
Actually, it is so late to share you this experience. Because i go to Thailand around a moth ago, exactly at July 11. Honestly i'm so busy after coming back to Indonesia. My duty as student of Accounting Education on 7th semester made me must going to a school and doing a teaching practice there. Awesome enough you know :D

Okay, back to my goal to tell you about everything i had when i prepare, conduct a journey, and come back here.Please enjoy!

We come to first question. Why i go to thailand?

I am a student of Excellent Class of Accounting Education of Yogyakarta State University. The Accounting Education Department has a program named Sit In that conducted every year. The participant of the program is special for the students of Excellent Class. Sit In Program allow us as the student of excellent class, to study in other university in different country for several day. It is 8 days in my experience.

After a long process of administration, my class is welcomed by Burapha University. Burapha University provide us really a great facilities. I'll tell you about this later.

My journey start from Adisutjipto International Airport, from this airport we fly with Batik Air to Soekarno-Hatta International Airport in Jakarta. After that we have to fly around 3.5 hours by Thai Lion Air into Don Mueang International Airport. Then we ride a bus about 2 hours from the airport in Bangkok to Burapha University in Chonburi.





This is my first flight. I never be in the plane before this journey. I got seat A, near the window. How lucky i am. By the way plane is the most comfortable transportation i ever had. From here i understand, why a ticket of plane being so expensive.



Batik air provide us a magazine to read. This magazine helps us to handle our bored.



Batik air has a touchscreen, i don't know what is it called. But i really like this facilities. We can watch a movie, play a game, listen the music, see the route of the plane, and etc. When the plane crews want to tell us an information, they tell us by this screen.

That's an comfortable experience to fly with Batik Air from Jogja to Jakarta.

But, behind the comfortable one, i still can't enjoy this journey because i remember a really short transit time in Jakarta. According to the booking evidence, we only had an hour and 15 minutes to move from terminal 1C to terminal 2D, check in, and going to immigration.

Fortunately, the pilot inform that we'll conduct a landing 20 minutes ahead from the schedule. This made me grateful. Still there's a little bit panic but it's not as big as before because there's 20 minutes addition.

When the plane has landed, i and my friend directly run as fast as possible to the shuttle bus. Luckily we are, we don't have to wait the bus. We take 3 minutes to reach terminal 2D. We still running when we entered Terminal 2D. We found the check in counter is empty, it's a little bit relieve us because that's mean we don't take much time to queue.

From the check in counter, we run into immigration. Here our passport is being stamped as a signed that we are leaving from Indonesia. Hiks :')

After immigration affair is done, we are searching the gate.
Then we're ready to fly leaving for Bangkok by Thai Lion Air~~

I'll tell you this experience later. See you :D

Featured post

Khitan/ Sunat Anak di Subang

Halo semua, selamat tahun baru 2026 ya! Tahun 2025 adalah tahun yang lumayan dar der dor buat aku. Banyak pengalaman yang mendewasakanku ter...