Jumat, 25 September 2015

My Life Tenses?

Udah lama banget ga nge-blog. Entah kenapa inspirasi yang biasanya datang lancar kali ini rada macet. Sebenernya ini saya juga lagi ga ada inspirasi, tapi yaa dipaksain aja buka blog. Kali aja pas ngetik nemu inspirasi. haha.

Nah, biar blog saya rada kekinian kayak blog-blog temen-temen saya. Kali ini saya mau ngepost beberapa foto deh. Yaa sekedar buat cerita aja. Saya lagi kepikiran buat ngebahas tenses hidup saya. How i pass my past, face my present, and prepare my future.


Itu foto saya pas SMA kelas 2. Pas itu saya menjabat jadi Bendahara Umum PR IPM SMK Muh 1 Wates (Ben ketok keren). Anyway itu foto diambil pas kita jadi panitia kemah untuk siswa kelas 1 SMK. Masa lalu saya cukup alay ternyata. Bisa diliat lah dari gaya saya pas foto. Dengan muka yang kurang trkondisikan, saya milih pose melet dengan tangan menengadah ke atas. Entah apa itu maksudnya. Kayaknya sih dulu saya mau ikut-ikutan cherrybelle tapi gagal.

Ga terasa foto itu jadi memori 3 tahun yang lalu. Many things change in 3 years. Purwitaningsih baru saja melahirkan Naura, si beautiful baby girl. Desi berjuang dengan kuliahnya di UAD, Luthfi kuliah di Sulawesi yang nun jauh disana. Eva? Hmm dia tahun ini jadi mahasiswa baru di jurusan manajemen UPY. Putri? Dia sedang mengandung dedek bayi pertamanya.

Saya seneng aja ngeliat temen-temen saya sekarang. Mereka telah memilih jalan hidup masing-masing. Semoga kita semua bahagia yaa menjalani hidup pilihan kita :)


This photo is taken a years ago, when i became a comittee of Daurah Mar'ah Shalihah. Rasanya bener-bener takjub dan bahagia aja. Dulu saya ngimpi pengen jadi mahasiswa UNY. Bahkan di dreamlist saya waktu itu saya tulis kalo saya pengen masuk UNY. Meski begitu, karena saya sadar kemampuan akademik dan finansial yang saya punya, dulu saya cuma berani nulis D3 Akuntansi. Tapi Allah emang maha penyayang. Allah itu maha Baik, saya dikasih lebih. Ga cuma D3, saya berhasil masuk S1 Pendidikan Akuntansi.

Oya, balik lagi soal Daurah Mar'ah Shalihah. This event is annually conducted by UKMF KM Al Fatih FE UNY. Daaaaan tahun ini saya jadi sie PDD lagi kayak tahun kemarin. Actually, i don't understad why my friends very believe in me as a PDD. In fact i can't make a design. Yaa kelemahan saya yang paling menonjol ya itu. Ga bisa ngedesain, ga bisa nggambar. Ngenes banget yaa?


Banner itu yang ngedesain Shilvina, temen satu departemen saya pas di Media Al Fatih. Mana gitu saya kacaukan lagi. Seharusnya font yng dipake bukan itu. Duuh maap shil.

Nah, saya ga kepingin bisa desain atau gambar, karena saya sadar itu bukan bakat saya. Saya pernah belajar soal itu, tapi kalo namanya udah usaha tetep ga bisa berarti emang takdirnya ga bisa kan? -,- Syediiih. 

Btw, karena orang yang saya tungguin udah dateng (bendahara SMA) maka saya pamit undur diri yaa? Someday I'll tell you about my preparation for my future. Dadaaaah.



Sabtu, 12 September 2015

Economic Imbalances

Sekitar dua hari lalu saya datang ke sekretariat Al Fatih FE UNY. Kebetulan banyak orang yang sedang merapikan buku dan membuat database buku Perpustakaan Al Fatih. Iseng saya ngeliat-liat buku yang berserakan di lantai berlapis karpet abu-abu. Ga sengaja saya nemu majalh Forbes Indonesia edisi Mei 2013 dengan cover pak Hatta Radjasa yang waktu itu menjabat sebagai menko perekonomian. Bahasan utamanya mengenai MP3EI. Sebagai mahasiswa FE saya ga asing sama istilah itu. Apalagi saya udah ngambil mata kuliah Ekonomi Kerakyatan.

Dibuka-buka ternyata majalahnya lumayan menarik buat saya. Pembahasan soal duit, kekayaan, dan iklan-iklan prestigious apartment bikin ngiler. Siapa coba yang ga seneng liat bangunan-bangunan mewah dengan fasilitas lux.

Majalah Forbes sudah pindah ke tas saya, dengan minta ijin sama anak-anak Al Fatih tentunya.
Sampai di rumah, pembahasan dalemnya bikin saya melongo. Keren banget. *Keliatan banget gue ga pernah baca majalah bisnis -,-

GDP per capita Indonesia di tahun 2013 cukup memprihatinkan, cuma sekitar $ 4,200 pertahun sedangkan Mercedes-Benz Indonesia (MBI) menikmati penjualan 5,300 unit atau naik sekitar 58% dari tahun sebelumnya. How can it be?

Bukankah aneh sekali, dengan penghasilan setahun hanya $ 4,200 dollar atau setara dengan
Rp 58.800.000* pertahun bahkan ga cukup buat beli mobil murah seperti Agya, Ayla, dan semacamnya.

This condition shows that our economic imbalances is very poor. Ada yang setiap hari cuma sanggup beli makan dan minum tokk, ada mahasiswa yang rela ngirit makan indomie tiap hari, ada pengamen yang di jalan-jalan, tapi ada juga yang mampu beli mobil mewah seharga milyaran rupiah tiap tahun, ada yang tasnya 150 juta rupiah, ... Ada.

Kalo dikaitkan dengan islam, tentu ada solusinya. Yaitu zakat. Islam mengatur dengan apik bagaimana porsi zakat untuk pemilik emas yang telah mencapai nishab dalam waktu satu tahun, pemilik ternak, bahkan zakat hasil panen pertanian pun diatur.

Lalu apakah dulu zaman Rasulullah SAW masih hidup tidak ada kesenjangan ekonomi?
Tentu saja ada. Kaya dan miskin adalah suatu sunnatullah. Artinya pasti ada.
Tengoklah saudagar terkenal Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan. Kekayaannya sangat banyak, tapi sedekahnya juga luar biasa banyak. Memberi makan orang miskin, menyumbangkan hartanya untuk perbekalan perang memperjuangkan Islam. Semakin mereka menyedekahkan harta, bukannya habis. Malah Allah menggantinya berkali-kali lipat.
Tengoklah pula para ahlussufah. Mereka sampai ditampung di masjid karena tidak mempunyai tempat tinggal akibat kemiskinannya.

Economic imbalances is a Sunnatullah. Pasti ada. Pasti terjadi. Tapi setidaknya harus diminimalisir.

Minggu, 30 Agustus 2015

Merindukanmu

Kamu tau sesuatu mas? Merindukanmu adalah sesuatu yang rumit untukku.
Merindukanmu bukan hal mudah untukku.

Sekelumit rindu yang muncul bisa membawa air mataku turun. Memaksaku untuk bersujud, melepaskan semuanya pada Sang Pencipta.

Adakalanya aku letih dengan rasa ini. Cuma dengan berdoa aku melepas rasa rindu ini. Berharap Tuhan akan menyampaikan rasa ini padamu. Maaf ya aku lancang sekali.....
Tapi sungguh, aku rindu.

Kadang aku pura-pura tertawa riang dengan lelucon orang, kau tau kenyataannya aku merindukan lelucon yang keluar dari mulutmu. Merindukan ekspresi konyolmu saat merapikan poni rambut. Merindukan tatapan halusmu yang selalu rumit dan sulit kumengerti. Merindukan wajahmu yang memerah. kamu tau mas, kamu selalu terlihat tampan meski belum mandi, Hehe

Aaah entahlah. Ikuti saja kemana takdir akan membawa. Toh bertemu denganmu itu takdir. Meski menjadi temanmu adalah pilihanku, namun jatuh hati padamu benar-benar diluar kendaliku.
*gue berubah jadi romantis mendadak kayane -,-

Jumat, 28 Agustus 2015

Scared

If your dreams don't scare you, it means they're not big enough.
Sekejap kata-kata itu membuat bulu kunduk merinding. Kalo boleh saya bilang, almost everyone's scared about future. Because none of us know about it. Masa depan itu hak prerogatif Allah.

Kalo dipikir, sebenarnya kita ga perlu takut menghadapi masa depan. Buat apa takut? Sedikit mengutip kata penulis kondang Tereliye, toh daun yang jatuh tertimpa angin pun sudah digariskan takdirnya. Sudah ditentukan nasibnya oleh Sang Pengatur Alam Semesta. Buat apa takut?

Kita ga perlu takut bermimpi sebesar dan setinggi apapun asal masih dalam koridor yang dibenarkan agama. Kita boleh bermimpi, berjuang mewujudkannya, kemudian berserah diri dan berharap Tuhan akan mengabulkannya. Selama kita hanya berharap  pada Allah, yakinlah bahwa Dia tak akan mengecewakan kita. Kalaupun ternyata selama ini harapan-harapan baik kita belum di ijabah, mungkin itu soal waktu saja. Atau mungkin Allah ingin mengganti harapan kita dengan sesuatu yang lebih indah asalkan kita tetap berdoa dan bersabar.

Jujur saja, tulisan ini saya buat untuk menyemangati diri saya sendiri. Hahahaha. This note reflect my emotion for sure.  Doakan saja saya konsisten untuk terus memperbaiki diri, berjuang untuk mas depan yang cerah. Berjuang buat menggapai apa yang saya inginkan.

Kalopun akhirnya nanti saya ga bisa menggapai cita-cita saya, itu berarti garis ketentuanNya. Sedih sih, tapi harus ikhlas kan? Semoga kelak diganti dengan surga firdausNya. Manusia kan endingnya juga mati. Cara kita memlilih ending itu lah yang terpenting. Jadi orang jahat atau baik itu kan pilihan kita. Mau mati khusnul khotimah atau tidak itu kan juga pilihan.

Udah ah. Semangat (n_n)9

Kamis, 27 Agustus 2015

Selamat Memperbaiki Diri

Mengapa saya berubah?
Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sekuat tenaga coba saya jawab. Bayangkan, saya yang tadinya males ke dapur mendadak jadi rajin. Tadinya ga tau cara masak oseng-oseng akhirnya bisa, malah saya juga tau cara bikin lele bakar balado. Tadinya males ngerawat diri sendiri, akhir-akhir ini malah jadi rajin perawatan badan. Tadinya males-malesan belajar, tiba-tiba sekarang semangat baca buku kieso yang tebelnya bisa buat nggebuk maling.

Well, jujur saja awalnya saya ngelakuin itu karena saya jatuh hati sama seorang laki-laki. Dia laki-laki yang sangat baik, pintar, dan ramah. Belum lagi secara fisik laki-laki ini hampir sempurna. Entah saya bilang gitu karena saya suka dia atau karena ganteng beneran saya juga gatau ding. hehe.

Saya pernah baca bahwa jodoh itu sederajat atau istilahnya se'kufu'. Dalam Al Qur'an sendiri telah dijelaskan dengan gamblang bahwa laki-laki yang baik adalah untuk perempuan yang baik pula. Maka saya pun bertekad untuk berusaha keras mengimbanginya. 

Itu dulu.
Sekarang saya sadar, bahwa perbaikan yang sedang saya lakukan akan sia-sia jika hanya saya niatkan untuk mengimbanginya. Saya sadar bahwa hal-hal bermanfaat tersebut akan lebih baik lagi saya niatkan untuk Allah. Selain saya bisa jadi lebih baik, saya juga dapet pahala.

Terakhir saya pengen bilang, selamat memperbaiki diri. Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin, bukan? :)

Minggu, 16 Agustus 2015

Aku Memintamu untuk Berhenti......

Tulisan ini di dedikasikan untuk seseorang yang istimewa. Mungkin dia tak tau soal tulisan ini. Tapi biarlah, suatu saat dia pasti akan membacanya.

Aku meminta mu untuk berhenti memikirkan hal-hal yang menyedihkan. Karena hidup ini ga semenyedihkan yang kamu lihat.
Aku ga akan membandingkan hidupku dengan hidupmu. Karena hidup yang pernah kita alami tentu saja berbeda. Aku tak tau sekeras apa dan semenyedihkan apa hidupmu dulu. Tapi apapun itu, kita harus punya harapan dan cita-cita. Kita masih punya harapan untuk melunakkan masa depan.

Aku memintamu untuk berhenti memikirkan hal-hal yang menyedihkan. Meski lebih mudah untuk dikatakan daripada dijalankan, aku setuju sama kata-kata bang tere liye. Bahwa kita harus ikhlas, membiakan semuanya mengalir, membiarkan semuanya berjalan sesuai takdir. Seperti daun yang jatuh tertiup angin. Penerimaan yang tulus terkadang sangat menyakitkan.

Aku memintamu untuk berhenti memikirkan hal-hal yang menyedihkan. Meskipun Tuhan telah menetapkan Qada dan QadarNya, manusia masih diberi untuk menentukan nasibnya sendiri. Entah lewat usaha yang keras, atau lewat doa yang dipanjatkan sepanjang malam dengan air mata.

Aku memintamu untuk berhenti memikirkan hal hal yang menyedihkan. Mengapa tidak memasukkan saja semua pikiran bahagia ke dalam memorimu sehingga tercerabut semua pikiran burukmu.

Sekali lagi, aku hanya memintamu untuk berhenti memikirkan hal-hal yang menyedihkan. Karena hidupmu sebenarnya lebih bahagia daripada yang kau pikirkan. Jangan membuat orang-orang di sekitarmu sedih dengan pikiranmu tentang kesedihan, perpisahan, dan sejenisnya.
Kau tau? Aku selalu sedih saat kau mengatakan hal-hal mengerikan dan menyedihkan yang ada di pikiranmu. Because you shouldn't be like that.

I ask you to stop thinking the sadness thing you've ever had. I see no use in it.

Aku tak pernah memintamu untuk melakukan hal-hal romantis. Aku tak pernah memintamu untuk menjadi apa yang kuinginkan dan siapa yang kuinginkan. Because you're all that i want.
Tapi aku sungguh meminta satu hal darimu. Berhentilah memikirkan hal-hal yang menyedihkan.

Aku memintamu untuk berhenti memikirkan hal-hal yang menyedihkan. Itu akan membunuhku perlahan. Karena aku hidup dari optimisme dan pikiran bahagia yang kubangun dengan susah payah.
Tolong. Kalau kamu tak ingin melakukannya untuk kebaikanmu sendiri, maka lakukan itu untukku.
Aku akan sangat bahagia jika kamu bisa mengerti. Terima kasih.

Jumat, 14 Agustus 2015

Tekanan

Sore ini saya pengen bahas soal bagaimana sebenarnya sebuah tekanan bisa memicu kita meraih prestasi. Tekanan memang bukan dorongan yang baik. 
Bisa dibilang saya sejak kecil terbentuk oleh tekanan.
Ketika saya masih SD dulu, saya lumayan tertekan oleh aturan orang tua yang mewajibkan saya memakai jilbab ketika keluar rumah. Saat itu, teman-teman saya sibuk memakai bando dan ikat rambut boneka yang lucu-lucu. Sebagai satu-satunya siswi yang berjilbab di kelas, bohong rasanya kalo saya ga ngiri dengan kondisi itu. Saya punya bando atau ikat rambut boneka. Saya punya. Malah koleksi saya lebih bagus dari teman-teman saya. Tapi saya hanya bisa memakainya di dalam rumah, tidak bisa memamerkannya ke orang lain.
Tekanan juga datang dari teman-teman yang jahil bertanya, "yak, rambutmu panjangnya seberapa?"
atau pertanyaan "yak, kenapa sih kamu pake jilbab terus kalo keluar rumah?"

Itu tekanan pertama. Tekanan kedua adalah saya selalu ngerasa iri dan berbeda saat temen-temen saya cerita soal macam-macam sinetron dan lagu yang hits di TV saat itu. Orang tua saya 'mengharamkan' TV. Jadilah saya hanya bisa bengong saat topik pembicaraan yang ada di kelas adalah TV. Tanpa TV, saya tidak berarti kuper dan kudet. Saya justru tumbuh lebih dewasa dan mengerti kondisi sosial, ekonomi, bahkan kesehatan lebih baik dari anak seusia saya waktu itu. 
Sejak SD bahkan saya sudah membaca majalah-majalah 'dewasa' seperti Ummi, Ayah-Bunda, Risalah Mujahidin, Sabili, Swara Qur'an, dan sejenisnya.

Saya ingat betul, ketika kelas 4 SD, saya bertengkar dengan teman laki-laki namanya Hadi. Ketika guru datang, saya langsung mengadukan Hadi dengan berteriak-teriak bahwa Hadi melanggar emansipasi wanita, Hadi tidak menghargai wanita, dan sejenisnya. Padahal pertengkaran itu hanya dipicu karena Hadi tidak mau mengalah saat rebutan bangku tempat duduk. 

Kelas 4 SD, saya sering protes saat guru saya menjelaskan bab yang sama berulang kali. Saya sering protes, "Ini kan sudah kemarin pak." Guru saya dengan luar biasanya tetap tersenyum dan bilang, "Kalo semua murid langsung paham seperti Mutia yaa penak."

Beranjak kelas 5 SD, saya sudah berani berdebat pada guru saya yang kebetulan beda agama. Saya mulai tau tentang gerakan politik mahasiswa bernama KAMMI. Saya juga mulai membaca tentang perjuangan para muslimah berjilbab di tahun 2000an, Bukan hanya itu, bab kekerasan di institusi pendidikan IPDN juga saya baca. Eits, secara tak sengaja, pada masa ini saya juga tahu tanda-tanda orang hamil, termasuk saya juga membaca soal virus toxo yang menyerang ibu hamil, kemudian saya juga membaca soal hamil di luar kandungan, dsb. Meski saat itu saya ga terlalu paham pada istilah-istilah tertentu.

Saat kelas 6 SD, ranah bacaan saya meluas. Saya asik saja meminjam majalah berbahasa jawa Djoko Lodhang langganan guru saya. Beberapa kali saya ditertawakan karena menanyakan istilah-istilah jawa yang saya ga tau. Meski begitu, saya gagal mengenali bentuk wayang selain gatotkaca dan punakawan, aksara jawa saya hancur, dan nilai bahasa jawa yang tak beranjak dari angka tujuh.

Seperti saya bilang tadi, meski saya tertekan karena ga punya TV, pake jilbab sendirian, tapi tekanan itu mampu mengubah saya menjadi anak SD yang lebih dewasa. Saya selalu menang debat dengan teman-teman SD saya. Saya menjadi anak yang percaya diri. Saya berhasil menyumbangkan dua piala di atas lemari kepala sekolah. Saya terkenal. 
Mungkin cerita di atas lebay ya? Tapi boleh kok kalo kalian mau ngecek ke guru-guru dan teman-teman saya dulu. 
Hingga saya kuliah pun, guru-guru SD masih mengenali saya. "Aduh mutia, udah gede. Kuliah dimana kamu sekarang?", "Waa mutia tambah cantik ya?", "Mutia udah  perawan nih, udah gadis"
dan semacamnya. 

Oke, ini tulisan tanpa tema. Maaf ya kalo ga nyambung. Ini memang curhatan dan rada bernuansa nostalgia. haha. 

Featured post

Khitan/ Sunat Anak di Subang

Halo semua, selamat tahun baru 2026 ya! Tahun 2025 adalah tahun yang lumayan dar der dor buat aku. Banyak pengalaman yang mendewasakanku ter...