Selamat hari kartini!
Berbicara tentang perempuan itu bicara tentang kelembutan, bicara tentang keteguhan, bicara tentang kesetiaan, dan bicara tentang investasi masa depan.
Mau tak mau, suka tak suka, harus diakui bahwa perempuan itu investasi. Hal yang membedakan adalah, perempuan bisa memilih menjadi investasi yang seperti apa. Investasi terapresiasi yang nilainya selalu naik atau investasi yang terdepresiasi layaknya aktiva yang terus disusut tiap tahun?
Meski perempuan adalah investasi, tak ada perempuan yang mau dimasukkan ke dalam portofolio sejenis. Misal perempuan adalah saham, maka ia tak akan senang bila dimadu dengan saham lainnya. Investor mungkin punya kalkulasi dan rumus untuk menghitung risiko dan return. Tapi, siapa yang bisa menghitung rasa sakit dan cemburu saat dimadu?
Karena perasaan tak bisa dikuantitatifkan. Tak berbilang. Tak ada kalkulator yang mampu menghitungnya. Saat perempuan bilang cemburu, maka tak ada yang tahu seberapa jumlah cemburu itu. Bisa jadi rasa cemburu itu tumbuh seperti gunung es. Kecil saja di permukaan, namun menghujam hebat ke lautan.
Saham bisa saja didiversifikasi. Tapi perempuan mana yang ingin diperlakukan seperti saham. Kau pikir perempuan itu bisa dijual seperti saham?
Jumat, 22 April 2016
Rabu, 20 April 2016
Memilih Laki-laki
Laki-laki itu menang bilang duluan, perempuan itu menang milih dan nolak.
Pernah denger kata-kata kayak gitu? Saya sering sih. Kalimat itu biasanya muncul kala sedang membicarakan soal jodoh. Mulai dari kenapa jodoh yang ditunggu belum juga muncul, siapa jodoh kita kelak, sampai akhirnya bawa-bawa perbandingan keberuntungan antar gender buat mengungkapkan cinta.
Bicara soal memilih, perkara itu ternyata ga segampang yang kaum adam kira, tinggal tunjuk mana yang di suka. Hellow, soal jodoh itu perkara sampai akhirat, ga bisa lah ya kalo di asumsikan milih jodoh itu kayak milih bumbu cimol, mau jagung bakar, balado, barbeque, dsb.
Di berbagai kajian yang pernah saya ikuti, dimana-mana milih seorang suami itu didasarkan pada empat hal utama: agama, nasab, harta, dan kedudukannya. Ngomong-ngomong, akuntan juga punya cara lhoh buat menaksir dan memilih laki-laki impian.
Caranya gampang banget, cari tau berapa present value dari beberapa laki-laki yang mau kita pilih, trus pilih yang present valuenya paling gede. Singkatnya, hitung berapa arus kas masa depan yang bisa dihasilkan sama laki-laki itu. Misal, si laki-laki kerja jadi dosen, maka hitung saja gaji dosen dikalikan dengan masa kerja laki-laki itu sampai pensiun. Perkirakan pula arus kas masuk lain seperti penghasilan tambahan dari investasi, warisan orang tua, bonus kerja, kemungkinan-kemungkinan kenaikan pangkat dsb. setelah itu bagi lah dengan tingkat suku bunga saat ini dan dipangkatkan dengan periode pernikahan kalian.
Kesannya emang matre banget yaa akuntan itu, tapi kenyataan memang kayak gitu. Uang bukan segala-galanya, namun uang itu pelancar masa depan. Nyekolahin anak, beli susu, baju, odol, alat mandi, pake apa bang? Pake daun?
Satu hal yang paling penting, sekaya apapun kita di dunia, dunia cuma tempat mampir, bukan tempat tujuan. Maka, jika ada laki-laki yang rajin menunaikan sholat sunnah sebelum subuh dua raka'at saja, terimalah lamarannya. Karena sungguh... ia memupuk pahala yang lebih baik daripada dunia dan seisinya.
Pernah denger kata-kata kayak gitu? Saya sering sih. Kalimat itu biasanya muncul kala sedang membicarakan soal jodoh. Mulai dari kenapa jodoh yang ditunggu belum juga muncul, siapa jodoh kita kelak, sampai akhirnya bawa-bawa perbandingan keberuntungan antar gender buat mengungkapkan cinta.
Bicara soal memilih, perkara itu ternyata ga segampang yang kaum adam kira, tinggal tunjuk mana yang di suka. Hellow, soal jodoh itu perkara sampai akhirat, ga bisa lah ya kalo di asumsikan milih jodoh itu kayak milih bumbu cimol, mau jagung bakar, balado, barbeque, dsb.
Di berbagai kajian yang pernah saya ikuti, dimana-mana milih seorang suami itu didasarkan pada empat hal utama: agama, nasab, harta, dan kedudukannya. Ngomong-ngomong, akuntan juga punya cara lhoh buat menaksir dan memilih laki-laki impian.
Caranya gampang banget, cari tau berapa present value dari beberapa laki-laki yang mau kita pilih, trus pilih yang present valuenya paling gede. Singkatnya, hitung berapa arus kas masa depan yang bisa dihasilkan sama laki-laki itu. Misal, si laki-laki kerja jadi dosen, maka hitung saja gaji dosen dikalikan dengan masa kerja laki-laki itu sampai pensiun. Perkirakan pula arus kas masuk lain seperti penghasilan tambahan dari investasi, warisan orang tua, bonus kerja, kemungkinan-kemungkinan kenaikan pangkat dsb. setelah itu bagi lah dengan tingkat suku bunga saat ini dan dipangkatkan dengan periode pernikahan kalian.
Kesannya emang matre banget yaa akuntan itu, tapi kenyataan memang kayak gitu. Uang bukan segala-galanya, namun uang itu pelancar masa depan. Nyekolahin anak, beli susu, baju, odol, alat mandi, pake apa bang? Pake daun?
Satu hal yang paling penting, sekaya apapun kita di dunia, dunia cuma tempat mampir, bukan tempat tujuan. Maka, jika ada laki-laki yang rajin menunaikan sholat sunnah sebelum subuh dua raka'at saja, terimalah lamarannya. Karena sungguh... ia memupuk pahala yang lebih baik daripada dunia dan seisinya.
Senin, 18 April 2016
Prinsip Ekonomi
Kemarin sabtu, kelompok KKN saya memfasilitasi pertemuan antara takmir masjid yang baru dengan organisasi remaja masjid setempat. Setelah sekian lama remaja masjid dianggap mati suri akibat adanya konflik, pertemuan kemarin seperti memberi pencerahan dan harapan baru bagi kaderisasi remaja masjid dan kelangsungan organisasi mereka.
Pertemuan di awali dengan tilawah QS. Al Fatihah, dan Al Baqarah ayat 1-8. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian wejangan dan motivasi dari takmir masjid yang baru. Takmir masjid menekankan pentinganya membaca Al Qur'an dan menumpuk pahala dari amalan sedikit demi sedikit.
Wejangan pak takmir membuat saya berpikir tentang prinsip ekonomi, bahwa kita harus mendapat hasil yang sebesar-besarnya dengan pengorbanan tertentu. Maka, seharusnya semakin paham seseorang terhadap prinsip ekonomi, semakin banyak amalan yang akan dilakukannya.
Contohnya sederhana saja. Allah tidak mencatat niat buruk seseorang sampai hal tersebut dilakukannya. Namun Allah akan mencatat niat baik seseorang walaupun kebaikan tersebut batal dijalankan. Seyogyanya, setelah tahu hal seperti ini, kita selalu meniatkan hidup kita untuk kebaikan. Terlaksana atau tidak, toh niat-niat baik kita dicatat oleh Allah bukan? Apa ruginya meniatkan hidup untuk kebaikan?
Jika surga dan neraka itu hanya bualan semata, maka sungguh orang yang berbuat kebaikan tidak akan rugi sedikitpun. Begitupula sungguh keberuntungan yang besar bagi mereka apabila surga dan neraka itu benar adanya. Bukankah begitu?
Senin, 04 April 2016
Rizki yang Tak Ternilai
Beribadah dengan sempurna dan baik itu rezeki yang tak ternilai. Bagaimana tidak, selama KKN minggu ini hal itu menjadi kata-kata yang paling melukiskan keadaan saya dan seorang teman saya.
Sekitar minggu lalu, teman saya lelaki asal magelang mengalami kecelakaan di perjalanan berangkat kekampus setelah beberapa hari mudik. Kecelakaan itu menimbulkan luka di bagian lutut. meski tak cukup parah, luka itu membuatnya kesakitan saat melakukan sujud. Padahal dalam sehari semalam ada minimal 34 kali sujud dalam shalat yang harus dilakukan.
Lain lagi dengan kasus yang terjadi pada saya. Diduga akibat terkena racun serangga, wajah saya mengalami luka di beberapa bagian. dilihat-lihat mirip luka cakaran kuku bayi atau kucing. Luka di wajah ini menyebabkan saya merasa perih ketika mengusap air wudhu di wajah.
Dua kejadian itu simpel membuat saya berpikir, bahwa bisa beribadah tanpa kesulitan merupakanrizki yang besar dan jarang saya syukuri. Kesibukan memburu kenikmatan-kenikamatan duniawi membuat saya lupa betapa Allah sudah mengaruniakan keberutungan yang amat besar untuk saya selama ini.
Rabbi auzi'ni an asykuraa ni'mataka.....
Kamis, 11 Februari 2016
Ma, Aku Tak Ingin Jadi Guru
Ma, aku tak ingin jadi guru....
Jadi guru ternyata tak seindah yang ku bayangkan. Gaji yang sedikit. Jam kerja yang diforsir. Persiapan yang belibet dan administrasi yang menumpuk untuk diselesaikan.
Mamaku guru. Papaku mantan guru. Pakdeku guru, Budeku pun begitu. Om dan Tante pun guru. Simbah Utiku juga guru..
Jadi guru itu cuma dapat ucapan terima kasih. Sampai-sampai dibikinkan lagu terima kasih guru dan disebut pahlawan bangsa tanpa tanda jasa. Kalo mau menilik dari sisi idealis, seorang guru tak perlulah digaji besar. Guru itu harus ikhlas lahir batin. Mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran demi anak didik. Demi mereka yang katanya penerus bangsa. Bangsa yang seperti apa? Koruptor, licik, dan penuh orang bejat immoral yang haus harta dan tahta? Bangsa seperti itu buat apa diterus-teruskan? Membuat mesum sejarah dunia saja.
Ma, aku tak mau jadi guru..
Artis dibayar mahal, ada yang dibayar 15 juta per episode sinetron hanya untuk berakting galak. Marah-marah. Sampai dialognya ditiru anak usia tiga tahun, "Pergi sana!!" sambil menunjuk pintu. Ada penyanyi yang dibayar 60 juta sekali tampil hanya untuk tampil sensual dengan lagu yang ga jelas maknanya apa.
Tapi guru, sudah berbusa-busa menjelaskan materi ke anak didiknya yang kadang tak tau diuntung. Diajar capek-capek malah tidur, makan di kelas, mainan HP dan nggosip sama temen. Guru sudah menyiapkan materi semalaman suntuk, Membuat RPP demi kelangsungan pelajaran di esok hari. Dibayar UMR perbulan saja udah bersyukur.
Tak hanya mengajar. Guru juga harus mengumpulkan berkas-berkas administrasi untuk pendataan, dapodik, yang nyatanya belum tampak jelas fungsinya. Apa administrasi dan tetek bengeknya itu cuma untuk memberi pekerjaan pada birokrat pengangguran di kementrian? Entahlah.
Ma, aku tak mau jadi guru..
Guru tak materialistis. Guru hanya wajib menghitung-hitung pengeluaran dan pendapatannya perbulan. Anak minta susu, papa minta pulsa, sabun untuk mandi habis, listrik belum dibayar, besok kita makan lauk apa. Guru cuma harus berhadapan dengan kenyataan yang kadang tak indah.
Aku bertanya pada mama.
Maa...Kenapa mama tetap tersenyum?
Meski digaji kecil? Meski pendapatan tidak sebanding dengan pengeluaran yang ditanggung tiap bulan?
Kata mama,
Mama bahagia melihat murid-muridnya bisa belajar. Bahagia bisa membantu para orangtua mengajar baca anak-anak mereka.
Lelah mama hilang saat menghadapi murid-muridnya. Meladeni kenakalan mereka yang terkadang lucu. Mama juga merasa cukup bahagia karena ilmu yang dipelajari bermanfaat. Amal jariyah bukan?
Aku tergugu.. menangis perlahan. Andai hatiku setulus mama... aku pasti mau jadi guru.
Jadi guru ternyata tak seindah yang ku bayangkan. Gaji yang sedikit. Jam kerja yang diforsir. Persiapan yang belibet dan administrasi yang menumpuk untuk diselesaikan.
Mamaku guru. Papaku mantan guru. Pakdeku guru, Budeku pun begitu. Om dan Tante pun guru. Simbah Utiku juga guru..
Jadi guru itu cuma dapat ucapan terima kasih. Sampai-sampai dibikinkan lagu terima kasih guru dan disebut pahlawan bangsa tanpa tanda jasa. Kalo mau menilik dari sisi idealis, seorang guru tak perlulah digaji besar. Guru itu harus ikhlas lahir batin. Mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran demi anak didik. Demi mereka yang katanya penerus bangsa. Bangsa yang seperti apa? Koruptor, licik, dan penuh orang bejat immoral yang haus harta dan tahta? Bangsa seperti itu buat apa diterus-teruskan? Membuat mesum sejarah dunia saja.
Ma, aku tak mau jadi guru..
Artis dibayar mahal, ada yang dibayar 15 juta per episode sinetron hanya untuk berakting galak. Marah-marah. Sampai dialognya ditiru anak usia tiga tahun, "Pergi sana!!" sambil menunjuk pintu. Ada penyanyi yang dibayar 60 juta sekali tampil hanya untuk tampil sensual dengan lagu yang ga jelas maknanya apa.
Tapi guru, sudah berbusa-busa menjelaskan materi ke anak didiknya yang kadang tak tau diuntung. Diajar capek-capek malah tidur, makan di kelas, mainan HP dan nggosip sama temen. Guru sudah menyiapkan materi semalaman suntuk, Membuat RPP demi kelangsungan pelajaran di esok hari. Dibayar UMR perbulan saja udah bersyukur.
Tak hanya mengajar. Guru juga harus mengumpulkan berkas-berkas administrasi untuk pendataan, dapodik, yang nyatanya belum tampak jelas fungsinya. Apa administrasi dan tetek bengeknya itu cuma untuk memberi pekerjaan pada birokrat pengangguran di kementrian? Entahlah.
Ma, aku tak mau jadi guru..
Guru tak materialistis. Guru hanya wajib menghitung-hitung pengeluaran dan pendapatannya perbulan. Anak minta susu, papa minta pulsa, sabun untuk mandi habis, listrik belum dibayar, besok kita makan lauk apa. Guru cuma harus berhadapan dengan kenyataan yang kadang tak indah.
Aku bertanya pada mama.
Maa...Kenapa mama tetap tersenyum?
Meski digaji kecil? Meski pendapatan tidak sebanding dengan pengeluaran yang ditanggung tiap bulan?
Kata mama,
Mama bahagia melihat murid-muridnya bisa belajar. Bahagia bisa membantu para orangtua mengajar baca anak-anak mereka.
Lelah mama hilang saat menghadapi murid-muridnya. Meladeni kenakalan mereka yang terkadang lucu. Mama juga merasa cukup bahagia karena ilmu yang dipelajari bermanfaat. Amal jariyah bukan?
Aku tergugu.. menangis perlahan. Andai hatiku setulus mama... aku pasti mau jadi guru.
Senin, 01 Februari 2016
HOBI
Semua orang pasti punya kegemaran alias hobi. Menurutku, hobi yang keren itu hobi yang bisa menelurkan duit. Uh, kece pasti. Hobi masak nih misal, berguna buat bikin bisnis katering. Hobi jahit baju, bisa bikin konveksi tuh. Sayangnya, aku ga punya hobi yang bisa digituin. Dijadiin lahan bisnis maksudku. Tapi juga gatau ding, apa gara-gara aku kurang jeli liat peluang? Entah.
1. Membaca
Sejak dulu cuma hobi ini yang paling setia tak tulis dimanapun. Dari TK, jaman tuker-tukeran biodata di binder, daftar SMP, bikin akun fesbuk, sampai akhir hayat mungkin juga begitu.
Paling suka sama novel-novel konspirasi, action yang ada bunuh-bunuhannya, fantasi, dan intinya suka banget sama novel asal bukan teenlit yang cinta-cintaan rawerrr.... <3 Kalopun baca teenlit cinya-cintaan itu hanya dalam tiga kondisi: khilaf, lelah baca buku yang pake mikir, dan terakhir buat nyari vocab dan gombalan sok romantis anak-anak kekinian :D
Efek dari baca teenlit juga cukup berbahaya buat aku, abisnya jadi pengen. Eh :3
2. Menulis
Nulis itu hobi yang baru-baru aja tumbuh pas akhir-akhir SD. Kelas lima-an lah. Sebenernya ga nyadar juga dulu kalo nulis itu diakuin sebagai hobi. Baru nyadar pas SMP *tepukjidat
Pas SD sih paling cuma suka nulis diary-diary gajelas. Nulis hari ini berantem sama siapa aja, matematika dapet nilai berapa, olah raga voly tapi tangannya bengkak gegara ga kuat mukul bola, pulang sekolah sendiri gara-gara ditinggal temen, kepingin beli sepatu pink, pengen beli binder baru.. Gaje pokmen. Suka ngakak kalo dibaca lagi -,-
Sakjane aku ngerasa kalo nulis itu bisa jadi duit. Tapi sekarang belum tak jalanin. Padahal tiga temenku SMP yang dulu bareng jurnalistik udah pada nerbitin buku, terus dua temen sekelasku sekarang juga pd nulis buku. Aku kapan? Paling baru bisa nulis gaje di blog, status alay di fesbuk, sama pm aneh di BBM -_-
tuh kan dedek sedih mas :3
3. Nonton Film
Ini hobi baru yang terbit pas SMK kelas satu. Tepatnya pas mbak sepupuku beli laptop. Ini juga yang membuatku dulu sering merindukan mbakku (laptopnya). Koleksi film yang seakan ga habis ditonton, ga ada iklan yang mengganggu. Apalagi pas panas menyengat, nonton film action, trus makan stik kentang, sambil nyender di tembok (belum punya pundak yang disenderin -,- ) di depan kipas angin. Aah secuil dunia berasa surgaa :D
4. Menyanyi
Well, suara sumbangku sakjane udah tenar dimana-mana. Dari alam arwah, alam kehidupan nyata, alam dunia maya, alam ghaib, sampai mungkin penduduk alam kubur pun tau meskipun aku belum sampai sana.
Pengibaratan yang luar biasa serem itu tak bikin karena memang suaraku lebih menderu daripada knalpot pajero dakkar seri terbaru, lebih mendesau dari angin pantai, lebih mencekik daripada sahutan burung emprit. Fals nya luar biasa. Heleh maaf ya lebay -,-
Dulu pas SD, suka banget duduk di daun jendela kamar yang tak berteralis, terus nyanyi-nyanyi apapun sesuka hati. Kalo ada orang lewat yaa di dadahin aja. Kalo yang lewat akrab yaa diteriakin. Darimana, mau kemana, ngapain lewat, sampai ngapain kamu pake sendal jepit. Asli. Absurd banget. Sungguh, ampuni aku Tuhan -,-
Okay saya lelah menulis alay. Kapan-kapan lagi ceritanya. Daah....
Jumat, 29 Januari 2016
Semoga Tak Sebatas Doa di Akhir Sujud
Siang ini udara terasa panas menyengat. Padahal dari tadi aku tak menginjakkan kaki keluar rumah. Tetep aja kepanasan. Well lupakan soal kisahku yang kepanasan ~
Sebenernya aku cuma pengen ngepost sesuatu. Tapi belum tau juga sih mau bahas apa. Apa aku bahas perasaan aja yaa?
Ngomongin soal perasaan mah ga ada abisnya. Itu topik nyesek buat para jomblo di segala alam. Terkadang jomblo itu bukan karena ga laku. Tapi karena emang pengen sendiri. Hal terumit yang aku alami adalah, ketika aku suka sama orang, trus aku tau kalo ternyata orang itu juga suka sama aku, tapi kita sama-sama ga (belum) bisa memiliki ternyata rasanya lebih dari sekedar patah hati.
Bayangin aja, setiap abis sholat ngotot berdoa abis-abisan buat dia. Mulai minta biar dijadiin jodohnya, dijagain hatinya, duh! Terus ngampus ketemu sama dia, disenyumin (ini part yang paling ga nguatin) sangking sayangnya, dia senyum aja udah ngobrak-abrik iman. Kamu terlalu ganteng mas -,- bikin aku pengen meluk #eh
Pahitnya kan disitu. Aku suka, dia suka tapi mau nikah masih belibet. Belum siap. Apaan kuliah belum lulus, kerjaan belum ada, mau makan apa kita? Rumput? Batu?
And in the end, only fate will answer it.
Tuhan tau kok takdir mana yang baik buatku. Kalo dia baik untukku, pasti akan dijodohkanNya untukku. Jika tidak, tentu Tuhan akan memberikan yang terbaik untukku. Kuharap, perasaan ini bukan hanya sekedar asa dan semoga tak sebatas doa di akhir sujud.
Tuhan, boleh kan aku minta dia jadi pasangan hidupku kelak?
Langganan:
Postingan (Atom)
Featured post
Khitan/ Sunat Anak di Subang
Halo semua, selamat tahun baru 2026 ya! Tahun 2025 adalah tahun yang lumayan dar der dor buat aku. Banyak pengalaman yang mendewasakanku ter...
-
Kemarin kamis 19 oktober 2017 saya harus ke Kebumen untuk melaksanakan audit di cabang perusahaan. Well, kalo lewat kebumen saya setidaknya ...
-
tulisan ini curhatan saya pribadi. mohon maaf jika ada pihak-pihak yang merasa tersinggung, mungkin cuma kebetulan. ceritanya dimulai dari...
-
Well, aku nggak mau nambahin berita buruk. Aku cuma mau cerita soal kenyataan. Tentang negeri besar yang dulu berjuluk negeri agraris, neger...