Kamis, 27 Agustus 2015

Selamat Memperbaiki Diri

Mengapa saya berubah?
Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sekuat tenaga coba saya jawab. Bayangkan, saya yang tadinya males ke dapur mendadak jadi rajin. Tadinya ga tau cara masak oseng-oseng akhirnya bisa, malah saya juga tau cara bikin lele bakar balado. Tadinya males ngerawat diri sendiri, akhir-akhir ini malah jadi rajin perawatan badan. Tadinya males-malesan belajar, tiba-tiba sekarang semangat baca buku kieso yang tebelnya bisa buat nggebuk maling.

Well, jujur saja awalnya saya ngelakuin itu karena saya jatuh hati sama seorang laki-laki. Dia laki-laki yang sangat baik, pintar, dan ramah. Belum lagi secara fisik laki-laki ini hampir sempurna. Entah saya bilang gitu karena saya suka dia atau karena ganteng beneran saya juga gatau ding. hehe.

Saya pernah baca bahwa jodoh itu sederajat atau istilahnya se'kufu'. Dalam Al Qur'an sendiri telah dijelaskan dengan gamblang bahwa laki-laki yang baik adalah untuk perempuan yang baik pula. Maka saya pun bertekad untuk berusaha keras mengimbanginya. 

Itu dulu.
Sekarang saya sadar, bahwa perbaikan yang sedang saya lakukan akan sia-sia jika hanya saya niatkan untuk mengimbanginya. Saya sadar bahwa hal-hal bermanfaat tersebut akan lebih baik lagi saya niatkan untuk Allah. Selain saya bisa jadi lebih baik, saya juga dapet pahala.

Terakhir saya pengen bilang, selamat memperbaiki diri. Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin, bukan? :)

Minggu, 16 Agustus 2015

Aku Memintamu untuk Berhenti......

Tulisan ini di dedikasikan untuk seseorang yang istimewa. Mungkin dia tak tau soal tulisan ini. Tapi biarlah, suatu saat dia pasti akan membacanya.

Aku meminta mu untuk berhenti memikirkan hal-hal yang menyedihkan. Karena hidup ini ga semenyedihkan yang kamu lihat.
Aku ga akan membandingkan hidupku dengan hidupmu. Karena hidup yang pernah kita alami tentu saja berbeda. Aku tak tau sekeras apa dan semenyedihkan apa hidupmu dulu. Tapi apapun itu, kita harus punya harapan dan cita-cita. Kita masih punya harapan untuk melunakkan masa depan.

Aku memintamu untuk berhenti memikirkan hal-hal yang menyedihkan. Meski lebih mudah untuk dikatakan daripada dijalankan, aku setuju sama kata-kata bang tere liye. Bahwa kita harus ikhlas, membiakan semuanya mengalir, membiarkan semuanya berjalan sesuai takdir. Seperti daun yang jatuh tertiup angin. Penerimaan yang tulus terkadang sangat menyakitkan.

Aku memintamu untuk berhenti memikirkan hal-hal yang menyedihkan. Meskipun Tuhan telah menetapkan Qada dan QadarNya, manusia masih diberi untuk menentukan nasibnya sendiri. Entah lewat usaha yang keras, atau lewat doa yang dipanjatkan sepanjang malam dengan air mata.

Aku memintamu untuk berhenti memikirkan hal hal yang menyedihkan. Mengapa tidak memasukkan saja semua pikiran bahagia ke dalam memorimu sehingga tercerabut semua pikiran burukmu.

Sekali lagi, aku hanya memintamu untuk berhenti memikirkan hal-hal yang menyedihkan. Karena hidupmu sebenarnya lebih bahagia daripada yang kau pikirkan. Jangan membuat orang-orang di sekitarmu sedih dengan pikiranmu tentang kesedihan, perpisahan, dan sejenisnya.
Kau tau? Aku selalu sedih saat kau mengatakan hal-hal mengerikan dan menyedihkan yang ada di pikiranmu. Because you shouldn't be like that.

I ask you to stop thinking the sadness thing you've ever had. I see no use in it.

Aku tak pernah memintamu untuk melakukan hal-hal romantis. Aku tak pernah memintamu untuk menjadi apa yang kuinginkan dan siapa yang kuinginkan. Because you're all that i want.
Tapi aku sungguh meminta satu hal darimu. Berhentilah memikirkan hal-hal yang menyedihkan.

Aku memintamu untuk berhenti memikirkan hal-hal yang menyedihkan. Itu akan membunuhku perlahan. Karena aku hidup dari optimisme dan pikiran bahagia yang kubangun dengan susah payah.
Tolong. Kalau kamu tak ingin melakukannya untuk kebaikanmu sendiri, maka lakukan itu untukku.
Aku akan sangat bahagia jika kamu bisa mengerti. Terima kasih.

Jumat, 14 Agustus 2015

Tekanan

Sore ini saya pengen bahas soal bagaimana sebenarnya sebuah tekanan bisa memicu kita meraih prestasi. Tekanan memang bukan dorongan yang baik. 
Bisa dibilang saya sejak kecil terbentuk oleh tekanan.
Ketika saya masih SD dulu, saya lumayan tertekan oleh aturan orang tua yang mewajibkan saya memakai jilbab ketika keluar rumah. Saat itu, teman-teman saya sibuk memakai bando dan ikat rambut boneka yang lucu-lucu. Sebagai satu-satunya siswi yang berjilbab di kelas, bohong rasanya kalo saya ga ngiri dengan kondisi itu. Saya punya bando atau ikat rambut boneka. Saya punya. Malah koleksi saya lebih bagus dari teman-teman saya. Tapi saya hanya bisa memakainya di dalam rumah, tidak bisa memamerkannya ke orang lain.
Tekanan juga datang dari teman-teman yang jahil bertanya, "yak, rambutmu panjangnya seberapa?"
atau pertanyaan "yak, kenapa sih kamu pake jilbab terus kalo keluar rumah?"

Itu tekanan pertama. Tekanan kedua adalah saya selalu ngerasa iri dan berbeda saat temen-temen saya cerita soal macam-macam sinetron dan lagu yang hits di TV saat itu. Orang tua saya 'mengharamkan' TV. Jadilah saya hanya bisa bengong saat topik pembicaraan yang ada di kelas adalah TV. Tanpa TV, saya tidak berarti kuper dan kudet. Saya justru tumbuh lebih dewasa dan mengerti kondisi sosial, ekonomi, bahkan kesehatan lebih baik dari anak seusia saya waktu itu. 
Sejak SD bahkan saya sudah membaca majalah-majalah 'dewasa' seperti Ummi, Ayah-Bunda, Risalah Mujahidin, Sabili, Swara Qur'an, dan sejenisnya.

Saya ingat betul, ketika kelas 4 SD, saya bertengkar dengan teman laki-laki namanya Hadi. Ketika guru datang, saya langsung mengadukan Hadi dengan berteriak-teriak bahwa Hadi melanggar emansipasi wanita, Hadi tidak menghargai wanita, dan sejenisnya. Padahal pertengkaran itu hanya dipicu karena Hadi tidak mau mengalah saat rebutan bangku tempat duduk. 

Kelas 4 SD, saya sering protes saat guru saya menjelaskan bab yang sama berulang kali. Saya sering protes, "Ini kan sudah kemarin pak." Guru saya dengan luar biasanya tetap tersenyum dan bilang, "Kalo semua murid langsung paham seperti Mutia yaa penak."

Beranjak kelas 5 SD, saya sudah berani berdebat pada guru saya yang kebetulan beda agama. Saya mulai tau tentang gerakan politik mahasiswa bernama KAMMI. Saya juga mulai membaca tentang perjuangan para muslimah berjilbab di tahun 2000an, Bukan hanya itu, bab kekerasan di institusi pendidikan IPDN juga saya baca. Eits, secara tak sengaja, pada masa ini saya juga tahu tanda-tanda orang hamil, termasuk saya juga membaca soal virus toxo yang menyerang ibu hamil, kemudian saya juga membaca soal hamil di luar kandungan, dsb. Meski saat itu saya ga terlalu paham pada istilah-istilah tertentu.

Saat kelas 6 SD, ranah bacaan saya meluas. Saya asik saja meminjam majalah berbahasa jawa Djoko Lodhang langganan guru saya. Beberapa kali saya ditertawakan karena menanyakan istilah-istilah jawa yang saya ga tau. Meski begitu, saya gagal mengenali bentuk wayang selain gatotkaca dan punakawan, aksara jawa saya hancur, dan nilai bahasa jawa yang tak beranjak dari angka tujuh.

Seperti saya bilang tadi, meski saya tertekan karena ga punya TV, pake jilbab sendirian, tapi tekanan itu mampu mengubah saya menjadi anak SD yang lebih dewasa. Saya selalu menang debat dengan teman-teman SD saya. Saya menjadi anak yang percaya diri. Saya berhasil menyumbangkan dua piala di atas lemari kepala sekolah. Saya terkenal. 
Mungkin cerita di atas lebay ya? Tapi boleh kok kalo kalian mau ngecek ke guru-guru dan teman-teman saya dulu. 
Hingga saya kuliah pun, guru-guru SD masih mengenali saya. "Aduh mutia, udah gede. Kuliah dimana kamu sekarang?", "Waa mutia tambah cantik ya?", "Mutia udah  perawan nih, udah gadis"
dan semacamnya. 

Oke, ini tulisan tanpa tema. Maaf ya kalo ga nyambung. Ini memang curhatan dan rada bernuansa nostalgia. haha. 

Jumat, 07 Agustus 2015

Cemburu

Jealous?
Have you felt jealous?
If you give that question to me, i'll say yes. I've known how hard  face that kind of  feeling is.

Cemburu itu rasa yang wajar dialami oleh setiap orang. Ga cuma orang dewasa. Balita pun bahkan bisa cemburu dengan caranya sendiri. Kalo kamu adalah anak pertama yang punya adek kecil. Ku kira kamu tau rasanya kan? Gimana kamu sangat cemburu pas adekmu di gendong ayah. Sedangkan ayah ga sudi menggendongmu dengan alasan, "Kakak udah gede, malu dong kalo masih minta digendong."

Cemburu itu saat temenmu lebih pinter, rangking satu terus di kelas, jadi primadona para guru. Sedangkan kita? Harus bikin masalah dulu biar diperhatiin guru.

Cemburu itu pas kamu deket sama cowok, terus cowok itu nolongin cewek lain. Belum lagi kalo misal cewek itu malah keGRan dan berusaha ikut mendekati cowok itu. Rasanya pengen banget nyakar cewek kayak gitu.

Guys, pernah mikir ga kalo Allah mungkin saja cemburu dengan kita. Saat Adzan berkumandang, bukannya kita sholat tapi malah nge Game atau malah sibuk mainan gadget. Pernah mikirin tentang hal itu? Betapa kita kadang terlalu jahat sama Allah yang Maha Baik. Allah udah ngasih limpahan karuniaNya pada kita tapi sering banget ga kita syukuri, Maafkan kami ya Rabb.

Sabtu, 01 Agustus 2015

Kebahagiaan

Actually i don't have any idea why i open my blog this morning. Tapi karena udah terlanjur buka, sayang kan kalo g nulis apapun.
Well kali ini saya bakal nulis tentang kebahagiaan. Tema ini saya comot sekenanya sesuai apa yang ada di otak saya sekarang.
Menurut saya, kebahagiaan yang dialami umat manusia itu ada beberapa jenis:

 1. Pura-pura bahagia
 Pura-pura bahagia adalah level terendah dari bahagia. Hal ini tidak pernah diinginkan oleh siapapun. Tapi kadang pura-pura bahagia harus dijalani untuk menutupi luka hati. cie.
Kalo kamu lagi di level ini, i suggest you to eat more karbohidrat and protein. Karena pura-pura bahagia itu butuh energi banyak. Bahkan saat di level ini, untuk tersenyum pun susah. Karena tiap kamu nyoba tersenyum, kamu seperti menusukkan belati ke dalam hati. Oke ini alay.

2. Kebahagiaan semu
Kebahagiaan ini saya artikan sebagai kebahagiaan sementara, yang sebenarnya juga palsu, dan sesaat. Contoh, besok saya ada UAS, tapi hari itu saya dipinjemin novel yang udah lama diidam-idamkan. Sesaat kadang  ada trade-off yang rumit dalam kepala. Pilihannya dua, belajar dulu atau baca novel?
Seringkali saya berusaha bersikap rasional untuk memilih belajar dulu, tapi otak saya menghianati kerasionalannya sendiri. Sehingga saat belajar saya malah bolak-balik ngelirik novel. Ga konsen.
Ketika saya putuskan untuk baca novel, saya sangat bahagia. Tapi cuma sementara. Lha pas UAS saya mengalami penyesalan seumur jagung :D


3. Bahagia
Saya pernah baca di tulisan kakak sepupu saya, bahwa Happiness isn't a destination. It's a journey. Yaa saya setuju sih. Kebahagiaan itu kita ciptakan sendiri saat menjalani hidup. It's depend on how we take the point of view. Heleh ~
Kalo kita ga punya duit misal, kita tetep bisa bahagia kok asal positive thinking. Anggep aja ketika kita ga punya duit itu berarti kita lagi suruh ngirit sama Allah atau bisa juga ketika kita ga punya duit itu berarti timing yang tepat buat diet :D

4. Kebahagiaan sejati
Lalu apa kebahagiaan sejati itu? Apa ketika kita nemu jodoh itu termasuk kebahagiaan sejati? Noo, it's just a little part of it. Kebahagiaan sejati bagi seorang muslim adalah ketika berhasil menginjakkan kaki di surgaNya.

Anyway, apa kabar hari ini? Kamu mengalami jenis bahagia yang mana? :D

Kamis, 11 Juni 2015

POLIGAMI? yes or no? I choose or :D

Mungkin karena saya berkali-kali diajakin bahas soal poligami sama seorang cowok songong, saya jadi gatel banget pengen nulis soal poligami. Islam memang menghalalkan poligami. Dalil yang paling terkenal ada di QS An-nisa ayat ketiga;
"Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya."
Sebab turunnnya ayat ini adalah:
bahwa Urwah bin az Zubeir bertanya kepada Aisyah tentang firman Allah وَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى , maka Aisyah berkata,”Wahai anak saadara perempuanku sesungguhnya anak perempuan yatim ini berada didalam perawatan walinya—ia menyertainya didalam hartanya, lalu walinya tertarik dengan harta dan kecantikan anak perempuan yatim itu dan menginginkan untuk menikahinya dan tidak berlaku adil terhadap maharnya, dia memberikan mahar kepadanya tidak seperti orang lain memberikan mahar kepadanya. Maka mereka dilarang untuk menikahi anak-anak perempuan yatim kecuali apabila mereka dapat berlaku adil terhadap anak-anak perempuan yatim itu dan memberikan kepada anak-anak perempuan yatim itu yang lebih besar dari kebiasaan mereka dalam hal mahar. Maka para wali itu pun disuruh untuk menikahi wanita-wanita lain yang disenanginya selain dari anak-anak perempuan yatim itu.” (http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/poligami-dan-asbabun-nuzul-ayat-poligami.htm#.VXjy_FKyB0s)

Well, saya memang bukan ahli tafsir Al Qur'an. Tapi sepemahaman saya adalah ketika laki-laki mampu berbuat adil, maka silakan berpoligami. Kalau tidak, ya satu saja.
Masalah adil disini tidak hanya terbatas soal uang belanja, tapi juga soal waktu dan nafkah lahir batin. Contoh dalam seminggu si suami membagi waktunya 3 hari untuk istri satu, dan empat hari untuk istri dua.
Saat suami itu melebihkan jadi lima hari untuk istri dua tanpa persetujuan dan keikhlasan istri satu. Maka ia sudah di cap tidak adil.
".......maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya."
Di akhir ayat, menganjurkan monogami agar laki-laki lebih aman dari perbuatan aniaya pada perempuan.

Nah sekarang kalau alasannya adalah jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki?

http://www.census.gov/population/international/data/worldpop/tool_population.phpi
Laki-laki & perempuan itu lebih banyak laki-laki. Tingkat kelahirannya pun lebih tinggi laki-laki. Tapi, perlu diingat juga bahwa usia harapan perempuan jauh lebih panjang dari laki-laki.
Itulah sebabnya perempuan lebih banyak dari laki-laki. Mengapa? Banyak janda, banyak nenek-nenek yang ditinggal mati sama suaminya. Jadi kalo masnya mau poligami, silakan. Mau sama nenek saya yang udah 72 tahun? Monggo.. haha

Setahu saya, Rasulullah SAW dulu berpoligami tujuannya adalah untuk menolong janda-janda perang atau tawanan yang masuk Islam. Tujuannya untuk menolong, bukan untuk melampiaskan hasrat biologis semata.

Poligami memang diperbolehkan kalau misalnya si Istri tidak sanggup memenuhi apa yang menjadi kewajibannya kepada suami. Tapi kalo Istri bisa memberikan semuanya, mengapa masih harus poligami?
Lagian memangnya poligami itu gampang? Punya istri satu aja kebutuhannya mengerikan banyaknya, apalagi kalo dua, tiga, empat. Sekali lagi, nafkah itu ga cuma soal duit.  http://www.akhwatindonesia.com/2015/06/itu-semua-bukan-kewajiban-istri-lalu/

Bukankah si suami bisa mengkritik istrinya seenak jidat. Misalnya, kalo istrinya kurang cantik kan tinggal bilang, "Dek, kamu sekarang kok tambah gendut, diet laah say", 'Dek, kok kamu sekarang tambah item? Facial sana" "Dek, bajumu kurang seksi, kurang pendek" haha
Bukankah itu lebih baik buat perempuan daripada harus mendengar kata-kata "Dek, mas boleh nikah lagi?"
Hadeh, dunia kiamat saat itu juga, bahkan ditelan hiu parang tritis, dipungut nyi roro kidul pun rasanya lebih baik.
Saya pribadi memang ga suka di poligami. Yaa perempuan manapun saya rasa juga begitu.
Tapi poligami tak selamanya negatif, poligami menjadi solusi apabila si Istri tak mampu memberikan anak, atau istrinya punya penyakit, atau istrinya ga sanggup melayani libido laki-laki. Poligami juga saya rasa lebih baik daripada selingkuh.

Aaah entahlah,  saya bahkan belum pernah nikah.
Saya ga takut dipoligami, karena saya yakin ga ada laki-laki yang sanggup mempoligami cewe istriable dan mamaable macam saya. haha
Ini tulisan juga pendapat ngawur yang berkeliaran di otak.
Selamaat pagi, selamaat menikmati minggu tenang. :D

Senin, 04 Mei 2015

Oleh-oleh Seminar 'Peran Media dalam Membentuk Opini Publik'

Postingan ini cuma mau ngeshare sedikit ilmu yang saya dapet dari seminar tadi pagi di UMY. Tema seminarnya adalah 'peran media dalam membentuk opini publik'. Pembicara  yang dihadirkan adalah Lalu Muhammad Iqbal dari Kementrian Luar Negeri dan Ali Yasin dari Tempo. Seminar dimoderatori oleh Muhammad Ihsan alumni HI 2010 UMY. Nah, berikut adalah beberapa hal yang saya garis bawahi pada seminar tadi. Cekidot:
Ada tiga area yang sangat berkaitan yaitu:  Problem Handling, Public Opinion, dan Political Impact.
saat kita menangani masalah, maka muncul yang namanya opini publik. Opini publik yang muncul membawa dampak politik.
Ada tiga mood dalam menangani media:
1. Apabila yang terjadi adalah good case maka jadilah teman dekat media untuk menyebarkan hal tersebut.
2. Jika netral case, maka tetaplah memberi info pada mereka.
3. If the bad case happen,  cegahlah kerugian yang terjadi akibat pembentukan opini publik.
There are key principles dalam berhubungan dengan media:
1. Honesty: jujurlah pada media tentang apa yang terjadi, apa yang kita inginkan, dan apa yang kita ingin mereka lakukan. InsyaAllah mereka juga akan jujur.
2. Understand: Saling pengertian bahwa antara kita dengan media, masing-masing punya kepentingan pribadi maupun organisasi yang dibawa.
3. Treat properly and respectfully: perlakukan media dengan tepat dan hormat. Jangan kebanyakan 'no comment' because 'no comment' is the comment it self.
4. Talk: selalu bicara dengan media. Jangan dateng ke media cuma pas butuh tok.
Tips untuk menghandle media:
1. Drive them before they does. Kita harus tau apa yang diinginkan media untuk menyetir mereka.
2. Follow them. Selalu update pemberitaan.
3. Set the tone. Ini mirip-mirip poin satu diatas. Intinya atur lah media sebelum media mengaturmu.
4. Talk in their language. Jangan bicara ke mereka dengan bahasa yang bebas diinterpretasikan
Nah, itu tadi sepertinya berguna bagi para calon pejabat agar tidak disetir media.  Ga perlu 'membeli' media. That's wasting time and money.  Asal kita tau gimana cara menghandlenya saja sudah cukup.
Menginjak ke materi kedua, Pak Ali membukanya dengan sebuah quote, 'picture speaks louder than words'. Beliau kemudian menjelaskan sedikit banyak tentang foto jurnalistik. Foto jurnalistik menurut beliau, mengandung cerita bahkan tanpa harus diimbuhi dengan kata. Beliau juga memaparkan tentang prinsip-prinsip jurnalistik. Diantaranya adalah:
berpegang pada kebenaran, loyalitas pada masyarakat, selalu melakukan verifikasi atau both side cover, independen, serta terbuka pada kritik dan saran.
Sekedar info tambahan, untuk menunjang independensi wartawan dan karyawan Tempo maka 21% saham perusahaan adalah milik wartawan dan karyawan yang dikelola lewat sebuah yayasan.
Sekian share sedikit ilmu dari saya. Good night. :)

Featured post

Khitan/ Sunat Anak di Subang

Halo semua, selamat tahun baru 2026 ya! Tahun 2025 adalah tahun yang lumayan dar der dor buat aku. Banyak pengalaman yang mendewasakanku ter...