Jealous?
Have you felt jealous?
If you give that question to me, i'll say yes. I've known how hard face that kind of feeling is.
Cemburu itu rasa yang wajar dialami oleh setiap orang. Ga cuma orang dewasa. Balita pun bahkan bisa cemburu dengan caranya sendiri. Kalo kamu adalah anak pertama yang punya adek kecil. Ku kira kamu tau rasanya kan? Gimana kamu sangat cemburu pas adekmu di gendong ayah. Sedangkan ayah ga sudi menggendongmu dengan alasan, "Kakak udah gede, malu dong kalo masih minta digendong."
Cemburu itu saat temenmu lebih pinter, rangking satu terus di kelas, jadi primadona para guru. Sedangkan kita? Harus bikin masalah dulu biar diperhatiin guru.
Cemburu itu pas kamu deket sama cowok, terus cowok itu nolongin cewek lain. Belum lagi kalo misal cewek itu malah keGRan dan berusaha ikut mendekati cowok itu. Rasanya pengen banget nyakar cewek kayak gitu.
Guys, pernah mikir ga kalo Allah mungkin saja cemburu dengan kita. Saat Adzan berkumandang, bukannya kita sholat tapi malah nge Game atau malah sibuk mainan gadget. Pernah mikirin tentang hal itu? Betapa kita kadang terlalu jahat sama Allah yang Maha Baik. Allah udah ngasih limpahan karuniaNya pada kita tapi sering banget ga kita syukuri, Maafkan kami ya Rabb.
Jumat, 07 Agustus 2015
Sabtu, 01 Agustus 2015
Kebahagiaan
Actually i don't have any idea why i open my blog this morning. Tapi karena udah terlanjur buka, sayang kan kalo g nulis apapun.
Well kali ini saya bakal nulis tentang kebahagiaan. Tema ini saya comot sekenanya sesuai apa yang ada di otak saya sekarang.
Menurut saya, kebahagiaan yang dialami umat manusia itu ada beberapa jenis:
1. Pura-pura bahagia
Pura-pura bahagia adalah level terendah dari bahagia. Hal ini tidak pernah diinginkan oleh siapapun. Tapi kadang pura-pura bahagia harus dijalani untuk menutupi luka hati. cie.
Kalo kamu lagi di level ini, i suggest you to eat more karbohidrat and protein. Karena pura-pura bahagia itu butuh energi banyak. Bahkan saat di level ini, untuk tersenyum pun susah. Karena tiap kamu nyoba tersenyum, kamu seperti menusukkan belati ke dalam hati. Oke ini alay.
2. Kebahagiaan semu
Kebahagiaan ini saya artikan sebagai kebahagiaan sementara, yang sebenarnya juga palsu, dan sesaat. Contoh, besok saya ada UAS, tapi hari itu saya dipinjemin novel yang udah lama diidam-idamkan. Sesaat kadang ada trade-off yang rumit dalam kepala. Pilihannya dua, belajar dulu atau baca novel?
Seringkali saya berusaha bersikap rasional untuk memilih belajar dulu, tapi otak saya menghianati kerasionalannya sendiri. Sehingga saat belajar saya malah bolak-balik ngelirik novel. Ga konsen.
Ketika saya putuskan untuk baca novel, saya sangat bahagia. Tapi cuma sementara. Lha pas UAS saya mengalami penyesalan seumur jagung :D
3. Bahagia
Saya pernah baca di tulisan kakak sepupu saya, bahwa Happiness isn't a destination. It's a journey. Yaa saya setuju sih. Kebahagiaan itu kita ciptakan sendiri saat menjalani hidup. It's depend on how we take the point of view. Heleh ~
Kalo kita ga punya duit misal, kita tetep bisa bahagia kok asal positive thinking. Anggep aja ketika kita ga punya duit itu berarti kita lagi suruh ngirit sama Allah atau bisa juga ketika kita ga punya duit itu berarti timing yang tepat buat diet :D
4. Kebahagiaan sejati
Lalu apa kebahagiaan sejati itu? Apa ketika kita nemu jodoh itu termasuk kebahagiaan sejati? Noo, it's just a little part of it. Kebahagiaan sejati bagi seorang muslim adalah ketika berhasil menginjakkan kaki di surgaNya.
Anyway, apa kabar hari ini? Kamu mengalami jenis bahagia yang mana? :D
Well kali ini saya bakal nulis tentang kebahagiaan. Tema ini saya comot sekenanya sesuai apa yang ada di otak saya sekarang.
Menurut saya, kebahagiaan yang dialami umat manusia itu ada beberapa jenis:
1. Pura-pura bahagia
Pura-pura bahagia adalah level terendah dari bahagia. Hal ini tidak pernah diinginkan oleh siapapun. Tapi kadang pura-pura bahagia harus dijalani untuk menutupi luka hati. cie.
Kalo kamu lagi di level ini, i suggest you to eat more karbohidrat and protein. Karena pura-pura bahagia itu butuh energi banyak. Bahkan saat di level ini, untuk tersenyum pun susah. Karena tiap kamu nyoba tersenyum, kamu seperti menusukkan belati ke dalam hati. Oke ini alay.
2. Kebahagiaan semu
Kebahagiaan ini saya artikan sebagai kebahagiaan sementara, yang sebenarnya juga palsu, dan sesaat. Contoh, besok saya ada UAS, tapi hari itu saya dipinjemin novel yang udah lama diidam-idamkan. Sesaat kadang ada trade-off yang rumit dalam kepala. Pilihannya dua, belajar dulu atau baca novel?
Seringkali saya berusaha bersikap rasional untuk memilih belajar dulu, tapi otak saya menghianati kerasionalannya sendiri. Sehingga saat belajar saya malah bolak-balik ngelirik novel. Ga konsen.
Ketika saya putuskan untuk baca novel, saya sangat bahagia. Tapi cuma sementara. Lha pas UAS saya mengalami penyesalan seumur jagung :D
3. Bahagia
Saya pernah baca di tulisan kakak sepupu saya, bahwa Happiness isn't a destination. It's a journey. Yaa saya setuju sih. Kebahagiaan itu kita ciptakan sendiri saat menjalani hidup. It's depend on how we take the point of view. Heleh ~
Kalo kita ga punya duit misal, kita tetep bisa bahagia kok asal positive thinking. Anggep aja ketika kita ga punya duit itu berarti kita lagi suruh ngirit sama Allah atau bisa juga ketika kita ga punya duit itu berarti timing yang tepat buat diet :D
4. Kebahagiaan sejati
Lalu apa kebahagiaan sejati itu? Apa ketika kita nemu jodoh itu termasuk kebahagiaan sejati? Noo, it's just a little part of it. Kebahagiaan sejati bagi seorang muslim adalah ketika berhasil menginjakkan kaki di surgaNya.
Anyway, apa kabar hari ini? Kamu mengalami jenis bahagia yang mana? :D
Kamis, 11 Juni 2015
POLIGAMI? yes or no? I choose or :D
Mungkin karena saya berkali-kali diajakin bahas soal poligami sama seorang cowok songong, saya jadi gatel banget pengen nulis soal poligami. Islam memang menghalalkan poligami. Dalil yang paling terkenal ada di QS An-nisa ayat ketiga;
"Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya."
Sebab turunnnya ayat ini adalah:
bahwa Urwah bin az Zubeir bertanya kepada Aisyah tentang firman Allah وَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى , maka Aisyah berkata,”Wahai anak saadara perempuanku sesungguhnya anak perempuan yatim ini berada didalam perawatan walinya—ia menyertainya didalam hartanya, lalu walinya tertarik dengan harta dan kecantikan anak perempuan yatim itu dan menginginkan untuk menikahinya dan tidak berlaku adil terhadap maharnya, dia memberikan mahar kepadanya tidak seperti orang lain memberikan mahar kepadanya. Maka mereka dilarang untuk menikahi anak-anak perempuan yatim kecuali apabila mereka dapat berlaku adil terhadap anak-anak perempuan yatim itu dan memberikan kepada anak-anak perempuan yatim itu yang lebih besar dari kebiasaan mereka dalam hal mahar. Maka para wali itu pun disuruh untuk menikahi wanita-wanita lain yang disenanginya selain dari anak-anak perempuan yatim itu.” (http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/poligami-dan-asbabun-nuzul-ayat-poligami.htm#.VXjy_FKyB0s)
Well, saya memang bukan ahli tafsir Al Qur'an. Tapi sepemahaman saya adalah ketika laki-laki mampu berbuat adil, maka silakan berpoligami. Kalau tidak, ya satu saja.
Masalah adil disini tidak hanya terbatas soal uang belanja, tapi juga soal waktu dan nafkah lahir batin. Contoh dalam seminggu si suami membagi waktunya 3 hari untuk istri satu, dan empat hari untuk istri dua.
Saat suami itu melebihkan jadi lima hari untuk istri dua tanpa persetujuan dan keikhlasan istri satu. Maka ia sudah di cap tidak adil.
".......maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya."
Di akhir ayat, menganjurkan monogami agar laki-laki lebih aman dari perbuatan aniaya pada perempuan.
Nah sekarang kalau alasannya adalah jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki?
http://www.census.gov/population/international/data/worldpop/tool_population.phpi
Laki-laki & perempuan itu lebih banyak laki-laki. Tingkat kelahirannya pun lebih tinggi laki-laki. Tapi, perlu diingat juga bahwa usia harapan perempuan jauh lebih panjang dari laki-laki.
Itulah sebabnya perempuan lebih banyak dari laki-laki. Mengapa? Banyak janda, banyak nenek-nenek yang ditinggal mati sama suaminya. Jadi kalo masnya mau poligami, silakan. Mau sama nenek saya yang udah 72 tahun? Monggo.. haha
Setahu saya, Rasulullah SAW dulu berpoligami tujuannya adalah untuk menolong janda-janda perang atau tawanan yang masuk Islam. Tujuannya untuk menolong, bukan untuk melampiaskan hasrat biologis semata.
Poligami memang diperbolehkan kalau misalnya si Istri tidak sanggup memenuhi apa yang menjadi kewajibannya kepada suami. Tapi kalo Istri bisa memberikan semuanya, mengapa masih harus poligami?
Lagian memangnya poligami itu gampang? Punya istri satu aja kebutuhannya mengerikan banyaknya, apalagi kalo dua, tiga, empat. Sekali lagi, nafkah itu ga cuma soal duit. http://www.akhwatindonesia.com/2015/06/itu-semua-bukan-kewajiban-istri-lalu/
Bukankah si suami bisa mengkritik istrinya seenak jidat. Misalnya, kalo istrinya kurang cantik kan tinggal bilang, "Dek, kamu sekarang kok tambah gendut, diet laah say", 'Dek, kok kamu sekarang tambah item? Facial sana" "Dek, bajumu kurang seksi, kurang pendek" haha
Bukankah itu lebih baik buat perempuan daripada harus mendengar kata-kata "Dek, mas boleh nikah lagi?"
Hadeh, dunia kiamat saat itu juga, bahkan ditelan hiu parang tritis, dipungut nyi roro kidul pun rasanya lebih baik.
Saya pribadi memang ga suka di poligami. Yaa perempuan manapun saya rasa juga begitu.
Tapi poligami tak selamanya negatif, poligami menjadi solusi apabila si Istri tak mampu memberikan anak, atau istrinya punya penyakit, atau istrinya ga sanggup melayani libido laki-laki. Poligami juga saya rasa lebih baik daripada selingkuh.
Aaah entahlah, saya bahkan belum pernah nikah.
Saya ga takut dipoligami, karena saya yakin ga ada laki-laki yang sanggup mempoligami cewe istriable dan mamaable macam saya. haha
Ini tulisan juga pendapat ngawur yang berkeliaran di otak.
Selamaat pagi, selamaat menikmati minggu tenang. :D
"Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya."
Sebab turunnnya ayat ini adalah:
bahwa Urwah bin az Zubeir bertanya kepada Aisyah tentang firman Allah وَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى , maka Aisyah berkata,”Wahai anak saadara perempuanku sesungguhnya anak perempuan yatim ini berada didalam perawatan walinya—ia menyertainya didalam hartanya, lalu walinya tertarik dengan harta dan kecantikan anak perempuan yatim itu dan menginginkan untuk menikahinya dan tidak berlaku adil terhadap maharnya, dia memberikan mahar kepadanya tidak seperti orang lain memberikan mahar kepadanya. Maka mereka dilarang untuk menikahi anak-anak perempuan yatim kecuali apabila mereka dapat berlaku adil terhadap anak-anak perempuan yatim itu dan memberikan kepada anak-anak perempuan yatim itu yang lebih besar dari kebiasaan mereka dalam hal mahar. Maka para wali itu pun disuruh untuk menikahi wanita-wanita lain yang disenanginya selain dari anak-anak perempuan yatim itu.” (http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/poligami-dan-asbabun-nuzul-ayat-poligami.htm#.VXjy_FKyB0s)
Well, saya memang bukan ahli tafsir Al Qur'an. Tapi sepemahaman saya adalah ketika laki-laki mampu berbuat adil, maka silakan berpoligami. Kalau tidak, ya satu saja.
Masalah adil disini tidak hanya terbatas soal uang belanja, tapi juga soal waktu dan nafkah lahir batin. Contoh dalam seminggu si suami membagi waktunya 3 hari untuk istri satu, dan empat hari untuk istri dua.
Saat suami itu melebihkan jadi lima hari untuk istri dua tanpa persetujuan dan keikhlasan istri satu. Maka ia sudah di cap tidak adil.
".......maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya."
Di akhir ayat, menganjurkan monogami agar laki-laki lebih aman dari perbuatan aniaya pada perempuan.
Nah sekarang kalau alasannya adalah jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki?
http://www.census.gov/population/international/data/worldpop/tool_population.phpi
Laki-laki & perempuan itu lebih banyak laki-laki. Tingkat kelahirannya pun lebih tinggi laki-laki. Tapi, perlu diingat juga bahwa usia harapan perempuan jauh lebih panjang dari laki-laki.
Itulah sebabnya perempuan lebih banyak dari laki-laki. Mengapa? Banyak janda, banyak nenek-nenek yang ditinggal mati sama suaminya. Jadi kalo masnya mau poligami, silakan. Mau sama nenek saya yang udah 72 tahun? Monggo.. haha
Setahu saya, Rasulullah SAW dulu berpoligami tujuannya adalah untuk menolong janda-janda perang atau tawanan yang masuk Islam. Tujuannya untuk menolong, bukan untuk melampiaskan hasrat biologis semata.
Poligami memang diperbolehkan kalau misalnya si Istri tidak sanggup memenuhi apa yang menjadi kewajibannya kepada suami. Tapi kalo Istri bisa memberikan semuanya, mengapa masih harus poligami?
Lagian memangnya poligami itu gampang? Punya istri satu aja kebutuhannya mengerikan banyaknya, apalagi kalo dua, tiga, empat. Sekali lagi, nafkah itu ga cuma soal duit. http://www.akhwatindonesia.com/2015/06/itu-semua-bukan-kewajiban-istri-lalu/
Bukankah si suami bisa mengkritik istrinya seenak jidat. Misalnya, kalo istrinya kurang cantik kan tinggal bilang, "Dek, kamu sekarang kok tambah gendut, diet laah say", 'Dek, kok kamu sekarang tambah item? Facial sana" "Dek, bajumu kurang seksi, kurang pendek" haha
Bukankah itu lebih baik buat perempuan daripada harus mendengar kata-kata "Dek, mas boleh nikah lagi?"
Hadeh, dunia kiamat saat itu juga, bahkan ditelan hiu parang tritis, dipungut nyi roro kidul pun rasanya lebih baik.
Saya pribadi memang ga suka di poligami. Yaa perempuan manapun saya rasa juga begitu.
Tapi poligami tak selamanya negatif, poligami menjadi solusi apabila si Istri tak mampu memberikan anak, atau istrinya punya penyakit, atau istrinya ga sanggup melayani libido laki-laki. Poligami juga saya rasa lebih baik daripada selingkuh.
Aaah entahlah, saya bahkan belum pernah nikah.
Saya ga takut dipoligami, karena saya yakin ga ada laki-laki yang sanggup mempoligami cewe istriable dan mamaable macam saya. haha
Ini tulisan juga pendapat ngawur yang berkeliaran di otak.
Selamaat pagi, selamaat menikmati minggu tenang. :D
Senin, 04 Mei 2015
Oleh-oleh Seminar 'Peran Media dalam Membentuk Opini Publik'
Postingan ini cuma mau ngeshare sedikit ilmu yang saya dapet dari seminar tadi pagi di UMY. Tema seminarnya adalah 'peran media dalam membentuk opini publik'. Pembicara yang dihadirkan adalah Lalu Muhammad Iqbal dari Kementrian Luar Negeri dan Ali Yasin dari Tempo. Seminar dimoderatori oleh Muhammad Ihsan alumni HI 2010 UMY. Nah, berikut adalah beberapa hal yang saya garis bawahi pada seminar tadi. Cekidot:
Ada tiga area yang sangat berkaitan yaitu: Problem Handling, Public Opinion, dan Political Impact.
saat kita menangani masalah, maka muncul yang namanya opini publik. Opini publik yang muncul membawa dampak politik.
Ada tiga mood dalam menangani media:
1. Apabila yang terjadi adalah good case maka jadilah teman dekat media untuk menyebarkan hal tersebut.
2. Jika netral case, maka tetaplah memberi info pada mereka.
3. If the bad case happen, cegahlah kerugian yang terjadi akibat pembentukan opini publik.
There are key principles dalam berhubungan dengan media:
1. Honesty: jujurlah pada media tentang apa yang terjadi, apa yang kita inginkan, dan apa yang kita ingin mereka lakukan. InsyaAllah mereka juga akan jujur.
2. Understand: Saling pengertian bahwa antara kita dengan media, masing-masing punya kepentingan pribadi maupun organisasi yang dibawa.
3. Treat properly and respectfully: perlakukan media dengan tepat dan hormat. Jangan kebanyakan 'no comment' because 'no comment' is the comment it self.
4. Talk: selalu bicara dengan media. Jangan dateng ke media cuma pas butuh tok.
Tips untuk menghandle media:
1. Drive them before they does. Kita harus tau apa yang diinginkan media untuk menyetir mereka.
2. Follow them. Selalu update pemberitaan.
3. Set the tone. Ini mirip-mirip poin satu diatas. Intinya atur lah media sebelum media mengaturmu.
4. Talk in their language. Jangan bicara ke mereka dengan bahasa yang bebas diinterpretasikan
Nah, itu tadi sepertinya berguna bagi para calon pejabat agar tidak disetir media. Ga perlu 'membeli' media. That's wasting time and money. Asal kita tau gimana cara menghandlenya saja sudah cukup.
Menginjak ke materi kedua, Pak Ali membukanya dengan sebuah quote, 'picture speaks louder than words'. Beliau kemudian menjelaskan sedikit banyak tentang foto jurnalistik. Foto jurnalistik menurut beliau, mengandung cerita bahkan tanpa harus diimbuhi dengan kata. Beliau juga memaparkan tentang prinsip-prinsip jurnalistik. Diantaranya adalah:
berpegang pada kebenaran, loyalitas pada masyarakat, selalu melakukan verifikasi atau both side cover, independen, serta terbuka pada kritik dan saran.
Sekedar info tambahan, untuk menunjang independensi wartawan dan karyawan Tempo maka 21% saham perusahaan adalah milik wartawan dan karyawan yang dikelola lewat sebuah yayasan.
Sekian share sedikit ilmu dari saya. Good night. :)
Ada tiga area yang sangat berkaitan yaitu: Problem Handling, Public Opinion, dan Political Impact.
saat kita menangani masalah, maka muncul yang namanya opini publik. Opini publik yang muncul membawa dampak politik.
Ada tiga mood dalam menangani media:
1. Apabila yang terjadi adalah good case maka jadilah teman dekat media untuk menyebarkan hal tersebut.
2. Jika netral case, maka tetaplah memberi info pada mereka.
3. If the bad case happen, cegahlah kerugian yang terjadi akibat pembentukan opini publik.
There are key principles dalam berhubungan dengan media:
1. Honesty: jujurlah pada media tentang apa yang terjadi, apa yang kita inginkan, dan apa yang kita ingin mereka lakukan. InsyaAllah mereka juga akan jujur.
2. Understand: Saling pengertian bahwa antara kita dengan media, masing-masing punya kepentingan pribadi maupun organisasi yang dibawa.
3. Treat properly and respectfully: perlakukan media dengan tepat dan hormat. Jangan kebanyakan 'no comment' because 'no comment' is the comment it self.
4. Talk: selalu bicara dengan media. Jangan dateng ke media cuma pas butuh tok.
Tips untuk menghandle media:
1. Drive them before they does. Kita harus tau apa yang diinginkan media untuk menyetir mereka.
2. Follow them. Selalu update pemberitaan.
3. Set the tone. Ini mirip-mirip poin satu diatas. Intinya atur lah media sebelum media mengaturmu.
4. Talk in their language. Jangan bicara ke mereka dengan bahasa yang bebas diinterpretasikan
Nah, itu tadi sepertinya berguna bagi para calon pejabat agar tidak disetir media. Ga perlu 'membeli' media. That's wasting time and money. Asal kita tau gimana cara menghandlenya saja sudah cukup.
Menginjak ke materi kedua, Pak Ali membukanya dengan sebuah quote, 'picture speaks louder than words'. Beliau kemudian menjelaskan sedikit banyak tentang foto jurnalistik. Foto jurnalistik menurut beliau, mengandung cerita bahkan tanpa harus diimbuhi dengan kata. Beliau juga memaparkan tentang prinsip-prinsip jurnalistik. Diantaranya adalah:
berpegang pada kebenaran, loyalitas pada masyarakat, selalu melakukan verifikasi atau both side cover, independen, serta terbuka pada kritik dan saran.
Sekedar info tambahan, untuk menunjang independensi wartawan dan karyawan Tempo maka 21% saham perusahaan adalah milik wartawan dan karyawan yang dikelola lewat sebuah yayasan.
Sekian share sedikit ilmu dari saya. Good night. :)
Minggu, 26 April 2015
Curhat gaje -,-
Hai, aku Tia. Usiaku baru 19 tahun. Entahlah aku yang terlalu dewasa atau memang sudah saatnya aku jatuh cinta? Aku tipe perempuan yang sering berpikir logis tentang siapa laki-laki yang harus aku cintai. Eh? Aku ga berani mengatakan ini cinta ding, karena aku belum pernah mengorbankan apapun untuk laki-laki yang aku suka. Kalian pasti bingung kan dengan ceritaku diatas? Emang udah cerita? -,- Bodo lah. Sangking galaunya aku bingung mau nulis apaan.
Lulus SMK sebenarnya aku sudah bertekad untuk mengubur dalam-dalam perasaan kagum terhadap lelaki manapun. Aku ingin kagum dengan orang yang akan kunikahi suatu saat nanti pada saat yang tepat. Aku anggap itu mudah. Dengan tugas kuliah seabrek, banyaknya rapat organisasi, dan kesibukan membantu ibu dirumah akan membuatku lupa dengan hal-hal melankolis dan menye semacam itu. Kupikir itu mudah dilakukan.
Ternyata tidak. Awal aku OSPEK, godaan itu datang. Seorang laki-laki yang sama-sama maba titip salam lewat temanku. Ganteng sih. Tapi aku mengeyahkan laki-laki itu dari pikiran dengan alasan aku ga pantas dan dia jauh diatas. Otakku menyusun list plus minusku dibanding dia dengan cepat. Hasilnya kupaksakan aku yang minus dengan tujuan agar aku ga keGRan. Lagian saat aku ketemu dia rasanya biasa aja. Dunia tetap memutari matahari dan jantungku berdetak normal. Berarti it's okay, aku ga ada chemistry sama dia.
Semester dua dan semester tiga kulalui dengan biasa aja. Semester tiga? Tunggu. Ada yang kacau di akhir semester tiga. Aku mulai terjebak dengan senyum orang itu.
Well, hingga sekarang aku masih ga bisa paham kenapa jantungku selalu berdetak lebih cepat saat melihatnya. Bukankah ini berlebihan? Cuma ngeliat doang. Kalo ngobrol langsung, aku ga bisa fokus apa yang aku obrolkan sama dia, kadang ucapanku malah terlihat konyol dan bodoh. Duh, mana Tia yang sering dibilang kritis dan pinter ngomong di kelas? Aku malah lebih sibuk menenangkan diriku agar tak terlalu kelihatan kikuk di depannya.
Otakku menyusun plus minusku dibanding dia. Aku berusaha berpikir logis dengan mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku ga pantas suka sama dia. Dia jauh lebih baik dariku dari beberapa kriteria yang kupegang. Tapi hatiku terus mengelak. Aku terus berusaha mencari-cari alasan agar aku layak untuknya. Ya Tuhan.....
Contohnya, aku sering menimbang-nimbang. Laki-laki itu berkulit lebih putih daripada aku. Hatiku membantah, cinta tak memandang warna kulit. Laki-laki itu lebih pintar dariku. Hatiku ngeles, 'bukankah memang seharusnya begitu? Laki-laki itu ganteng. Hatiku bikin alibi, 'besok kalo udah tua juga jelek'. Laki-laki itu cuma lebih tua setahun dariku. Hatiku beralasan, 'Khadijah usianya lebih tua daripada Nabi SAW'.
Sampai sekarang, aku masih ga paham kenapa aku menyukainya. Aku suka melihatnya tertawa, melihat pipinya memerah, melihatnya dengan baju hitam putih ala-ala pak guru, melihatnya garuk-garuk kepala, melihatnya menyisir rambut yang kadang dipotong mirip gondes, ngajarin aku ekonomi makro-mikro atau apaan ga jelas, teringat perdebatan-perdebatan kecil saat kita jadi panitia acara yang sama. Bahkan aku suka saat dia sekedar sms, 'kamu baik-baik aja kan de?'
Perasaan itu kadang gila. Aku masih tak bisa paham kenapa aku nyesek ngeliat dia sama cewek lain lagi bercanda. Meski aku tau itu temennya. Tapi....
Well, lebih baik biarkan semuanya mengalir. Menikah ga cuma butuh perasaan dan ga sekedar menyatukan dua insan yang kasmaran.Menikah itu ga sekedar nafkah, tapi tanggung jawab sampai akhirat.Menikah itu artinya siap hidup mandiri. Siap menerima kelebihan dan kekurangan pasangan. Sebelum nikah sih biasanya yang keliatan yang baik-baik. Abis nikah? belum tentu.Coba misal ternyata dia suka kentut sembarangan, atau kalo tidur ngiler dan ngorok?
Who knows?
buat cewek, menikah berarti tambahan pekerjaan. siap nyuciiin bajunya, siap nyuciin piringnya, siap masakin makanannya dia. semua peran yang biasa dilakuin ibunya dirumah tiba-tiba kamu ambil alih. tapi tergantung juga sih, kalo dia peka, pasti dia mau bantuin. hihi... *ini apaan sih?
Ah entahlah..... kalo boleh berharap, aku pengen jatuh cinta sama kamu mas, lagi dan lagi. Berdoa semoga kelak kita dipersatukan dalam hubungan resmi dan sah menurut agama dan negara. Hubungan yang tak lekang oleh waktu sampai di surga sana. Oke ini galau berat -,- aku bahkan baru 19 tahun :D
Ah entahlah..... kalo boleh berharap, aku pengen jatuh cinta sama kamu mas, lagi dan lagi. Berdoa semoga kelak kita dipersatukan dalam hubungan resmi dan sah menurut agama dan negara. Hubungan yang tak lekang oleh waktu sampai di surga sana. Oke ini galau berat -,- aku bahkan baru 19 tahun :D
selamat malaaaam semuanyaa... selamat sabtu malaaam... bobok nyenyak yaa... :D
Selasa, 17 Maret 2015
Insiden Sayur Kangkung
Ini adalah cerita tentang perasaan gadis belia belasan tahun yang sangat polos.
Ini adalah cerita tentang kasih sayang ibu pada anaknya.
Ini adalah cerita tentang keberanian, kenekatan, kesok-tauan yang berujung pada kelucuan.
Ini adalah cerita tentang keterampilan.
Dan ini adalah cerita tentang masak sayur kangkung yang keasinan.
Ini cerita fresh yang baru saja terjadi beberapa menit lalu. Sederhana saja. Sepulang dari kampus, gue ngerasa kelaparan tingkat dewa. Gue berharap dengan sangat sesampainya di rumah bakal ada makanan yang bisa ditelan. Ternyata gue kurang beruntung. Ibu gue belum masak. Melihat muka gue yang menderita, ibu yang cantik jelita ini menawarkan.
"Mau makan apa? bikin mie instan aja yaa? Ibu lagi males masak"
"Ogah. Masak aja buk. Aku deh yang masak"
"Yaudah itu ada kangkung. Dimasak aja"
Seketika gue melongo. Ini kepercayaan besar sobat! Sejak gue lahir di dunia ini, Ibu gue jarang percaya soal masakan ke gue. Lo tau? Rasanya dipercaya itu seneng. Pengen jingkrak-jingkrak.
Gue langsung sibuk motongin kangkung, bawang merah-putih, cabe, dst. Dengan gaya ala-ala chef profesional, gue gerakin pisau seanggun mungkin. Tapi, hasilnya bertolak belakang dengan gaya gue. Potongan bawangnya gede dan tebel-tebel. Gue frutasi. Akhirnya sekalian aja gue cacah ga jelas, yang penting hancur tuh bawang.
Well, gue mulai masang wajan di atas kompor dan menuangkan minyak. Insiden bawang gagal tadi ga cepet membuat gue putus asa. Yey. Semua bahan udah gue masukin. Untung aja, dua detik abis gue masukin kangkung ke wajan gue liat toples garam. Reflek gue nepuk jidat. Yaa Tuhan, ini belum gue kasih garam. Alhamdulillah masih bisa disusulkan.
Bau oseng mulai menyerbak. Hmm sepertinya sedap. Gue mulai senyum-senyum puas. Ternyata gue istriable jugak nih. Eh?
Taraa. Sayur kangkung mataang. Gue ambil sendok buat nyicip. Wah gue keren juga nih. Gue mulai merancang rencana buat ngefoto sayur itu dan ngaplot di facebook, twitter, line, dan ganti DP BBM.
Sayur kangkung itu menyentuh lidah gue. Yaampun ini seksi sekali. Masakan ini bakal gue kenang seumur hidup deh. *Ini lebay*. Belum ada dua detik, kesenangan itu musnah. Lidah gue mendeteksi sesuatu yang ga beres sama sayur kangkung itu. Tiga detik kemudian gue sadar.
"Asiiiiin"
Ibu gue tanya. "Lha tadi dikasih gula engga?"
Gue menggeleng. Gue baru sadar kalo garam tiga sendok teh yang gue masukin itu rasanya asin banget.
Ibu gue sibuk ngetawain gue.
"Tempenya belum digoreng?"
"Belum. Tia kapok bu, takut keasinan lagi"
Akhirnya beliau menyodorkan mi instan. "Udah bikin omelet aja sana"
Gue nyengir garuk-garuk kepala yang ga gatel dan ketawa keras-keras.
"Nah kalo ini aku bisa"
Hikmahnya:
Bener kata pepatah, bisa itu karena biasa. Kalo ga biasa masak ya gini jadinya. Nalurinya belum terasah.
Bener juga kata mas-nya, "Masak itu bisa dipelajari, dek"
Ini adalah cerita tentang kasih sayang ibu pada anaknya.
Ini adalah cerita tentang keberanian, kenekatan, kesok-tauan yang berujung pada kelucuan.
Ini adalah cerita tentang keterampilan.
Dan ini adalah cerita tentang masak sayur kangkung yang keasinan.
Ini cerita fresh yang baru saja terjadi beberapa menit lalu. Sederhana saja. Sepulang dari kampus, gue ngerasa kelaparan tingkat dewa. Gue berharap dengan sangat sesampainya di rumah bakal ada makanan yang bisa ditelan. Ternyata gue kurang beruntung. Ibu gue belum masak. Melihat muka gue yang menderita, ibu yang cantik jelita ini menawarkan.
"Mau makan apa? bikin mie instan aja yaa? Ibu lagi males masak"
"Ogah. Masak aja buk. Aku deh yang masak"
"Yaudah itu ada kangkung. Dimasak aja"
Seketika gue melongo. Ini kepercayaan besar sobat! Sejak gue lahir di dunia ini, Ibu gue jarang percaya soal masakan ke gue. Lo tau? Rasanya dipercaya itu seneng. Pengen jingkrak-jingkrak.
Gue langsung sibuk motongin kangkung, bawang merah-putih, cabe, dst. Dengan gaya ala-ala chef profesional, gue gerakin pisau seanggun mungkin. Tapi, hasilnya bertolak belakang dengan gaya gue. Potongan bawangnya gede dan tebel-tebel. Gue frutasi. Akhirnya sekalian aja gue cacah ga jelas, yang penting hancur tuh bawang.
Well, gue mulai masang wajan di atas kompor dan menuangkan minyak. Insiden bawang gagal tadi ga cepet membuat gue putus asa. Yey. Semua bahan udah gue masukin. Untung aja, dua detik abis gue masukin kangkung ke wajan gue liat toples garam. Reflek gue nepuk jidat. Yaa Tuhan, ini belum gue kasih garam. Alhamdulillah masih bisa disusulkan.
Bau oseng mulai menyerbak. Hmm sepertinya sedap. Gue mulai senyum-senyum puas. Ternyata gue istriable jugak nih. Eh?
Taraa. Sayur kangkung mataang. Gue ambil sendok buat nyicip. Wah gue keren juga nih. Gue mulai merancang rencana buat ngefoto sayur itu dan ngaplot di facebook, twitter, line, dan ganti DP BBM.
Sayur kangkung itu menyentuh lidah gue. Yaampun ini seksi sekali. Masakan ini bakal gue kenang seumur hidup deh. *Ini lebay*. Belum ada dua detik, kesenangan itu musnah. Lidah gue mendeteksi sesuatu yang ga beres sama sayur kangkung itu. Tiga detik kemudian gue sadar.
"Asiiiiin"
Ibu gue tanya. "Lha tadi dikasih gula engga?"
Gue menggeleng. Gue baru sadar kalo garam tiga sendok teh yang gue masukin itu rasanya asin banget.
Ibu gue sibuk ngetawain gue.
"Tempenya belum digoreng?"
"Belum. Tia kapok bu, takut keasinan lagi"
Akhirnya beliau menyodorkan mi instan. "Udah bikin omelet aja sana"
Gue nyengir garuk-garuk kepala yang ga gatel dan ketawa keras-keras.
"Nah kalo ini aku bisa"
Hikmahnya:
Bener kata pepatah, bisa itu karena biasa. Kalo ga biasa masak ya gini jadinya. Nalurinya belum terasah.
Bener juga kata mas-nya, "Masak itu bisa dipelajari, dek"
Minggu, 22 Februari 2015
SEDIH
Pernahkah kamu merasa terasing bahkan terperdaya oleh imajinasi yang kamu buat sendiri? Yang kau angan-angankan dengan sepenuh hati? Kalo kamu pernah, berarti kamu sama sepertiku. aku merasa terasing dan terperdaya akibat kesalahankku. Aku terlalu berimajinasi dan berangan-angan tinggi tentangmu.
Dulu kamu bilang padaku. "dek, kamu harus lanjut. siapa lagi kalo bukan kamu? kalo pengen organisasi ini lebih baik dan maju kamu harus lanjut. kalo kamu ga lanjut siapa yang bakal mengubahnya? kamu bilang sendiri kan kalo kita mau mengubah sistem, kita harus masuk ke dalamnya karena percuma kalo cuma teriak-teriak di dalem."
Aku tertunduk. Memahami kata-katamu. Aku mulai berangan-angan apa saja yang akan kulakukan saat lanjut ke organisasi.
"Tapi kak, aku lelah. Aku capek."
"Sama dek, semuanya juga gitu"
"Aku ga bisa desain"
"Memangnya kakak bisa?"
"Aku minder"
"Kita itu sama-sama belajar. Tolong dek pikirkan lagi."
Organisasi itu terancam bubar. Sakit tingkat kronis. Aku merasa bersalah. Aku langsung bertindak cepat mengonfirmasinya. Karena organisasi ini adalah organisasi yang 'penting'. Kau terus memohonku untuk lanjut. Aku semakin kasihan. Aku memutuskan untuk lanjut.
Keputusanku salah. Ternyata yang berminat sama denganku tidak ada. Artinya, aku hanya berjuang sendirian untuk melawan sistem yang sudah berjalan.
Aku meraba-raba keadaan. Aku juga hanya bisa berdoa. Berlutut di hadapan Tuhan. Meminta maaf kepada Tuhan.
"Ya Tuhan Maafkan Tia. Tolong kuatkan Tia untuk tetap di jalanMu. Kalo organisasi ini baik untukku. maka Pertahankan aku di dalamnya. Kalau tidak, maka semua terserah padaMu"
Dulu kamu bilang padaku. "dek, kamu harus lanjut. siapa lagi kalo bukan kamu? kalo pengen organisasi ini lebih baik dan maju kamu harus lanjut. kalo kamu ga lanjut siapa yang bakal mengubahnya? kamu bilang sendiri kan kalo kita mau mengubah sistem, kita harus masuk ke dalamnya karena percuma kalo cuma teriak-teriak di dalem."
Aku tertunduk. Memahami kata-katamu. Aku mulai berangan-angan apa saja yang akan kulakukan saat lanjut ke organisasi.
"Tapi kak, aku lelah. Aku capek."
"Sama dek, semuanya juga gitu"
"Aku ga bisa desain"
"Memangnya kakak bisa?"
"Aku minder"
"Kita itu sama-sama belajar. Tolong dek pikirkan lagi."
Organisasi itu terancam bubar. Sakit tingkat kronis. Aku merasa bersalah. Aku langsung bertindak cepat mengonfirmasinya. Karena organisasi ini adalah organisasi yang 'penting'. Kau terus memohonku untuk lanjut. Aku semakin kasihan. Aku memutuskan untuk lanjut.
Keputusanku salah. Ternyata yang berminat sama denganku tidak ada. Artinya, aku hanya berjuang sendirian untuk melawan sistem yang sudah berjalan.
Aku meraba-raba keadaan. Aku juga hanya bisa berdoa. Berlutut di hadapan Tuhan. Meminta maaf kepada Tuhan.
"Ya Tuhan Maafkan Tia. Tolong kuatkan Tia untuk tetap di jalanMu. Kalo organisasi ini baik untukku. maka Pertahankan aku di dalamnya. Kalau tidak, maka semua terserah padaMu"
Langganan:
Postingan (Atom)
Featured post
Khitan/ Sunat Anak di Subang
Halo semua, selamat tahun baru 2026 ya! Tahun 2025 adalah tahun yang lumayan dar der dor buat aku. Banyak pengalaman yang mendewasakanku ter...
-
Well, aku nggak mau nambahin berita buruk. Aku cuma mau cerita soal kenyataan. Tentang negeri besar yang dulu berjuluk negeri agraris, neger...
-
Kemarin kamis 19 oktober 2017 saya harus ke Kebumen untuk melaksanakan audit di cabang perusahaan. Well, kalo lewat kebumen saya setidaknya ...
-
Halo semua, selamat tahun baru 2026 ya! Tahun 2025 adalah tahun yang lumayan dar der dor buat aku. Banyak pengalaman yang mendewasakanku ter...
