Minggu, 26 April 2015

Curhat gaje -,-

Hai, aku Tia. Usiaku baru 19 tahun. Entahlah aku yang terlalu dewasa atau memang sudah saatnya aku jatuh cinta? Aku tipe perempuan yang sering berpikir logis tentang siapa laki-laki yang harus aku cintai. Eh? Aku ga berani mengatakan ini cinta ding, karena aku belum pernah mengorbankan apapun untuk laki-laki yang aku suka. Kalian pasti bingung kan dengan ceritaku diatas? Emang udah cerita? -,- Bodo lah. Sangking galaunya aku bingung mau nulis apaan.
Lulus SMK sebenarnya aku sudah bertekad untuk mengubur dalam-dalam perasaan kagum terhadap lelaki manapun. Aku ingin kagum dengan orang yang akan kunikahi suatu saat nanti pada saat yang tepat. Aku anggap itu mudah. Dengan tugas kuliah seabrek, banyaknya rapat organisasi, dan kesibukan membantu ibu dirumah akan membuatku lupa dengan hal-hal melankolis dan menye semacam itu. Kupikir itu mudah dilakukan.
Ternyata tidak. Awal aku OSPEK, godaan itu datang. Seorang laki-laki yang sama-sama maba titip salam lewat temanku. Ganteng sih. Tapi aku mengeyahkan laki-laki itu dari pikiran dengan alasan aku ga pantas dan dia jauh diatas. Otakku menyusun list plus minusku dibanding dia dengan cepat. Hasilnya kupaksakan aku yang minus dengan tujuan agar aku ga keGRan. Lagian saat aku ketemu dia rasanya biasa aja. Dunia tetap memutari matahari dan jantungku berdetak normal. Berarti it's okay, aku ga ada chemistry sama dia. 
Semester dua dan semester tiga kulalui dengan biasa aja. Semester tiga? Tunggu. Ada yang kacau di akhir semester tiga. Aku mulai terjebak dengan senyum orang itu. 
Well, hingga sekarang aku masih ga bisa paham kenapa jantungku selalu berdetak lebih cepat saat melihatnya. Bukankah ini berlebihan? Cuma ngeliat doang. Kalo ngobrol langsung, aku ga bisa fokus apa yang aku obrolkan sama dia, kadang ucapanku malah terlihat konyol dan bodoh. Duh, mana Tia yang sering dibilang kritis dan pinter ngomong di kelas? Aku malah lebih sibuk menenangkan diriku agar tak terlalu kelihatan kikuk di depannya.
Otakku menyusun plus minusku dibanding dia. Aku berusaha berpikir logis dengan mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku ga pantas suka sama dia. Dia jauh lebih baik dariku dari beberapa kriteria yang kupegang. Tapi hatiku terus mengelak. Aku terus berusaha mencari-cari alasan agar aku layak untuknya. Ya Tuhan.....
Contohnya, aku sering menimbang-nimbang. Laki-laki itu berkulit lebih putih daripada aku. Hatiku membantah, cinta tak memandang warna kulit. Laki-laki itu lebih pintar dariku. Hatiku ngeles, 'bukankah memang seharusnya begitu? Laki-laki itu ganteng. Hatiku bikin alibi, 'besok kalo udah tua juga jelek'. Laki-laki itu cuma lebih tua setahun dariku. Hatiku beralasan, 'Khadijah usianya lebih tua daripada Nabi SAW'. 
Sampai sekarang, aku masih ga paham kenapa aku menyukainya. Aku suka melihatnya tertawa, melihat pipinya memerah, melihatnya dengan baju hitam putih ala-ala pak guru, melihatnya garuk-garuk kepala, melihatnya menyisir rambut yang kadang dipotong mirip gondes, ngajarin aku ekonomi makro-mikro atau apaan ga jelas, teringat perdebatan-perdebatan kecil saat kita jadi panitia acara yang sama. Bahkan aku suka saat dia sekedar sms, 'kamu baik-baik aja kan de?' 
Perasaan itu kadang gila. Aku masih tak bisa paham kenapa aku nyesek ngeliat dia sama cewek lain lagi bercanda. Meski aku tau itu temennya. Tapi....
 Well, lebih baik biarkan semuanya mengalir. Menikah ga cuma butuh perasaan dan ga sekedar menyatukan dua insan yang kasmaran.Menikah itu ga sekedar nafkah, tapi tanggung jawab sampai akhirat.Menikah itu artinya siap hidup mandiri. Siap menerima kelebihan dan kekurangan pasangan. Sebelum nikah sih biasanya yang keliatan yang baik-baik. Abis nikah? belum tentu.Coba misal ternyata dia suka kentut sembarangan, atau kalo tidur ngiler dan ngorok?
Who knows?
buat cewek, menikah berarti tambahan pekerjaan. siap nyuciiin bajunya, siap nyuciin piringnya, siap masakin makanannya dia. semua peran yang biasa dilakuin ibunya dirumah tiba-tiba kamu ambil alih. tapi tergantung juga sih, kalo dia peka, pasti dia mau bantuin. hihi... *ini apaan sih?
Ah entahlah..... kalo boleh berharap, aku pengen jatuh cinta sama kamu mas,  lagi dan lagi. Berdoa semoga kelak kita dipersatukan dalam hubungan resmi dan sah menurut agama dan negara. Hubungan yang tak lekang oleh waktu sampai di surga sana. Oke ini galau berat -,- aku bahkan baru 19 tahun :D
selamat malaaaam semuanyaa... selamat sabtu malaaam... bobok nyenyak yaa... :D

Selasa, 17 Maret 2015

Insiden Sayur Kangkung

Ini adalah cerita tentang perasaan gadis belia belasan tahun yang sangat polos.
Ini adalah cerita tentang kasih sayang ibu pada anaknya.
Ini adalah cerita tentang keberanian, kenekatan, kesok-tauan yang berujung pada kelucuan.
Ini adalah cerita tentang keterampilan.
Dan ini adalah cerita tentang masak sayur kangkung yang keasinan. 


Ini cerita fresh yang baru saja terjadi beberapa menit lalu. Sederhana saja. Sepulang dari kampus, gue ngerasa kelaparan tingkat dewa. Gue berharap dengan sangat sesampainya di rumah bakal ada makanan yang bisa ditelan. Ternyata gue kurang beruntung. Ibu gue belum masak. Melihat muka gue yang menderita, ibu yang cantik jelita ini menawarkan.


"Mau makan apa? bikin mie instan aja yaa? Ibu lagi males masak"
"Ogah. Masak aja buk. Aku deh yang masak"
"Yaudah itu ada kangkung. Dimasak aja"


Seketika gue melongo. Ini kepercayaan besar sobat! Sejak gue lahir di dunia ini, Ibu gue jarang percaya soal masakan ke gue. Lo tau? Rasanya dipercaya itu seneng. Pengen jingkrak-jingkrak.


Gue langsung sibuk motongin kangkung, bawang merah-putih, cabe, dst. Dengan gaya ala-ala chef profesional, gue gerakin pisau seanggun mungkin. Tapi, hasilnya bertolak belakang dengan gaya gue. Potongan bawangnya gede dan tebel-tebel. Gue frutasi. Akhirnya sekalian aja gue cacah ga jelas, yang penting hancur tuh bawang.


Well, gue mulai masang wajan di atas kompor dan menuangkan minyak. Insiden bawang gagal tadi ga cepet membuat gue putus asa. Yey. Semua bahan udah gue masukin. Untung aja, dua detik abis gue masukin kangkung ke wajan gue liat toples garam. Reflek gue nepuk jidat. Yaa Tuhan, ini belum gue kasih garam. Alhamdulillah masih bisa disusulkan.


Bau oseng mulai menyerbak. Hmm sepertinya sedap. Gue mulai senyum-senyum puas. Ternyata gue istriable jugak nih. Eh?


Taraa. Sayur kangkung mataang. Gue ambil sendok buat nyicip. Wah gue keren juga nih. Gue mulai merancang rencana buat ngefoto sayur itu dan ngaplot di facebook, twitter, line, dan ganti DP BBM.


Sayur kangkung itu menyentuh lidah gue. Yaampun ini seksi sekali. Masakan ini bakal gue kenang seumur hidup deh. *Ini lebay*. Belum ada dua detik, kesenangan itu musnah. Lidah gue mendeteksi sesuatu yang ga beres sama sayur kangkung itu. Tiga detik kemudian gue sadar.


"Asiiiiin"




Ibu gue tanya. "Lha tadi dikasih gula engga?"
Gue menggeleng. Gue baru sadar kalo garam tiga sendok teh yang gue masukin itu rasanya asin banget.


Ibu gue sibuk ngetawain gue.
"Tempenya belum digoreng?"
"Belum. Tia kapok bu, takut keasinan lagi"


Akhirnya beliau menyodorkan mi instan. "Udah bikin omelet aja sana"
Gue nyengir garuk-garuk kepala yang ga gatel dan ketawa keras-keras.
 "Nah kalo ini aku bisa"


Hikmahnya:
Bener kata pepatah, bisa itu karena biasa. Kalo ga biasa masak ya gini jadinya. Nalurinya belum terasah.
Bener juga kata mas-nya, "Masak itu bisa dipelajari, dek"

Minggu, 22 Februari 2015

SEDIH

Pernahkah kamu merasa terasing bahkan terperdaya oleh imajinasi yang kamu buat sendiri? Yang kau angan-angankan dengan sepenuh hati? Kalo kamu pernah, berarti kamu sama sepertiku. aku merasa terasing dan terperdaya akibat kesalahankku. Aku terlalu berimajinasi dan berangan-angan tinggi tentangmu.

Dulu kamu bilang padaku. "dek, kamu harus lanjut. siapa lagi kalo bukan kamu? kalo pengen organisasi ini lebih baik dan maju kamu harus lanjut. kalo kamu ga lanjut siapa yang bakal mengubahnya? kamu bilang sendiri kan kalo kita mau mengubah sistem, kita harus masuk ke dalamnya karena percuma kalo cuma teriak-teriak di dalem."

Aku tertunduk. Memahami kata-katamu. Aku mulai berangan-angan apa saja yang akan kulakukan saat lanjut ke organisasi.
"Tapi kak, aku lelah. Aku capek."
"Sama dek, semuanya juga gitu"
"Aku ga bisa desain"
"Memangnya kakak bisa?"
"Aku minder"
"Kita itu sama-sama belajar. Tolong dek pikirkan lagi."

Organisasi itu terancam bubar. Sakit tingkat kronis. Aku merasa bersalah. Aku langsung bertindak cepat mengonfirmasinya. Karena organisasi ini adalah organisasi yang 'penting'. Kau terus memohonku untuk lanjut. Aku semakin kasihan. Aku memutuskan untuk lanjut.

Keputusanku salah. Ternyata yang berminat sama denganku tidak ada. Artinya, aku hanya berjuang sendirian untuk melawan sistem yang sudah berjalan.
Aku meraba-raba keadaan. Aku juga hanya bisa berdoa. Berlutut di hadapan Tuhan. Meminta maaf kepada Tuhan.

"Ya Tuhan Maafkan Tia. Tolong kuatkan Tia untuk tetap di jalanMu. Kalo organisasi ini baik untukku. maka Pertahankan aku di dalamnya. Kalau tidak, maka semua terserah padaMu"

Kamis, 11 Desember 2014

kalut-dunno what i write

ada suatu waktu dimana aku terpaksa menyesali apa yang tidak ingin ku sesali.
terpaksa membenci apa yang ku cintai.
terpaksa menjauh dari apa yang ingin ku dekati.
sungguh, aku hanya ingin kalian tau, aku mencintai kalian dengan caraku.
maka aku tidak ingin membebani kalian dengan ketidakmampuanku.
untuk menggambar dan mendesain gambar saja aku tidak bisa.
aku hanya bisa menulis. Pun aku bukan penulis kawakan bak Asma Nadia.
aku hanya bisa menulis isi hatiku, dengan katakataku. dengan caraku.


aku individu yang punya cita-cita. punya impian.
meski secara organisatoris aku berada di bawah kendali kalian, tapi hati dan pikiranku tetap milikku. Ada satu hal lagi yang tak bisa kalian renggut dariku. Harapan. Aku punya harapan untuk diriku sendiri, untuk keluargaku, untuk masa depanku.


Jalan yang kalian memang jalan indah menuju surga, tapi aku jika aku ingin melewati jalan lainnya..boleh kan?


aku lebih suka menenggelamkan diri dalam buku-buku lautan ilmu, menghadiri seminar-seminar sebagai peserta atau bahkan pembicara dan bukan sebagai panitia.
berdiskusi dengan teman-teman. menemani anak-anak tertawa riang. membagi pengalaman dengan pak heru, pak deni, pak siyam, mbak mei, miss ambar, om dwi, pak har. memotivasi pelajar SMK yang mengais puing-puing kebahagiaannya.


mungkin aku egois, meninggalkan medan perang untuk kepentingan diriku sendiri. aku minta maaf.
aku sungguh tak bermaksud begitu :'(


catatan ini dibuat dengan sok puitisnya. menggambarkan hati yang sedang kalut.
planning masa depan sudah saya buat. dan saya ingin merealisasikannya.
kalau kalian bilang hanya setahun. setahun itu lama. setahun bisa menghasilkan 26 sertifikat bagiku. bagiku? ah egoisnya diriku.


yaAllah, ampuni tia. maafin segala kekhilafan tia :'(

Selasa, 02 Desember 2014

PENDIDIK MENGABDI


Pemerintahan baru di bawah Jokowi-JK memberlakukan moratorium pengadaan CPNS sampai 5 tahun. Akan tetapi kita menjumpai kenyataan bahwa jumlah guru masih kurang.


Ada dua hal yang menjadi fokus dalam bahasan ini.

1. Moratorium pengadaan CPNS sampai 5 tahun.

2. Jumlah guru masih kurang.

 

Moratorium pengadaan CPNS dilakukan untuk mengevaluasi kinerja PNS yang sudah ada. Data yang beredar dalam berita, PNS di Indonesia berjumlah mencapai 4,6 juta,dengan anggaran belanja pegawai mencapai lebih dari 40%. Selain itu, persebaran PNS tidak merata. Pemerintah, perlu menghitung rasio yang tepat antara kebutuhan PNS dengan jumlah penduduk Indonesia yang perlu di layani.

 

Ironisnya, bidang pendidikan masih membutuhkan banyak tenaga pendidik (guru). Sebuah harian lokal di provinsi Jawa Timur menyebutkan adanya kekurangan guru sebanyak 437 orang di kota malang. Itu yang terjadi di pulau Jawa. Di Kabupaten Simalungun Sumatera Utara misalnya, kebutuhan guru mencapai sekitar tiga ribu orang.

 

Pertanyaannya, apakah moratorium CPNS akan tetap diberlakukan sampai lima tahun mendatang, sedangkan jumlah guru masih kurang?

 

Dikutip dari jpnn.com, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan ‎Reformasi Birokrasi (Menpan-RB), menyampaikan bahwa moratorium pengadaan CPNS tidak akan diberlakukan untuk tenaga medis dan pendidik, mengingat jumlah kebutuhan untuk tenaga-tenaga tersebut masih sangat banyak.

 

Kondisi perekonomian guru non PNS di Indonesia sangat mengenaskan. Banyak guru Honorer yang hanya bergaji 300 ribu rupiah perbulan. Ditengah fluktuatifnya harga sembako dan BBM, ini bukan sesuatu yang bagus dan cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

 

Hal tersebut berbanding terbalik dengan guru yang berstatus PNS. Apalagi ketika mereka sudah bersertifikasi sehingga mendapat Tunjangan Profesi Guru (TPG). Setiap bulan, mereka bisa mengais pendapatan berjuta rupiah, apalagi untuk guru yang sudah mencapai golongan tinggi, IV a misalnya.

 

Sebenarnya CPNS bukan satu-satunya harapan guru di Indonesia. Banyak progran-program yang di adakan oleh pemerintah untuk membantu perekonomian guru-guru honorer atau Guru Tidak Tetap (GTT). Contohnya;

 

1. Tunjangan Fungsional.

Meski jumlahnya terhitung tidak seberapa, namun cukup membantu. Hanya saja, untuk mendapatkan tunjangan ini, seorang guru dipersyaratkan memiliki masa bakti selama minimal dua tahun.

 

2. Tunjangan Profesi Guru (TPG).

Tunjangan ini hanya bisa didapat oleh guru yang memiliki sertifikat pendidik.

 

3. Inpassing

Program ini menyetarakan guru honorer/GTT dengan PNS. Guru, minimal harus berpendidikan S1/D IV

 

Program Kementrian Pendidikan untuk perguruan tingi yang berbasis LPTK pun sudah banyak membantu mengentaskan daerah terpencil dari kekurangan guru, contohnya Program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T)

 

Kesimpulan:

1. Saya yakin bahwa program moratorium pengadaan CPNS ini TIDAK AKAN BERPENGARUH NEGATIF BAGI GURU, Menpan-RB pun telah menyampaikan tidak berlakunya moratorium bagi Guru dan tenaga medis.

 

2. Guru-guru harus pintar melihat peluang yang ada pada program-program pemerintah selain perekrutan CPNS. Guru juga harus pandai berwirausaha untuk menambah penghasilan.

 

3. Selain dua hal tersebut, perguruan tinggi yang berbasis LPTK pun sudah banyak yang mengirimkan mahasiswanya mengajar di daerah pelosok, dengan mengikuti program SM3T. Sehingga masyarakat tidak perlu takut kekurangan tenaga pendidik.

 

Menjadi pendidik hakikatnya adalah mengabdi, namun desakan kebutuhan perut pun tak bisa dihindari. Untuk itu, kinerja dari lembaga lain pun dibutuhkan, misal, bagaimana cara Bank Indonesia meminimalisir inflasi bahan kebutuhan pokok, bagaimana Kementrian menyubsidi biaya kesehatan untuk rakyat, dsb. Sehingga siapapun yang hidup di negeri ini tidak khawatir, meski penghasilannya hanya secuil kuku ibu jari.

Senin, 17 November 2014

INS-PI-RA-SI

Di suatu siang, seorang kakak tingkat kampus menyapaku. Setelah basa-basi beberapa lama, beliau mengutarakan kekagumannya pada beberapa catatan akun facebookku. Yang menarik adalah ketika beliau bertanya, "kamu dapet inspirasi darimana, dek?"
Aku hanya tertawa kecil menanggapi pertanyaan itu. Agak bingung juga sih.


Terkait soal inspirasi, ada beberapa hal menarik yang kupikirkan, diantaranya:


1. Inspirasi itu mahal.
Begitu mahalnya sebuah inspirasi hingga siapapun rela membayar mahal. Artis sekaligus penulis buku, Oki Setiana Dewi mendapat honor sekitar empat juta rupiah bahkan lebih, untuk satu jam berbicara di seminar. Justin Bieber, Selena Gomez, sampai fouder facebook Mark Zuckerberg berubah menjadi milyarder-milyarder muda berkat kreativitas dan inspirasi yang mereka dapatkan.


2. Inspirasi bisa datang dimanapun, kapanpun, dan pada siapapun.
Hal yang perlu disadari adalah inspirasi bisa datang dimanapun, kapanpun, dan kepada siapapun. Archimedes mendapat inspirasi saat sedang mandi berendam. Newton menemukan hukum gravitasi terinspirasi dari apel yang jatuh dari pohon. Ibnu Hajar pun mendapatkan kembali semangatnya saat terispirasi tetesan air yang melubangi batu. Itu menunjukkan bahwa inspirasi adalah anugrah Tuhan yang universal, siapapun bisa mendapatkannya.


3. Tulislah inspirasi yang muncul.
Hal ini yang  sering saya sesali. Inspirasi kadang muncul pada situasi yang kurang memungkinkan saya untuk langsung menulisnya. Padahal itu penting, karena kadang inspirasi hanya muncul sebentar saja dan inspirasi yang muncul dari ingatan kadang tak sebagus inspirasi atau ide yang muncul pertama kali.


4. Inspirasi bisa dicari.
Kalau inspirasi tak kunjung muncul, maka carilah. Travel arround the world. If you have no money, you can go to the library and read the books.
Kalaupun bosan di perpustakaan, jalan-jalanlah di sekitar kampus maupun di lingkungan rumah. Berbincang dengan tukang parkir, cleaning service dan orang-orang sekitar kita. Inspirasi bisa datang dari hal-hal kecil seperti itu. It's time to say eureka...eureka :)


Nah, itu tadi sedikit ulasan tentang inspirasi. Semoga bermanfaat.

Selasa, 19 Agustus 2014

Posesif

"oke, " Tisa mengangguk.
Satya tersenyum bahagia. Akhirnya setelah sekian lama naksir dan diam diam suka, perempuan satu ini resmi menjadi pacarnya.

Pacar? Sebenarnya  Satya belum tahu apa tujuannya memiliki pacar. Sebagai seorang anak berusia tujuh belas tahun, Satya tergolong polos dan lugu. Bahkan keputusannya untuk 'menembak' Tisa pun hasil desakan Faris temen terdekatnya.
"Selama tujuh belas tahun kamu idup, kamu belum pernah suka sama cewek selain Tisa?" Mata Faris membulat. "Serius?"
Tentu saja Faris heran. Sebagai anak seorang anggota DPR, Satya cukup populer di sekolah. Badan Satya yang tinggi dengan berat badan proporsional ala atlet taekwondo membuatnya terlihat sangat macho. Belum lagi hidung yang mancung, alis yang tebal dan matanyanya yang tajam bak elang sering kali membuat teman-teman perempuannya selalu blushing duluan saat ditatap Satya. Hanya ditatap Satya.

"Sat, papaku telpon, tante Erin mau ke rumah, aku pulang dulu ya?" Tisa mengembalikan Satya ke alam sadar.
"Oh oke, sampai ketemu besok, sa-yang," Satya mengusap tengkuknya sendiri perlahan, gugup karena tak terbiasa mengucapkan kata 'sayang'.
Tisa tersenyum manis sebelum mengayuh sepedanya keluar dari gerbang sekolah.

Setau Satya, teman-temannya yang punya pacar biasanya mengganti nama pacar mereka dengan 'sayang'. Entahlah apa alasannya. Selain itu, teman-teman Satya juga akan menghabiskan waktu istirahat dengan makan semeja berdua dengan pacarnya di kantin sekolah. Pertanyaannya, apakah Satya bisa mengikuti gaya teman-temannya saat pacaran? Satya ragu.

Satya keluar dari gerbang sekolah. Perasaanya campur aduk antara bahagia dan aneh. Bahagia tentu saja karena Tisa ternyata juga menyukainya. Tapi anehnya Satya merasa asing dengan dunianya saat ini. Pacaran? Satya bahkan tak tau apa yang dikerjakan orang pacaran. Ah sudahlah, nanti aku tanya ke Faris. Satya menghibur dirinya.

*****

"Pokoknya enggak. Emang partner debate kamu cuma Salsa? Protes ke Miss Lia dong. Atau kamu jangan-jangan cuma pengen ngambil kesempatan berduaan sama Salsa? Ya kan?"

Satya memijit pelipisnya. Lama-lama ia merasa pusing mendengar omelan Tisa yang panjang lebar. Sebulan lagi ia harus mengikuti debat bahasa inggris sebagai perwakilan sekolah. Miss Lia sebagai guru pembimbing menunjuk Salsa sebagai partner debat nya. Sayangnya Tisa bukan membantunya tapi membuat Satya Stress. Tisa sering menungguinya latihan hanya karena cemburu dan takut Satya akan jatuh cinta pada Salsa. Padahal latihan selalu diadakan di kantor guru dan dibimbing oleh Miss Lia langsung. Kalo dinalar, mana mungkin Satya dan Salsa akan berbuat aneh-aneh?

Satya merasa sudah bersikap terlalu profesional terhadap Salsa. Demikian juga Salsa. Salsa sangat menjaga jarak dengan Satya. Tapi hal tersebut rupanya tidak cukup bagi Tisa. Ia terus menerus memandang Salsa selama latihan untuk memastikan Satya tak akan jatuh cinta pada Salsa. Posesif sekali.

*****

"Satya, mungkin kamu kaget mendapat panggilan pribadi dari bapak," Pak Ahmad, Kepala Sekolah SMA 1 menyilakan Satya duduk.
"em iya Pak." Satya mengangguk sopan.
"Maaf Satya, Bapak tidak seharusnya mengagetkanmu seperti ini"
Satya tersenyum tenang.
"Bapak ingin bicara tentang kamu dan Tisa." Pak Ahmad berhenti, mencoba menebak-nebak reaksi Satya. "Bapak tidak ingin mencampuri urusan pribadimu sebenarnya."
Satya mulai paham kemana arah pembicaraan Pak Ahmad.
"Begini Sat, Miss Lia melapor, menurut beliau kamu akhir-akhir ini terlihat kurang nyaman saat latihan debat dengan Salsa."
"Miss Lia benar Pak."
"Lalu?"
"Saya telah berjanji kepada diri saya sendiri untuk setia, sama Tisa."
Pak Ahmad terlihat geli. "Kamu yakin sama janjimu Sat? Seberapa banyak kamu tau tentang kesetiaan?"
Satya menatap pak Ahmad bingung.
"Nak, Pacaran itu tidak pernah mengandung kesetiaan. It's nonsense." Pak Ahmad menarik nafas perlahan. "Apa selama 24 Tisa terus bersamamu? Memberimu makan tiap hari? Membereskan rumahmu saat berantakan? Mencucikan bajumu?
Nak, Setia sangat sempit untuk sekedar dimaknai dengan menunggu mu latihan Bahasa Inggris. Apalagi sekedar SMSan atau teleponan tiga kali sehari. Itu akan sangat jauh jika dibandingkan dengan kesetiaan matahari menjalankan titah Tuhannya untuk terus menyinari alam semesta. "
"Tapi matahari bukan manusia, pak." Suara Satya terdengar memprotes.
"Bagaimana dengan kesetiaan Nabi Muhammad SAW? Saat Paman beliau menyuruh untuk berhenti mengajak orang kafir quraisy masuk islam apa jawaban beliau? Bahkan jika matahari diletakkan ditangan kanan dan bulan di tangan kiri beliau takkan menghentikan Nabi untuk menaati Tuhannya. Setia pada Tuhannya untuk menyebarkan islam."
Kantor kepala sekolah hening sesaat.
"Kesetiaan selalu membutuhkan banyak pengorbanan. Dihina, dituduh sebagai tukang sihir, dan macam-macam hal buruk diterima Nabi Muhammad SAW sebagai akibat dari kesetiaan beliau. Tetapi Tuhan Nabi  Muhammad, Tuhan kita, tidak pernah membiarkan pengorbanan hambaNya sia-sia. Anugerah apa lagi yang lebih indah selain dijamin masuk surga? Sungguh , Nabi Muhammad adalah sebaik-baik hamba yang setia." Pak Ahmad tersenyum tulus ketika mengakhiri kalimatnya.
"Tapi apakah janji saya untuk setia pada Tisa itu salah?"
"Apakah kamu yakin Tisa akan memberikan balasan yang cukup atas kesetiaanmu? Kamu yakin Tisa akan setia juga sama kamu?
Sat, dengan sikap Tisa yang selalu menungguimu latihan bahasa inggris menunjukkan bahwa Tisa tidak mempercayaimu. Apa kamu yakin Sat, tidak akan sakit hati ketika tidak dipercayai oleh pacarmu sendiri?"
Satya membenarkan perkataan pak Ahmad dalam hati.
"Sat, Bapak boleh tau manfaat apa yang kamu dapat dari statusmu sebagai pacar Tisa?"

Sejujurnya Satya tidak tahu apa gunanya pacaran. Selama ini Satya hanya bersikap biasa layaknya teman. Mungkin perbedaannya HP Satya semakin ramai. Mulai dari sms sudah makan belum, makan pake apa, buruan mandi, lagi dimana, sama siapa, acara apa, dsb. Belum lagi kalau Satya lupa membalas sms omelan sampai pertanyaan 'kamu udah ga sayang sama aku lagi ya?' pasti akan menumpuk di Inboknya.
Lalu manfaatnya apa? Pulsa tambah boros? Atau harus rela mentraktir Tisa seminggu sekali di kantin?
Satya rasa bukan itu manfaatnya.

*****

"Tis, kita udahan yuk?"
"Udahan apanya?" Tisa menatap Satya dengan pandangan menyelidik.
Satya menunduk. Hening. "Udahan pacarannya."
Tisa terbelalak.
"Iya Tis, kita udahan aja pacarannya. Biar nanti kalo kita nikah, Allah lebih ridho"

Entah kekuatan apa yang datang menyambar pemikirannya saat di kantor pak Ahmad kemarin hingga ia bisa mengucapkan hal itu di depan Tisa. Satya tahu Tisa pasti merasa sakit dengan keputusannya. Mungkin Tisa juga akan menangis kecewa.Tapi yang Satya tau, ada kelegaan tersendiri yang menelusup dalam jiwa saat Satya berhasil mengungkapkan itu.

Satya hanya berharap, semoga suatu saat Tisa juga akan merasakan kelegaan itu di hatinya. Soal jodoh, biarlah Allah yang mengatur. Allah punya 7 milyar  manusia di bumi, tentu mempertemukan Satya dan Tisa kembali adalah hal yang sepele bukan?

Featured post

Khitan/ Sunat Anak di Subang

Halo semua, selamat tahun baru 2026 ya! Tahun 2025 adalah tahun yang lumayan dar der dor buat aku. Banyak pengalaman yang mendewasakanku ter...